Hapus Air Mata Istrimu!!

Keluarga adalah tempat yang paling indah dalam kehidupan ini. Ketika kita dalam keadaan lelah karena berbagai urusan dalam hidup, semua terasa hilang ketika kaki melangkah menuju rumah. Apalagi melihat istri dan tawa ceria anak-anak yang menyambut kehadiran kita.

Semua kepenatan terbang seketika. Segala masalah lupa, dan kelelahan pun berganti dengan semangat baru. Keinginan yang kuat untuk memberikan yang terbaik agar anak-anak tumbuh  menjadi hamba yang sholeh dan sholehah.

Inilah makna dari doa yang selama ini senantiasa kita panjatkan pada Allah ta’ala,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Wahai Rabb, karuniakanlah kepada kami pasangan dan anak-anak yang menyejukkan pandangan kami, dan jadikan kami bagi orang-orang beriman sebagai pemimpin (Q.S. Al Furqan: 74)

Namun demikian, ketika suami dan istri tidak mempunyai cara komunikasi yang baik, bahkan sering terbawa emosi, rumah yang seharusnya merupakan surga dunia bisa menjadi seperti neraka. Tidak jarang ada yang setiap kali pulang ke rumah emosinya pun memuncak.

Padahal, dalam salah satu hadits diceritakan bahwa seorang sahabat bernama Abi Darda’ bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,

يا رسول الله، دلَّني على عمل يدخلني الجنَّة. قال: لا تغضب ، ولكَ الجنة

Wahai Rasulullah, tunjukan padaku suatu amalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga. Rasulullah menjawab, jangan marah bagimu surga (HR. Tabrani)

Maknanya adalah bahwa hubungan keluarga dan apapun sebenarnya akan terasa menyenangkan jika dijalani dengan riang dan tanpa emosi. Seorang muslim seharusnya menyadari bahwa kemarahan yang ia simpan, apalagi pada pasangan hidup atau anggota keluarganya merupakan salah satu cara syaithon untuk merusak rumah tangga tadi.

Karenanya, jika ada saat kita ditimpa amarah, hendaknya segera ingat dengan akibat jelek kemarahan ini dan segera mohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithon yang terkutuk.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Sulaiman bin Shurad radiyalallahu ‘anhu ketika beliau menyampaikan bahwa beliau sedang duduk bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ada dua orang yang sedang marah sampai wajah dari salah seorangnya menjadi memerah. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pun mengatakan,

إني لأَعلَمُ كلمةً لو قالها ذهَب عنه ما يَجِدُ، لو قال: أعوذُ باللهِ منَ الشيطانِ

Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu kalimat yang jika diucapkan maka akan pergi dari semua yang ada (kemarahan). Beliau mengatakan, aku berlindung kepada Allah dari syaithon (HR. Bukhari)

Karennya jika mungkin seorang suami merasa ada yang kurang dari sikap dan pelayanan istrinya sehingga membuat dirinya marah, ia perlu banyak berlindung kepada Allah. Ia harus ingat dengan begitu banyak jasa yang telah diberikan istri kepadanya.

Dulu istrinya adalah seorang yang tidak punya hubungan apa-apa dengan dirinya, akhirnya ia rela untuk mengabdikan diri hanya untuk suami tercinta. Ia rela untuk mendidik anak-anak suaminya tanpa rasa lelah. Termasuk ia pun melakukan berbagai pekerjaan rumah yang tidak pernah habisnya.

Di samping itu, seorang suami juga perlu menyadari bahwa wanita hakikatnya seperti tulang yang bengkok. Jika dibiarkan maka ia akan terus membengkok, tetapi jika ingin meluruskan ia pun tidak boleh memaksakannya karena bisa jadi tulang tadi akan patah. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

استوصوا بالنساء، فإنَّ المرأة خلقت من ضلع, وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه، فإن ذهبت تقيمه كسرتَه, وإن تركته لم يزل أعوجَ، فاستوصوا بالنساء

Berbuat baiklah pada kaum wanita karena ia diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang atas. Jika engkau paksa maka ia patah, dan jika engkau tinggalkan ia akan terus bengkok. Maka berbuat baiklah pada wanita (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, seorang suami harus menyadari bahwa pasangannya bukanlah seorang yang sempurna. Bahkan jika kita perhatikan dalam sejarah, istri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pun pernah menunjukkan sikap cemburu kepada beliau shollallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian juga dengan istri Umar bin Khattab. Pada waktu itu ada seorang yang ingin mengadukan perkara istrinya kepada Umar bin Khattab selaku khalifah. Namun ternyata ketika ia berada di depan rumah Umar, ia pun mendengar ternyata apa yang ingin ia adukan juga dialami oleh Umar.

Karena itu, seorang suami perlu membuka hati dan matanya tentang hakikat istrinya yang ada di dunia ini. Dengan berbagai kekurangan yang dimiliki istrinya hendaknya ia bersabar dan terus berusaha memperbaikinya. Adapun dengan kelebihannya maka ia perlu banyak bersykur.

Jangan sampai hanya karena kesalahannya sedikit menutup hati kita dari besarnya jasa yang telah ia berikan. Apalagi sampai langsung mengembalikan istri pada orang tuanya. Allah ta’ala berfirman,

لاَ تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلاَ يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَة مُبَيِّنَةٍ

Janganlah engkau mengeluarkan mereka dari rumah-rumah mereka dan jangan mereka keluar dari rumah kecuali telah datang padanya bukti kemungkaran yang jelas (Q.S. Attholaq: 1)

Maknanya ketika terjadi perselisihan antara suami istri, maka hendaknya mereka menyelesaikannya dengan cara yang baik. Bukan hanya fisik istri yang tidak boleh keluar, tetapi juga masalah yang ada seharusnya cukup menjadi rahasia suami dan istri saja. Jika pun ada tangis di sana, maka hapus air mata istrimu!!

 

Malang, 3 November 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response