Ganjaran Yang Anaknya Meninggal Saat Kecil

Pagi ini kami cukup terkejut mendengar berita jika ada salah seorang rekan kerja yang baru melahirkan beberapa hari yang lalu, ternyata bayinya sudah tidak ada. Padahal berita kelahiran beliau merupakan penantian yang selama ini sudah lama ditunggu.

Kami dan istri pun sebenarnya sudah merencanakan untuk mengunjungi beliau. Namun karena beberapa kesibukan sampai sekarang belum sempat, dan sudah mendapatkan berita ini.

Karena itu, pada kesempatan ini, sebagai bentuk empati kami atas apa yang beliau alami, sedikit kami tulisankan beberapa kajian para ulama tentang musibah yang beliau alami, mendapatkan musibah anak meninggal saat kecil, bahkan bayi.

Mudah-mudahan beliau termasuk di antara orang-orang yang sabar, demikian juga dengan orang-orang yang mempunyai pengalaman yang sama.

Sebenarnya sudah banyak kitab yang membahas tentang pentingnya kesabaran dan keutamaan sabar dalam hidup kita. Allah ta’ala bagi mereka yang sabar akan memberikan pahala yang tidak terhitung, karena kesabaran membutuhkan perjuangan dan bukan perkara mudah.

Apalagi bagi mereka yang Allah ta’ala uji dengan kematian dari anak yang mereka sayangi. Sementara sudah jelas bahwa merupakan fitnah bagi kita untuk mencintai anak-anak kita.

Namun bagaimana pun juga, seorang mukmin harus meyakini bahwa semua yang kita miliki hakikatnya adalah milik Allah, dan suatu saat semua akan kembali kepada pemiliknya. Bagi orang yang seperti ini, Allah ta’ala memberikan kabar gembira, sebagaimana firman-Nya,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Berikanlah kabar gembira pada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka orang-orang yang ditimpakan suatu musibah, kemudian mengatakan kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Merekalah orang-orang yang mendapatkan sholawat dari Rabb mereka, rahmat, dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk (Q.S. Al Baqarah: 155-157)

Bukan hanya mendapatkan sholawat, rahmat dan petunjuk, bahkan mereka termasuk di antara orang-orang yang dicintai oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِين

Dan Allah mencintai mereka orang-orang yang sabar (Q.S. Al Imran: 146)

Pada satu sisi, ketika mendapatkan musibah seperti ini tentu secara fitrah kita bersedih. Namun seorang mukmin tidak boleh larut dalam perasaannya. Ia harus meyakini bahwa pada setiap apa yang Allah ta’ala tentukan, pasti ada hikmah besar yang tersimpan.

Dengan kematian anak yang belum baligh misalnya, jika orang tuanya sabar menerima ujiannya ini, niscaya Allah ta’ala menjadikannya sebagai jaminan bagi kedua orang tuanya di surga.

مَا مِنْ النَّاسِ مُسْلِمٌ يَمُوتُ لَهُ ثَلَاثَةٌ مِنْ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

Tidaklah seorang muslim yang ditinggal wafat oleh tiga orang anaknya yang belum baligh kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga karena keutamaan rahmat-Nya kepada mereka. (HR. Bukhari)

Bagaimana jika anak yang meninggal hanya satu?. Maka dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من دفن ثلاثة فصبر عليهم واحتسب وجبت له الجنة، فقالت أم أيمن: أو اثنين؟ فقال: أو اثنين. فقالت: وواحد؟ فسكت ثم قال: وواحد

Barangsiapa yang dikebumikan tiga orang anaknya, kemudian dia dalam kesabaran, maka wajib atasnya syurga. Ummul Aiman berkata atau dua? Rasulullah SAW bersabda atau dua. Ummul Aiman berkata lagi atau satu? Rasulullah SAW bersabda atau satu (HR. Tabrani)

Demikian juga, jika orang tuanya bersabar, niscaya Allah ta’ala akan mengganti dengan anak lain yang lebih sholeh/ah. Dari Ummu Salama, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ ( إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ) اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Tidaklah seorang muslim ditimpahkan suatu musibah, kemudia ia mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah ta’ala, sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, ya Allah berikan pahala pada musibahku dan gantikan untukku dengan sesuatu yang lebih baik, kecuali Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Maka ketika meninggal Abu Salamah, aku pun mengatakan siapa muslim yang lebih baik daripada Abu Salamah, termasuk di antara orang yang awal berhijrah pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku mengatakan apa yang diperintahkan. Allah ta’ala akhirnya menggantikannya untukku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (HR.Muslim)

Demikianlah janji Allah dan Rasulullah yang pasti benar. InsyaAllah dengan setiap musibah dan kesulitan seorang mukmin, Allah akan memberikan kebaikan berlipat. Kuncinya hanya pada kita, bersabar atau tidak.

Semoga kita semua termasuk di antara orang-orang yang sabar atas segala apa yang Allah ta’ala timpakan pada kita. Aamin.

 

Malang, 3 Juni 2017

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response