Hikmah Diciptakannya Syahwat

Dalam suatu diskusi, pernah ada seseorang yang mempertanyakan keadilan Allah ta’ala dalam penciptaan syahwat. Menurutnya, jika Allah ta’ala memang pengasih dan penyayang kepada manusia, maka seharusnya syahwat tidak perlu diciptakan, dan cukuplah bagi manusia untuk bersenang-senang di surga.

Maka menanggapi hal ini, kita katakan bahwa sesungguhnya Allah ta’ala adalah Dzat yang maha mulia. Tidaklah satu pun yang Allah ta’ala ciptakan kecuali padanya terdapat hikmah yang banyak. Allah ta’ala berfirman,

ربنا ما خلقت هذا باطلا. سبحانك فقنا عذاب النار

Wahai Rabb, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan kebatilan, maha suci Engkau dan lindungilah kami dari azab neraka (Q.S. Al Imran: 191)

Oleh karena itu, berkaitan dengan penciptaan syahwat, para ulama sudah menjelaskan bahwa sebenarnya ada beberapa hikmah yang bisa kita dapatkan dari penciptaan syahwat manusia. Di antaranya adalah:

Pertama, melalui syahwat, Allah ta’ala menginginkan keberlangsungan umat manusia dalam memakmurkan bumi ini sampai datangnya hari kiamat. Jika manusia tidak punya syahwat, maka kehidupan ini bisa jadi tidak menarik dan menjadi beban.

Ambil contoh misalnya dalam perkara pernikahan. Allah ta’ala menciptakan syahwat manusia supaya pernikahan menjadi perkara yang indah dan dirindukan oleh setiap orang. Tanpa syahwat maka pernikahan tidak lebih dari sekedar institusi yang menuntut tanggung jawab yang besar.

Kedua, penciptaan syahwat sebenarnya merupakan ujian bagi manusia untuk melihat apakah ia mampu mengendalikan syahwatnya hanya pada yang halal atau juga mengambil bagian yang haram.

Pada diri manusia sudah diilhamkan sifat fujur dan ketakwaan, tetapi hanya orang-orang yang mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah ta’ala semata yang mampu meniti jalan kebenaran. Allah ta’ala berfirman,

فالهمها فجورها و تقواها

Dan telah kami ilhamkan padamu sifat fujur dan taqwa (Q.S. Assyam:8)

Sifat dasar ini menjadi ujian pada posisi mana kita berada. Jika sudah selamat pada suatu amalan, maka apakah kita mampu istiqomah untuk senantiasa dalam kebaikan, selamat lahir dan batin kita.

Pernah suatu hari ditanyakan kepada Umar bin Khattab, “mana yang lebih utama, seorang yang tidak pernah jatuh pada syahwat atau seseorang yang jatuh pada syahwat kemudian ia meninggalkannya karena Allah?

Menjawab pertanyaan ini, Umar bin Khattab mengatakan bahwa orang yang kedua lebih utama. Beliau berucap,

إن الذي تشتهى نفسه المعاصي ويتركها لله عز وجل من الذين امتحن الله قلوبهم للتقوى لهم مغفرة وأجر عظيم

Sesungguhnya orang-orang yang terjatuh dirinya pada kemaksiatan kemudian meninggalkannya karena Allah azza wajalla termasuk di antara orang yang diuji hati mereka dengan ketaqwaan, maka bagi mereka pengampunan dan pahala yang besar.

Ketiga, orang yang jatuh pada syahwat akan mengetahui bagaimana hina dan sempitnya hati karena maksiat. Oleh karena itu, penciptaan syahwat akan bisa membuat seseorang menyesali kelalaian dirinya dalam kelalaian dan segera bertaubat kepada Allah ta’ala.

Di antara para ulama ada yang mengatakan,

إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار

Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa kemudian memasukkannya kepada surga dan ada yang melakukan kebaikan justru mengantarkannya kepada neraka.

Kemudian dikatakan, bagaimana mungkin? Maka ia mengatakan, ia pun berucap bahwa seorang hamba yang jatuh pada dosa kemudian berlinang air matanya karena menyesal dan malu pada Rabb-nya dengan hati yang berkeping, maka yang demikian kemaksiatannya akan mengantarkan pada ketaatan yang akhirnya memasukkanya ke dalam surga.

Adapun seseorang yang melakukan kebaikan, kemudian ia riya’ dan takjub dengan amalannya bahkan sampai jatuh pada kesombongan, maka hal ini akan mengantarkannya kepada neraka. Sebagaimana Iblis yang dikeluarkan dari surga karena kesombongannya untuk tidak bersujud kepada nabi Adam ‘alaihissalam sesuai perintah Allah ta’ala.

Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah ta’ala supaya tidak tertipu dengan amalan kita, dan berharap agar kiranya kita semua termasuk di antara orang-orang yang bisa menggunakan syahwat kita hanya pada hal yang halal semata. Aamin.

 

Malang, 6 Januari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response