Hidayah Taufiq Prerogatif Allah

Sungguh kita sering dihadapkan pada kebenaran dan kebatilan. Namun nyatanya tidak sedikit mereka yg memilih menjadi hizbussyaithan.

Demikianlah hidup yang mana kebanyakan manusia bahkan lebih memilih jalan kesesatan. Mereka rela menjual akhirat dengan harga yg sangat murah.

Padahal tentu kehidupan dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehidupan akhirat yg kekal.

Bagi seorang muslim, menyaksikan fenomena ini seharusnya membuat dirinya semakin dekat dengan Allah da berharap senantiasa istiqomah di atas petunjuk.

Dalam sholatnya, dengan khusu’ ia berharap petunjuk dari Allah. Paling tidak dalam satu hari satu malam ia membaca doa memohon petunjuk jalan yg lurus dalam surat alfatihah sebanyak 17 kali.

Ia sadar bahwa petunjuk ini begitu mahal dan Allah ta’ala memberikannya hanya kepada orang2 pilihan.

Tidak jaminan seorang yang sudah taat akan istiqomah. Sebagaimana juga tidak ada jaminan orang yang kenal betul dengan karakter Rasulullah serta merta membuatnya beriman.

Ingatlah kisah Abu thalib. Meskipun ia tahu bahwa Rasulullah tidak mungkin berbohong dengan risalah yang dibawa oleh ponakannya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, ternyata di akhir hayatnya ia wafat dalam keadaan kafir.

Dalam keadaan bersedih karena ditinggal paman yg sudah banyak berjasa sejak kecil, maka Rasulullah pun mendapatkan wahyu dari Allah ta’ala,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء
Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang paling engkau cintai sekalipun, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada siapa yg dikehendakinya (q.s. Al Qoshos:56)

Dalam ayat yg lain sebagaimana senantiasa dibaca oleh Rasulullah shallahu’alaihi wassalam dalam khutbah beliau, Allah ta’ala juga berfirman,

مَن يُضْلِلِ اللّهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Siapa yg telah Allah sesatkan maka tidak ada yg bisa memberikannya petunjuk (Q.S. Al A’raf: 186)

Maka berdasarkan penjelasan di atas, tidak perlu kaget jika menemukan ada orang-orang yang bahkan mati-matian membela kabatilan.

Bagi mereka apa yang dilakukan oleh serikat-serikat mereka selalu benar. Kita pun tidak bisa melakukan lebih kecuali sekedar menyampaikan kebenaran.

Adapun hidayah taufiq merupakan prerogatif Allah. Allah ta’ala berfirman,

أَفَأَنتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَن كَانَ فِي ضَلَالٍ مُّبِين

Apakah engkau bisa membuat mendengar orang tuli atau memberikan petunjuk orang buta, yaitu mereka yg berada dalam kesesatan yang nyata (Q.S. Azzuhruf: 40)

Jawabannya tentu tidak! Apalagi bahwa mereka yg telah Allah tutup hati, telinga dan mata mereka. Na’udzubillah.

Akhirnya kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita semua diberikan taufiq untuk bisa membedakan kebenaran dan kebatilan dan menguatkan kita semua di atas kebenaran dan jauh dari kebatilan. Aamin.

Di atas gerbong kereta Solo ke Malang, 3 Desember 2016
Akhukum fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response