Jangan Biarkan Dia Cemburu!!

Dalam kitab Riyadussholihin bab Muraqabah dibahas tentang hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

Sesungguhnya Allah pencemburu, dan kecemburuan Allah ketika seorang mukmin melakukan perkara yang Allah haramkan (HR. Bukhari)

Berkaitan dengan hadits ini, para ulama menyebutkan kecemburuan Allah teramat besar, melebihi kecemburuan seseorang ketika istrinya berdua-duaan dengan lelaki lain.

Dalam suatu hadits lain yang masyhur diceritakankan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya tentang kecemburuan mereka jika ada lelaki laki bersama istri mereka, maka Sa’ad bin Ubadah mengatakan,

لَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ

Jika aku melihat lelaki bersama istriku maka akan aku pukul dengan pedang.

Mendengar ucapan tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ ، وَاللَّهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللَّهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Apakah kalian takjub dengan kecemburuannya Sa’ad, demi Allah sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku, dan sebab cemburunya Allah ketika dilakukan kejelekan yang nampak atau tersembunyi (HR. Muslim)

Atau dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan seperti hadits di atas,

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّه

Sesungguhnya Allah pencemburu, dan kecemburuan Allah ketika seorang mukmin melakukan perkara yang Allah haramkan (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, seorang mukmin akan senantiasa berhati-hati dari dosa. Ia takut melakukan maksiat kepada Allah ta’ala, apalagi melakukan perkara yang bisa menjatuhkannya pada kesyirikan.

Ia tahu bahwa syirik merupakan kedholiman yang besar dan termasuk di antara dosa yang tidak diampuni jika seseorang meninggal masih dalam keadaan belum bertaubat dari dosa syiriknya. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya kesyirikan adalah kedholam yang besar (Q.S. Lukman: 13)

Atau dalam surat lain, Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni yang selain itu bagi siapa yang Ia kehendaki, barang siapa yang melakukan kesyirikan pada Allah maka sungguh ia telah jatuh kepada dosa yang besar (Q.S. Annisa: 48)

Amalan lahir dan bathinnya senantiasa ia arahkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala. Ia terus belajar agar mengenal Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan belajar menata hati supaya senantiasa ikhlas pada amalannya.

Ia pun hanya sibuk dengan perkara-perkara kebaikan yang akan bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya. Bahkan tidak cukup untuk kebaikan dirinya sendiri, tetapi ia pun ikut cemburu ketika melihat masih banyak diantara umat ini yang masih melakukan kemaksiatan. Ia betul-betul menyadari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman (HR. Bukhari)

Ia paham bahwa jika ia tidak mau berdakwah, maka niscaya Allah ta’ala juga akan memberikan fitnah kepada mereka orang-orang yang baik secara individu tadi. Hal ini sesuai firman Allah ta’ala,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan takutlah kepada fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang dholim di antara kalian saja, ketahuilah sesungguhnya Allah mempunyai hukuman yang keras (Q.S. Al Anfal:25)

Akhirnya ketika berdoa kepada Allah ta’ala, semoga sifat cemburu Allah ini menjadikan diri kita senantiasa berada dalam ketaatan dan takut melakukan kemaksiatan. Jangan sampai kita membuat Dia cemburu!!.Aamin.

 

Malang, 10 Oktober 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response