Belajar Dari Laskar Pelangi

Ringkasan Film dan Muhammadiyah

Setelah menjadi buku best seller, laskar pelangi kemudian menjadi film yang booming dan menjadi pembicaraan dimana-mana. Banyak orang seakan tersihir, bahkan menangis menyaksikan realita pendidikan di sebuah sekolah Muhammadiyah Bangka Belitung yang sangat minim fasilitas.

Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak serta merta menyebabkan sekolah ini kehilangan kehidupan. Para murid yang hanya sepuluh orang dari masyarakat miskin dan sang guru, bu Mus dan teman-teman, yang penuh semangat, berjuang keras dengan keikhlasan berhasil membuat semua siswa selalu “belajar”, bahkan Ichal berhasil sekolah sampai ke Prancis.

Film ini menjadi terkenal menurut saya karena begitu jujur menggambarkan realitas yang terjadi di bidang dunia pendidikan kita. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Bangka Belitung, tetapi juga hampir di semua pelosok negeri. Tidak hanya sekolah-sekolah Muhammadiyah, tetapi juga sekolah-sekolah negeri dan swasta lainnya.

Film ini, bagi kader Muhammadiyah khususnya, membuat tidak silau dengan kebanggaan selama ini. Muhammadiyah seringkali menyebut diri sebagai lembaga yang sangat besar, tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam bidang sosial dan kesehatan.

Muhammadiyah sering disebut sebagai organisasi yang mempunyai begitu banyak lembaga pendidikan mulai dari SD sampai PT dengan rincian: Ibtida’iyah 1.768 buah, Tsanawiyah 534, Aliyah 171, Politiknek 2, Akademi 30, 42 Sekolah Tinggi, dan 26 Universitas (data sekarang sangat mungkin bertambah).

Selain itu Muhammadiyah juga, mempunyai 312 usaha bidang kesehatan, seperti rumah sakit dan klinik, usaha bidang sosial, 240 panti sosial, Perbankan, dengan 19 Bank Perkreditan Muhammadiyah, 190 buah Baitul Tanwil, 808 koperasi Muhammadiyah, dan 5 buah Badan Usaha Milik Muhammadiyah. Luar biasa fantastis.

Hal itu benar adanya, hanya saja justru yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa hal ini menunjukkan jika tanggungjawab kader Muhammadiyah begitu besar untuk mempertahankan dan mengembangkan lembaga dan amal usaha tersebut.

Kader dan warga muhammadiyah perlu melihat dan merenungi bahwa lembaga-lembaga Muhammadiyah tadi umumnya lahir dari dengan cara bottom up (dari masyarakat) dan bagaimana realita yang sekarang berkembang. Sangat banyak sekolah-sekolah Muhammadiyah yang nasibnya sama dengan sekolah Lintang dan teman-teman.

Realita Pendidikan di Indonesia

Pertama kali, ketika menontong film Laskar Pelangi saya ingat kisah ketika Ki Hajar Dewantara sewaktu masih sekolah. Beliau sekolah di ELS, atas jasa baik Tuan Abendanon. Hanya saja, ia menjadi kritis bahkan ketika berusia 7 tahun, beliau bertanya kepada bapaknya,

”Mengapa Sariman (teman bermain Ki Hajar Dewantara) tidak dapat ikut sekolah, Ayahanda?”, tanya Suwardi Suryaningrat kepada bapaknya.

”Sariman itu orang kebanyakan. Jadi ia tidak boleh bersekolah seperti kamu”, begitu bapaknya menjawab.

Maka sejak itu, Ki Hajar Dewantara melihat bahwa tidak ada keadilan di negeri ini (sejak zaman penjajahan). Semangat itu pula yang melahirkan tekadnya dikemudian hari untuk mendirikan padepokan Taman Siswa.

Kondisi sebagaimana dialami Bapak Pendidikan Nasional Indonesia tadi masih merupakan warna realita masa kini. Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika, serta sebagai negara kepulauan terbesar dan sangat terkaya di dunia terpuruk dalam bidang pendidikan.

