Agar Selamat Di Zaman Fitnah

[wpdevart_like_box profile_id=”” connections=”6″ width=”300″ height=”550″ header=”0″ locale=”en_US”]Dua kali sholat Jumat di Islamic Centre, kota Trento, kami mendapatkan materi khutbah yang sangat menggugah. Pada jumat tiga hari yang lalu, khotib menganggap topik tentang fitnah akhir zaman yang menurut kami sangat sesuai untuk konteks masa kini.

Untuk itu, pada kesempatan ini akan kami coba untuk berbagi sedikit ringkasan dari materi khutbah tersebut, agar kiranya bisa memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.

Di awal khutbah, khotib mengulas tentang kerapuhan moral masyarakat di berbagai belahan dunia pada umumnya, termasuk di dunia Islam. Apalagi di barat yang mana mereka sudah mulai semakin meninggalkan keyakinan akan adanya Tuhan.

Di zaman ini menurutnya, manusia dengan mudahnya saling menghibah, memfitnah, dan membunuh antara satu dengan lainnya. Nilai-nilai di tengah masyarakat sudah dijungkir balikkan oleh pemberitaan media yang seringkali menyampaikan kebenaran sebagai kesalahan, atau pun sebaliknya.

Akhirnya, kebenaran pun terkesan menjadi sesuatu yang relatif. Perpecahan di antara sesama umat Islam mulai terjadi dan kemuliaan Islam pun ternodai oleh perbuatan sebagian kaum muslimin yang tidak Islami.

Namun demikianlah sunatullah. Umat Islam yang semakin jauh dari masa kenabian kian hari mengalami kemunduran, sebagaimana sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

اصبروا فإنه لا يأتي عليكم زمان إلا الذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم

Bersabarlah, sesungguhnya tidak akan datang suatu zaman di antara kalian kecuali yang setelahnya akan menjadi lebih jelek, sampai kalian menemui Rabbmu (HR.Bukhari)

Oleh karena itu bukan mencaci zaman yang harus kita lakukan, melainkan berusaha bagaimana agar kita bisa selamat dari berbagai fitnah yang akan terjadi. Dalam khutbah yang disampaikan tiga hari yang lalu, maka khotib memberikan beberapa nasehat berikut:

Pertama, hendaklah kita istiqomah di atas agama ini dengan segala keadaan.

Ia menyampaikan bahwa ketika zaman ini telah mendatangi kita, maka tidak ada yang lebih penting kecuali berpegang teguh di atas agama ini. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dan jangalah mengikuti jalan-jalan yang kalian akan berpecah belah dari jalan-Ku (Q.S. Al An’am: 153)

Kedua, Komitmen dalam mempelajari dan memahami agama ini.

Kesabaran dan keistiqomahan akan cukup sulit didapatkan tanpa memahami agama ini dengan baik. Oleh karena itu, kita perlu untuk selalu belajar memahami Islam sehingga tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Dengan ilmu, insyaAllah kita tidak akan terjebak dengan fitnah. Kita tidak akan mengandalkan segala sesuatu hanya dengan otaknya saja, tetapi betul-betul mengharapkan pertolongan dan bimbingan dari Allah ta’ala.

Ketiga, Hendaknya senantiasa berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Ilmulah yang akan membuat orang mengerti mana yang haqq dan mana yang batil. Dengan ilmu pula seorang muslim akan mengetahui sunnahnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Dan dalam Islam, beragama tidak hanya dengan modal semangat, karena jika tidak dengan ilmu niscaya ia pun akan tersesat. Apalagi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكمْ بِسُنتي، وَسُنةِ الخلَفَاءِ المهْدِيِّينَ الراشدين؛ تَمَسكُوا بها، وَعَضوا علَيْهَا بالنواجِذِ، وَإِياكُمْ وَمُحْدَثات الأمُورِ؛ فإِن كُلّ مُحْدَثَة بِدْعَة، وَكُل بِدْعَةٍ ضَلاَلة

Hendaknya kalian di atas sunnahku, dan sunnahnya para khulafaurrashiddain yang telah mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah padanya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang baru, dan setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Ibnu Daud)

Keempat, kuat dalam berdakwah

Dakwah merupakan upaya untuk menguatkan umat ini agar mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, ketika dakwah sudah ditinggalkan, maka Islam pun tidak akan dilihat sebagai umat terbaik.

