Generasi Yang Hilang

Menyedihkan keadaan di zaman ini. Kebodohan merajalela. Semakin banyak gelar semakin bodoh. Tidak sedikit sarjana bahkan professor yang dilahirkan setiap tahun, tetapi tidak terdapat perubahan berarti. Mereka tetap saja orang – orang bodoh.

Banyak sikap dan perbuatan yang dilakukan tidak menarik simpati bahkan membuat diri merasa muak. Keserakahan semakin nampak, bahkan dengan mengatasnamakan agama.

Manusia modern. Begitu orang – orang sering menyebutnya. Perlambang kemewahan dan cara hidup yang kehilangan sopan santun menjadi pertanda. Tanpa nilai. Hidup menjadi tidak berarti dengan kesholehan.

Mereka mengaku menyayangi orang miskin tetapi tetap tidak mau bersedekah. Mereka membenci kebodohan, bahkan dengan sering mengejeknya, tetapi mereka sendiri ternyata orang – orang yang sangat bodoh. Bahkan teramat bodoh. Demikian pandangan yang hanya berada di permukaan.

Mereka kehilangan tujuan hidup. Kebahagiaan tidak pernah ditemukan dengan keserakahan. Apalagi dengan kemaksiatan. Perjalanan hidup yang dijalani tidak lebih dari sebatas lahir, makan, tidur, menikah, dan mati.

Masalah bagaimana memberikan kemanfaatan kepada orang lain, apalagi bagaimana agar keimanan dan ketaatan tetap terjaga bagi mereka adalah omong kosong.

Mungkin saja ia tetap berbicara tentang permasalahan – permasalah tersebut, tetapi kehilangan wibawa. Apa yang disampaikan tidak murni berasal dari nurani. Hanya berlalu.

Bahayanya keadaan seperti ini telah begitu meluas di tengah kita. Manusia yang berpegang kepada nilai amat sedikit. Sejarah tentang para pejuang dengan segala pengorbanan mereka dianggap dongeng belaka.

Semua manusia menurut mereka mempunyai kepentingan. Adalah gila orang – orang yang rela mengorbankan diri dan keluarganya untuk kepentingan orang lain.

Mereka sebenarnya tidak lagi percaya dengan perjalanan para nabi. Kalau pun sering keluar dari mulut mereka tidak lebih dari sekedar ketakutan dianggap berbeda.

Belum cukup banyak orang – orang yang berani menentang secara terang – terangan keberadaan agama. Sembunyi – sembunyi mereka terus melakukan kemaksiatan dan perbuatan tidak beragama lainnya. Bahkan sampai kepada kesyirikan.

Sungguh kita merindukan keadaan yang berbeda. Ketika manusia menganggap dunia hanya sebagai alat dan kehidupan sementara. Tidak ada yang kekal.

Kehidupan sepenuhnya untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan selanjutnya. Ibadah yang terjaga, pemerataan ekonomi yang dijamin, dan berbagai kebaikan sosial lainnya yang meluas. Kita rindu.

Keadaan tersebut hanya bisa muncul dengan adanya orang – orang yang berilmu. Mereka paham agama. Punya kecintaan yang kuat terhadap kebenaran. Siap menghadapi resiko apapun demi perjuangan mereka. Hanya dengan itu.

Melihat realita sekarang menjadi pertanyaan besar apakah keadaan tersebut dapat kembali terwujud?.

Sistem pendidikan tidak memberikan peluang cukup besar untuk perbaikan sosial. Budaya materialistis sulit dibendung. Kebodohan yang mengerikan. Sekarang kita memang telah kehilangan generasi terbaik.

(Bandung, 7 Juli 2005)

Leave a Response