Menurut laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) tahun 2004, tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang diukur dari indikator kesehatan, pendidikan dan ekonomi, posisinya jauh tertinggal di bawah negeri jiran, Indonesia berada pada urutan 111 dari 175 negara, jauh di bawah Singapura (25), Brunei Darussalam (33), Malaysia (58), Thailand (76), dan Filipina (85).

Indonesia yang terdiri dari 13.500 pulau, padahal yang dihuni baru 6.000 pulau saja, penduduk berjumlah lebih dari 231,328.092 dengan rata-rata kelahiran 1,54%, tetapi tingkat melek huruf baru 83,8% saja (data Department Pendidikan Nasional, 2003). Total siswa di Indonesia baru berjumlah 38.100.716, yang terdiri dari 25.701.558 siswa SD, 7.584.707 siswa SLTP, 2.938.514 siswa SMU, dan hanya 1.933.937 mahasiswa.

Atau kalau dilihat dari jumlah sekolah, Indonesia mempunyai 148.964 SD, 20.721 SLTP, 7.980 SMU, 76 Univesitas Negeri dan 1.365 PT swasta (kantor penelitian dan pengembangan, 2001).

Perhatikan bagaimana ketimpangan yang muncul dari berbagai jenjang sekolah sebagai bukti bahwa hanya sedikit saja penduduk Indonesia yang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pemerintah memang sudah mencanangkan gerakan wajib belajar 9 tahun, hanya saja realita di lapangan menunjukkan bahwa hanya 94% anak seusia SD yang bersekolah, 55 % seusia SLTP, dan hanya 31,5% yang bisa melanjutkan pendidikan sampai kejenjang SMU. Bahkan sejak terjadi krisis ekonomi 1998, lebih dari 3 juta siswa Indonesia drop out setiap tahunnya. (Office of Research and Development, 2001).

Masalah yang umum terjadi adalah urusan finansial, karena sekarang ini pendidikan memerlukan biaya yang mahal.

Persoalan yang muncul juga tidak sekedar dari akses/pemerataan pendidikan, melainkan juga berkaitan dengan orientasi dan kualitas pendidikan.

Selama ini, pendidikan Indonesia lebih fokus pada aspek kognitif atau proses-proses dan cara berpikir seseorang yang menghasilkan para pekerja keras, yang hanya memaksakan diri untuk menggunakan otak kanan saja, akan tetapi mereka kehilangan kreatifitas, cara berfikir yang terbuka dan produktifitas. Produk pendidikan Indonesia lebih dibentuk sebagai robot, karena hanya mengandalkan dan menghargai kemampuan berlogika.

Selain itu, pendidikan Indonesia sekarang juga kehilangan nilai pendidikan moral. Pendidikan hanya sekedar pengajaran dan mengingat materi dari sekolah. Indonesia terjebak dengan outer beauty dan melupakan inner beauty. Akhirnya siswa ditarget misalnya dalam UN untuk memperoleh nilai pada level tertentu meskipun dengan moral yang tidak baik.

Dalam kaitannya dengan guru atau dosen, rentetan masalah tidak kalah banyaknya. Sistem feodalisme yang menggambarkan bahwa guru senantiasa benar dan siswa harus ikut dengan pendapat dosen begitu menggejala.

Siswa pun sudah tersulap karena semangat belajar dan membaca juga lemah. Guru seakan tidak ambil peduli, mungkin karena gelar yang begitu terhormat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang mereka sandang.

Jika kondisinya demikian, maka cita-cita pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia meliputi berbagai kompetensi seperti pengetahuan, skill, sikap dan semangat untuk menang dan berkompetensi dalam pembangunan nasional akan menjadi mimpi panjang.

Pelajaran dari Laskar Pelangi

Persoalan pendidikan diantara sekian banyak masalah bangsa, seakan menemukan sedikit penawar ketika buku dan film laskar pelangi dilaunching. Kita diajak untuk tersadar dari tidur yang begitu lelap.