Berbagai kerusakan dan musibah pun akan terjadi, dan tidak hanya menimpah orang-orang yang secara langsung berbuat kejelekan saja, melainkan juga mereka yang sudah meninggalkan dakwah. Allah ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

Maka takutlah dengan fitnah yang tidak hanya menimpah orang-orang yang dholim di antara kalian semata, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya siksa Allah amat keras (Q.S.Al Anfal: 25)

Ayat ini merupakan ancaman dari Allah ta’ala ketika umat Islam sudah tidak lagi melakukan amal ma’ruf nahi mungkar. Wallahu a’lam.

Kelima, bersabar di atas segala kesulitan.

Meskipun berat berjalan di atas agama ini, apalagi terasa seperti memegang bara api, maka kita diperintahkan untuk tetap bersabar. Dengan kesabaran ini, maka insyaAllah kita akan merasakan indahnya Islam dan Allah pun akan menghilangkan rasa takut dan kesedihan atas keistiqomahan kita dalam berIslam.

Dari Tsa’labah AL khosyani radiayallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(إن من ورائكم أيام الصبر ، الصبر فيه مثل قبض على الجمر ، للعامل فيهم مثل أجر خمسين رجلا يعملون مثل عمله) قيل : يا رسول الله أجر خمسين منهم ؟ قال : (أجر خمسين منكم)

Sesungguhnya di belakang kalian akan ada hari kesabaran. Kesabaran padanya semisal memegang bara api. Mereka yang melakukannya maka baginya pahala semisal lima puluh orang lain. Maka ditanyakan, wahai Rasulullah, pahala lima puluh lipat dari mereka?, Rasulullah mengatakan, pahala semisal lima puluh dari kalian (HR. Abu Daud)

Subhanallah, inilah gambaran bagaimana beratnya fitnah pada masa itu yang sangat membutuhkan kesabaran. Rasulullah pun menjanjikan pahala yang lebih baik dari yang didapatkan oleh para sahabat bagi mereka yang bisa bersabar dalam ketaatan pada waktu itu.

Keenam, hendaknya kita banyak berdoa kepada Allah tala.

Doa ini merupakan senjata bagi seorang mukmin. Ia begitu membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Allah ta’ala, apalagi di zaman ketika masa pagi orang bisa beriman dan sorenya sudah kafir. Atau ketika sore mereka beriman dan paginya mereka sudah kafir.

Inilah yang membuat kita diperintahkan paling tidak 17 kali dalam sehari semalam untuk memohon diberikan hidayah oleh Allah ta’ala. Dalam sholat kita membaca  اهدنا الصراط المستقيم (tunjukilah kami ke jalan yang lurus).

Demikian juga kita dituntunkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam untuk membaca doa, يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك (wahai yang membolak-balikkan hati, maka tetapkanlah hati kami di atas agamamu). Suatu permohonan yang menunjukkan tidak amannya hati kita tanpa pertolongan dan bimbingan dari Allah ta’ala.

Ketujuh, kita dituntunkan untuk bersahabat dengan orang-orang sholeh.

Hal ini penting karena mempunyai teman-teman yang sholeh akan membantu kita untuk lebih kuat istiqomah dalam ketaatan. Mereka akan seperti minyak wangi yang juga memberikan bekas bau harum di baju kita.

Sebaliknya, ketika teman-teman kita bukan orang-orang yang baik, maka akan mulai hilanglah kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Persaudaraan yang mereka bangun bukan lagi karena Allah ta’ala, tetapi lebih banyak dikarenakan kepentingan semata.

Akibatnya dipuji ketika dibutuhkan, atau disikut dan ditusuk dari belakang ketika sudah tidak lagi dibutuhkan amat sering terjadi. Persahabatan mereka bukanlah murni dari rasa cinta di hati.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Seseorang itu tergantung dengan agama sahabatnya, maka lihatlah dengan siapa ia berteman (HR. Abu Daud)

Terakhir, untuk selamat dari fitnah zaman, maka kita dituntunkan untuk senantiasa berinteraksi dengan Alquran dan memperbanyak ketaatan kepada Allah ta’ala.

Sungguh alquran ini adalah petunjuk bagi kita, obat bagi penyakit di hati, dan solusi bagi setiap persoalan hidup. Karenanya wajar jika orang yang membaca alquran dan tidak diumpamakan  seperti mereka yang hidup dan mereka yang mati.

Dengan banyak membaca Alquran dan melakukan berbagai ketaatan kepada Allah ta’ala, insyaAllah kitapun akan senantiasa dalam bimbingan Allah ta’ala. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ ، احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah Allah, maka Allah pun akan menjagamu. Jagalah Allah maka engkau akan mendapatinya bersamamu (HR. Tarmidzi)

Semoga kita semua diberikan kekuatan dan bimbingan oleh Allah ta’ala agar bisa selamat menghadapi zaman fitnah ini. Aamin.

 

Trento, 10 Februari 2014

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response