Hukum Merayakan Isra’ dan Mi’raj

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin,washolatu wassalamu a’laihi nabiyina Muhammad salallahu ‘alahi wassalam.

Di akhir bulan rajab, biasanya (di Negara kita terutama), ada banyak masyarakat yang memperingati peristiwa isra’ dan mi’raj. Peristiwa ini adalah sesuatu yang sangat penting dalam sejarah islam karena pada waktu itulah Rasulullah salallahu ‘alahi wassalam menerima perintah sholat.

Selain itu, sering kita dengar cerita dari para ustadz yang mengatakan bahwa peristiwa ini sekaligus merupakan hiburan bagi rasulullah yang pada waktu itu belum lama ditinggalkan oleh dua orang yang sangat dicintainya dan mendukung perjuangan dakwah beliau. Paman rasul, Abu Thalib (yang sampai akhir hayatnya tidak mau bersyahadat) dan istri beliau, Khadijah radiyallahu anha meninggal beberapa waktu sebelum peristiwa isra’ dan mi’raj.

Selain peristiwa isra’ dan mi’raj, tidak jarang juga kita menerima sms, email atau pesan dari para sahabat yang mengajak kita untuk memperbanyak puasa atau ibadah-ibadah lainnya pada bulan ini.

Berkenaan dengan kondisi tersebut, pada kesempatan siang hari ini, kami mencoba mengambil hikmah  dengan menyunting  fatwa Syaikh Bin Baz berkaitan dengan masalah pengkhususan bulan rajab untuk melakukan ibadah tertentu, seperti menegakkan sholat malam atau melakukan peringatan isra’ dan mi’raj.

Beliau pernah ditanya, bahwa sebagian orang mengkhususkan bulan rajab untuk melaksanakan sholat ragho’ib (biasanya dilakukan pada awal malam jumat di bulan rajab) dan membuat perayaan di malam harinya. Maka apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang disyariatkan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, maka Syaikh bin Baz menjawab,

Bahwa mengkhususkan bulan rajab dengan sholat ragho’ib atau merayakan malamnya,  seperti dengan memperingati malam isra’ dan mi’raj, maka semuanya itu merupakan suatu kebid’ahan yang tidak dibolehkan. Tidak ada tuntunan dari yang demikian itu di dalam syariat sebagaimana telah diteliti oleh para ulama.

Maka hendaknya tidak melakukan sholat ragha’ib pada awal malam jumat di bulan rajab, karena hal tersebut merupakan suatu kebid’ahan.  Demikian juga halnya dengan perayaan isra’ dan mi’raj.

Selain merupakan suatu kebid’ahan maka para ulama juga berbeda pendapat tentang kapan waktunya isra’ dan mi’raj tersebut. Belum ada yang mengetahui waktunya secara pasti, misalnya apakah pada bulan rajab atau ramadhon.

Lagi pula, misalnya waktu tersebut diketahui, maka peringatan isra’ dan mi’raj dan ibadah-ibadah khusus lainnya tetap tidak dibolehkan sebagaimana Nabi Muhammad salallahu ‘alahi wassalam tidak pernah melaksanakannya. Demikian juga dengan para khulafaurrashidin dan para sahabat radiyallahu anhum.

Padahal kita hendaknya mengikuti sunnah mereka dalam beragama ini. Allah berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Mereka orang-orang terdahulu dari kaum muhajirin dan anshor dan mereka yang mengikuti mereka dengan kebaikan, maka Allah meridho’I mereka dan merekapun ridho (dengan ketentuan) Allah, dan disiapkan bagi mereka sorga-sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selamanya, demikianlah kemenangan yang besar.

Ayat ini menunjukkan bahwa kita sebagai umat yang khalaf (belakangan), hendaknya mengikuti kebaikan yang telah dilakukan oleh kaum muhajirin dan anshor. Jika mereka tidak membuat suatu kekhusuan pada bulan rajab dengan peringatan peristiwa isra’ dan mi’raj, maka tidak pantas bagi kita untuk menjadikannya sebagai sunnah.

Jika kita tetap melakukan sesuatu yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah dan para sahabat, maka amalan kita tersebut tidak akan diterima oleh Allah dan tertolak.

Rasulullah bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barang siapa yang membawa hal-hal yang baru yang tidak berasal dari kami, maka ia tertolak.

Atau dalam redaksi yang lain, rasulullah bersabda

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Siapa melakukan suatu amalan yang bukan dari urusan kami, maka ia tertolak.

Perkara atau perbuatan seperti ini, tentu saja bertentangan dengan hadist rasulullah yang mengatakan bahwa ucapan dan tuntunan yang terbaik adalah segala sesuatu yang telah beliau bawa dalam ajaran islam yang termaktub dalam alquran dan sunnah.

Beliau rasulullah senantiasa menyampaikan dalam khutbah-nya,

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

Setelah itu, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad salallahu ‘alahi wassalam, sejelek-jelek urusan adalah hal yang baru (dalam urusan agama), dan semua kebid’ahan itu adalah sesat.

Oleh karena itu, merupakan suatu kewajiab bagi kita kaum muslimin untuk mengikuti petunjuk dan tuntunan Allah dan rasulullah Muhammad salallahu ‘alahi wassalam.

Hidup kita yang singkat ini hendaknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna daripada melakukan perbuat bid’ah, seperti halnya saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Allah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.

Salah satu bentuk tolong menolong ini adalah dengan saling menasehatan dalam kebenaran dan kesabaran. Selain tentunya berbuat berbagai bentuk amal kesholehan.

Sahabat, hal ini merupakan perkara penting yang harus kita lakukan jika ingin selamat dalam hidup ini, baik di dunia maupun akhirat. Jika tidak, maka kita akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

Semua kita insyaAllah sudah tahu bahwa Allah berfirman,

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خَسِرَ * إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali mereka orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan berwasiat dalam kesabaran.

Oleh karena itu, kita semua berdoa agar kita istiqomah di jalan agama ini. agama yang merupakan nasehat yang akan menuntut kita senantiasa dalam kebaikan dan kebenaran.

Rasulullah bersabda,

الدين النصيحة، قيل: لمن يا رسول الله؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

Agama itu nesehat. Bertanya (para sahabat) untuk siapa wahai rasulullah?. Maka beliau menjawab, Allah, kitab-Nya, para rasul, para pemimpin kaum muslimin dan umatnya.

Semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat. Dan kita semua pelan-pelan memahami agama ini dengan dalilnya sesuai yang alquran dan sunnah . Dengan  demikian insyaAllah, kita tidak akan terjebak dengan hal-hal yang di larang oleh islam, termasuk dalam pengkhususan ibadah di bulan rajab ini. Wallahu a’lam.

 

Delhi, qabla Dzuhur

Leave a Response