Berdoa Kemenangan Ahlussunnah di Suriah

Ketika membaca atau mendengar kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia pada masa kini, hati muslim mana yang tidak akan sedih. Berbagai persoalan datang bertubi. Bahkan di saat satu masalah belum selesai, telah datang masalah baru. Saat isu kemiskinan dan keterbelakangan belum bisa terselesaikan, umat Islam sudah diterpa masalah terorisme dan konflik berkepanjangan.

Salah satu berita konflik yang hangat akhir-akhir ini adalah isu konflik Suriah. Meski gelombang konflik baru berlangsung kurang dari dua tahun, tetapi korban akibat konflik tersebut sangat besar.

Sejak meledak pada Maret tahun 2011, konflik ini telah menyebabkan tidak kurang 50.000 orang terbunuh, 28.000 orang hilang, bahkan 1,2 juta orang kehilangan tempat tinggalnya. Jutaan orang lainnya kekurangan kebutuhan pokok, serta sekitar 500.000 orang terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga -Yordania, Turkey, Libanon dan Irak. Belum termasuk kerusakan infrastuktur seperti rumah-rumah yang hancur dan banyaknya fasilitas umum yang tidak bisa lagi digunakan.

Berat dan menyedihkan. Namun itulah gambaran ringkas akibat konflik di negeri Bani Umayyah ini. Negara yang 3/4 penduduknya adalah saudara kita Ahlussunah, tetapi dipimpin kelompok minoritas Syiah Alawiyah. Negeri yang pemerintahnya sangat dekat dengan Iran dan kelompok Hizbullah Libanon, atas dasar persaudaraan ke-Syiah-an mereka.

Sebenarnya, data akibat konflik di atas belum cukup untuk menggambarkan penderitaan saudara kita Ahlussunnah yang sudah berlangsung cukup lama di Suriah. Ketidakadilan demi ketidakadilan mereka alami akibat keberpihakan Bashar Al-Assad kepada Syiah. Padahal penduduk Syiah hanya 13 persen saja dari total penduduk Suriah. Namun, sebagai kader Syiah tulen, Assad dan orang-orang dekatnya tidak mau ambil tahu dengan kepentingan Ahlussunnah.

Melalui kebijakan liberalisasi ekonomi, Assad telah menyebabkan meningkatnya ketimpangan sosial di tengah masyarakat Suriah. Hanya mereka yang mempunyai hubungan dekat dengan pemerintah terutama dari kelompok Syiah saja yang akan mendapatkan banyak manfaat dari kebijakan ini.

Lebih dari itu, ketika penduduk Suriah mulai menuntut keadilan, Assad semakin berlaku dholim terhadap mereka. Para penentangnya dicobloskan ke penjara. Berbagai media komunikasi seperti jaringan internet, telepon, dan listrik di berbagai kawasan diputus. Para wartawan yang ingin meliput berbagai kejadian di Suriah dilarang keras, bahkan tidak sedikit yang hilang.

Sebaliknya, musik-musik barat diizinkan didukung agar bisa tersebar luas di tengah masyarakat Suriah. Dengannya berbagai budaya dan pergaulan yang tidak Islami berkembang luas.

Karena itu, Ahlussunnah protes. Mereka menuntut pemerintah agar adil serta menjaga nilai dan budaya Islam. Namun Assad tidak terima dan justru membalasnya dengan kekerasan. Menurutnya, penentang pemerintah tidak lebih dari kelompok teroris sehingga sah untuk dibunuh. Akibatnya, gelombang protes pun semakin meningkat, bahkan menjadi perhatian dunia Internasional.

Negara-negara mayoritas Ahlussunnah seperti Turkey, Saudi Arabia dan Qotar menilai bahwa selain merupakan ancaman bagi kemanusiaan, konflik Suriah merupakan bukti kesombongan Syiah terhadap kaum Sunni. Oleh karena itu, mereka mulai memberikan dukungan kepada kelompok penentang pemerintahan Assad, baik berupa makanan dan kebutuhan pokok lainnya, maupun persenjataan.

Dengan banyaknya dukungan yang datang, dan tentu saja atas pertolongan Allah ta’ala,  setelah hampir dua tahun berlangsung, konflik Suriah memberikan angin segar kepada Ahlussunah. Tanda-tanda kemenangan semakin dekat. Posisi Bashar al-Assad sebagai presiden Suriah pun tidak aman.

Kemenangan Ahlussunnah di beberapa negara arab lainnya juga memberikan semangat baru bagi Ahlussunnah di Suriah. Di Mesir, Ahlussunah telah berhasil mendominasi pimpinan puncak pemerintahan. Hamas yang selama beberapa tahun mendapatkan bantuan dari Iran mulai mempererat kerjasama dengan Qatar, negara minyak kaya dan tidak menyenangai Suriah.

Sebaliknya, posisi Syiah pun melemah. Di Irak, pemerintahan Syiah yang berkuasa setelah kejatuhan saddam Hussein mulai mendapatkan tekanan dari kelompok Sunni dan Kurdi. Para ulama di berbagai negara pun semakin banyak yang membuka “muslihat” kaum Syiah.

Kondisi ini menjadi ancaman besar bagi kelompok Syiah, khususnya di kawasan Timur Tengah. Karenanya Hizbullah di Libanon dan Iran semakin intes meningkatkan bantuannya kepada sekutu lama mereka, presiden Assad, tidak hanya berupa persenjataan, tetapi juga bantuan pasukan revolusi untuk memperkuat militer pemerintah Suriah.

Oleh karena itu, kita berdoa, semoga Allah ta’ala menjaga saudara-saudara kita Ahlussunnah di Suriah dan di seluruh penjuru dunia. Semoga kita semua – khususnya sauudara kita Ahlussunah di Suriah – diberikan keistiqomahan dan kemenangan menghadapi kedholiman dan kebengisan kaum Syiah. Aamin.

Malang, 17 November 2012

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

1 Comment

  1. Semoga Allah S.W.T, Membantu Meluluh lantakan, persenjataan canggih musuh, dan memberikan kemenangan dalam peperangan terhadap ahlusunah suriah ISLAM, dan kafir-kafir di luluhkan hatinya dan disadarkan ALLAH S.W.T , atas Dosa dan kesalahannya memerangi ahlusunah suriah ISLAM. AAMIIN..

Leave a Response