Budaya Ilmiah dan Masalah Bangsa

Salah satu  hal yang sangat memperihatinkan terjadi di era ini adalah berkurangnya kajian – kajian ilmiah, di lingkungan pendidikan sekalipun. Analisisis  terhadap satu persolan hanya sebatas permukaan dan tidak selesai.

Mahasiswa  merasa cukup ketika suah mendapatkan nilai A. Dosen sekedar lepas tanggung jawab mengajar dan lebih memilih proyek diluar atau mengajar di tempat lain, tanpa memikirkan tambahan ilmunya.

Dan para penulis yang lahir pun tidak menawarkan hal -hal baru kecuali menyampaikan apa yang sudah ada. Hanya keuntungan karena budaya membaca yang rendah.

Masyarakat merasa bahwa tulisan yang cukup terpublikasikan adalah karya terbaik yang sudah cukup sebagai ilmu persiapan berbagai kejadian hidup. Sangat memperihatinkan.

Tidak dapat dengan senyum pengharapan terhadap masa depan disambut. Gerangan apa yang terjadi.

Budaya hidup konsumtif dan materialistis juga menjalar begitu luas. Kehidupan pun kehilangan ruh. Tanpa ilmu. Nilai dan gelar lebih penting daripada kemampuan karena sistem penerimaan kerja di negeri ini hanya formalitas.

Menulis sederhana tanpa proses berfikir mendalam lebih mudah dan dapat menghasilkan banyak karya dalam waktu singkat. Pasar didewakan.

Sementara isi tulisan bermutu karena menghendaki pembaca berfikir terlebih dahulu tidak akan laris. Lebih enak yang mudah dan penuh rasa.

Bahkan sekali  – kali “ menjijikkan”. Buktinya, tingkat penjualan buku – buku seperti ini sangat tinggi (maaf saya tidak menyebut judul). Yang jelas inilah faktanya.

Tayangan televisi pun setiap harinya berisi acara – acara merusak. Masyarakat tidak lagi protes, bahkan menikmati.

Wanita – wanita berpakaian telanjang, kisah cinta yang mengharukan, gemerlap kekayaan yang jauh dari keadaan masyarakat negeri ini, film – film ghaib yang diidentikkan dengan Islam menjadi santapan harian.

Tiada perubahan. Bahkan sangat sulit untuk mencari acara yang mendidik.

Disisi lain persoalan sosial kemasyarakatan semakin memperihatinkan. Busung lapar, banjir, berbagai jenis penyakit, kurang gizi, peningkatan angka putus sekolah, kemiskinan, kejahatan yang tiada henti, kebodohan pada kalangan bawah, korupsi, penyuapan, kecelakaan beruntun merupakan persoalan yang tidak kunjung selesai.

Sedangkan pejabat-pejabat negeri ini hidup dalam kemewahan. Mereka berebut kursi meskipun harus mengeluarkan biaya yang sangat bersar. Uang menjadi penguasa.

Seperti di sebuah daerah yang saya kenal baik, ibu rumah tangga, orang – orang tidak berpendidikan, bahkan preman sekali pun menjadi anggota dewan.

Kita hampir putus asa karena tidak ada yang bisa diharapkan untuk dapat menyelesaikan persoalan – persoalan tadi.

Bangsa ini sangat terpuruk. Hilangnya kaum ilmuwan dari dunia pendidikan adalah kecelakaan besar.

Tiada perubahan tanpa konsep yang diyakini benar. Dengan analisa ilmiah. Objektif.

Uang seharusnya tidak seperti sekarang. Bangsaku. Bagaimana rakyat ini dapat mengucapkannya dengan lantang. Keakuan sebagai milik hanya karena kebanggaan.

Kebanggaan dengan pengayoman, jaminan hidup dan kesejahteraan. Sementara di negeri ini, apapun yang dilakukan pemerintah, rakyat kadang tidak merasa lagi sebagai warga negara yang diperhatikan.

Sudah saatnya semua persoalan ini diselesaikan. Budaya ilmiah terutama di lingkungan kampus harus dihidupkan. Mahasiswa dituntut penguasaan terhadap materi secara matang, bukan sekedar nilai.

Persoalan masyarakat perlu dipetakan ulang dan dikaji kalangan intelektual. Pendidikan masyarakat diperhatikan. Dan komitmen terhadap perubahan benar – benar tumbuh dalam jiwa setiap insan.

Dengan cara itulah kebaikan bersama dapat diwujudkan. Dengan bangga kita akan berujar “inilah bangsaku….aku bangga padamu!!!”

Yogyakarta, 25 Juni 2005

2 Comments

Leave a Response