Hukum Melaksanakan Sholat Ghoib

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Dalam hidup ini, terkadang senang dan sedih silih berganti. Dalam keadaan jauh dari keluarga, Allah pun bisa saja memanggil dari anggota keluarga kita menuju kehidupan yang abadi.

Dalam keadaan seperti ini, maka ada keinginan untuk pulang bertemu dengan keluarga, tetapi kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Bisa jadi ada beberapa rintangan yang tidak memungkinkan.

Karena itu, ada pula yang merasa cukup dengan melaksanakan sholat ghoib bagi anggota keluarganya tadi.

Meskipun demikian, seorang mukmin tentu tidak ingin hanya beribadah sesuai dengan perasaannya saja, melainkan ia perlu mencari dalil dari amalannya tadi. Baginya setiap amalan perlu menjadi perkara yang bisa dipertanggungjawabkan.

Berkaitan dengan sholat ghoib, maka para ulama berbeda pendapat. Paling tidak terdapat tiga pendapat berkaitan dengan masalah ini.

Pertama, pendapat yang membolehkan sholat ghoib baik sudah disholatkan atau belum disholatkan. Ini adalah pendapat imam Syafi’i dan imam Ahmad rahimahumallahu.

Kedua, sholat ghoib hanya khusus untuk Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam dan bukan untuk siapapun selain beliau. Artinya secara mutlak dilarang untuk dilakukan, karena sholat ghoib hanya pernah sekali dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam terhadap raja Najasyi (Ethiopia sekarang). Pendapat ini adalah ucapan Malik dan Abi Hanifah rahimahumallahu ta’ala.

Ketiga, pendapat yang merinci dengan mengatakan bahwa sholat ghoib utama dilakukan jika belum ada yang menyolatkan. Dalilnya adalah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sholat ghoib terhadap raja Najasyi karena belum ada yang menyolatkan pada waktu itu mengingat sang raja hidup di lingkungan yang tidak ada muslimnya.

Adapun jika sudah ada yang menyolatkan, maka tidak perlu melakukan sholat ghoib lagi. Dan inilah pendapat yang insyaAllah lebih rojih.

Ibnul Qayyim Aljauziyah mengatakan,

ولم يكن من هديه وسنته الصلاة على كل ميت غائب ، فقد مات خلق كثير من المسلمين من الصحابة وغيرهم وهم غُيّب فلم يصل عليه

Dan bukan merupakan petunjuk dan Sunnah melaksanakan sholat ghoib pada setiap mayit. Sungguh telah meninggal sangat banyak dari kaum muslimin dari para sahabat dan selain mereka yang meninggal dalam keadaan ghoib (jauh), tetapi mereka tidak sholat ghoib untuknya (Zaadul Ma’ad 1/144)

Semoga penjelasan ini bermanfaat, wallahu ta’ala a’lam

 

Malang, 15 Juli 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response