Beberapa Keutamaan I’tikaf

Salah satu sunnah yang dituntunkan pada bulan Ramadhan adalah i’tikaf. I’tikaf maksudnya berdiam di masjid pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan untuk meraih berbagai keutamaan bulan Ramadhan, di antaranya untuk mengejak malam lailatul qadr.

Karena amalan ini mempunyai berbagai keutamaan dan merupakan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Azzuhri rahimahullah mengatakan,

عجباً للمسلمين ! تركوا الاعتكاف ، مع أن النبي صلى الله عليه وسلم ، ما تركه منذ قدم المدينة حتى قبضه الله عز وجل

Sungguh ajaib kaum muslimin yang meninggalkan I’tikaf. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan amalan ini sejak hijrah ke Madinah sampai beliau diwafatkan oleh Allah azza wajalla.

Di antara keutamaan I’tikaf tersebut adalah:

Pertama, merupakan kesempatan emas untuk membersihkan hati.

Selama ini, pada 11 bulan lain yang tersisa, mungkin kita banyak sibuk dengan urusan dunia yang menambah kotor hati kita. Kita sudah sibuk dengan syahwat makan, syahwat minum, menikah, banyak bicara, banyak tidur, banyak bergaul dan berbagai hal lainnya yang membuat hati menjadi sakit.

Maka dengan kesempatan I’tikaf, kita diperintahkan untuk menyendiri, memberbanyak ibadah, sholat, dzikir, istighfar, doa, dan membaca alquran. Dengan amalan ini, insyaAllah hati akan menjadi bersih sehingga bisa menjadi bekal untuk memperbaiki amalan lahiriah lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله ، وإذا فسدت فسد الجسد كله ، ألا وهي القلب

Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam jasad ada mudgha, jika ia baik maka akan baik semua jasad. Namun jika ia rusak, maka akan rusak semua jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (HR. Bukhari)

Kedua, I’tikaf merupakan kesempatan untuk mengejar keutamaan pada malam lailatul qadr. Malam ini merupakan malam yang begitu mulia, bahkan kebaikan yang didapatkan melebihi kebaikan beribadah selama seribu bulan.

Allah ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan (Q.S. Al Qadar: 3)

Maksudnya seorang yang beribadah pada malam lailatul qadr, maka niscaya ia semisal orang yang istiqomah beribadah pada setiap malam selama 1000 bulan. Suatu bentuk rahmat dan kasih sayang Allah ta’ala yang luar biasa.

Oleh karena itu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir dibulan Ramadhan. Dikisahkan, dari A’isyah radiyallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir melebihi malam-malam selainnya.

Selain memberikan contoh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan kita semua selaku pengikut beliau untuk mencari malam lailatul qadr. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan (HR. Bukhari)

Atau secara lebih khusus beliau bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadr pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan (HR.Bukhari)

Ketiga, I’tikaf mengajarkan bagi kita untuk fokus memperbanyak melakukan berbagai ibadah Sunnah. Fokus dengan kehidupan akhirat dan menyerahkan semuanya pada Allah ta’ala. Dengannya kita mengejar kecintaan dari Allah ta’ala sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ

Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan memberbanyak amalan Sunnah sampai Aku pun mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku yang akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar. Aku yang menjadi pandangan yang dengannya ia memandang. Dan tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakiknya ia dengannya ia berjalan. Jika ia meminta pada-Ku maka akan Aku beri, dan jika memohon perlindungan maka Aku lindungi (HR. Bukhari)

Selama I’tikaf kita diajarkan untuk menjauhkan diri dari semua apa yang tidak bermanfaat.

Masih banyak keutamaan lainnya dari I’tikaf. Sementara kami cukupkan sampai di sini. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk melakukannya dan mendapatkan keutamaan dari amalan Sunnah ini. Aamin.

Malang, 2 Juni 2017

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response