Dengan begitu jujur dan sederhana, anak-anak dalam film laskar pelangi mengajari kita arti semangat, persahabatan, kreatifitas, keikhlasan dan empati sosial.

Dari awal film kita sudah dibuat tersadar bagaimana Lintang dengan sepeda ontelnya, penuh semangat untuk sekolah. Jarak yang puluhan kilo, jalan yang sepi, panas, bahkan tidak jarang harus dihadang oleh buaya yang siap menerkam tidak menjadi penghalang.

Lintang dan teman-teman menjalani semua dengan ceria. Latar belakang keluarga dari kalangan ekonomi menengah kebawah rupanya membuat mereka sangat ingin melakukan perubahan.

Realitanya memang demikian, mereka yang mempunyai semangat membara biasanya yang dibesarkan dilingkungan yang penuh dengan keterbatasan. Fasilitas dan kemewahan seringkali membuat orang menjadi semakin malas. Meskipun tidak jarang, system ekonomi dan pendidikan yang membutuhkan biaya tidak sedikit membuat harapan dan cita-cita tadi menjadi pupus.

Kita mungkin punya banyak teman yang senasib dengan Lintang. Tidak sedikit teman-teman yang begitu cerdas, hanya karena masalah ekonomi, akses, fasilitas dan persoalan keluarga lainnya terpaksa harus berhenti sekolah.

Sebaliknya, mereka yang selama ini kemampuannya biasa-biasa saja, karena orang tua mereka yang mampu, tidak sedikit yang setelah S-1 terus S-2 bahkan S-3, dan seakan terlihat orang yang begitu pintar. Maka bisa dibayangkan bagaimana nasib masa depan bangsa ini ke depan.

Dalam hal persahabatan dan persaudaraan, anak-anak kecil dari SD Muhammadiyah Bitong inipun mengajari kita. Persamaan kondisi dan cita-cita membuat mereka selalu bersama. Kehilangan satu teman, seperti Lintang yang tidak bisa sekolah lagi membuat mereka begitu bersedih.

Juga ketika ada teman yang salah, misalnya ketika teman-teman Lintang mau masuk ke hutan dan percaya dengan masalah-masalah takhayul, teman mereka tidak segan untuk mengingatkan, bahkan dengan tegas. Itulah persahabatan yang sesungguhnya, dan kita rindu kondisi demikian. Persabahatan yang saling memotivasi, mengingatkan ketika salah, dan bersama dalam kebenaran.

Kebersamaan itu tentu akan membuat kita menjadi lebih bebas dalam berekspresi. Film laskar pelangi dengan si-Mahar yang jago nyeni membuat anak-anak tadi begitu dekat dengan alam dan mengembangkan kreatifitas mereka.

Ketika anak-anak SD tambang Timah sudah menggunakan drum band dalam perlombaan antarsekolah, anak-anak tadi cukup berperan menjadi orang kubu dengan memanfaatkan alam. Suasana yang sekarang sudah jarang kita temui.

Anak-anak sekarang lebih banyak bermain di depan komputer atau Pe-eS, dibandingkan bersama teman-temannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini tentu menyebabkan mereka kehilangan sensifitas sosial. Mereka akan lahir sebagai orang-orang egois yang tidak memperhatikan kepentingan orang banyak.

Masih banyak sebenarnya pelajaran-pelajaran lain yang bisa kita ambil dari film ini. Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana kita bersikap kondisi pendidikan kita yang “memprihatinkan”. Tidak hanya ungkapan sedih, prihatin, atau kasihan dengan kondisi saja. Kita muak dengan ucapan yang tidak lebih dari pemanis bibir, tetapi yang perlu adalah aksi nyata.

Oleh karena itu, kita semua perlu menjadi orang yang mempunyai semangat, kecerdasan, ketulusan, dan kebersamaan seperti diajarkan anak-anak dalam film ini. Laskar Pelangi!!.

2 Comments

Leave a Response