Hukum Muslim Memakai Topi Santa Claus?

Di bulan Desember biasanya dengan mudah kita menemukan banyak para pekerja di mall atau toko yang menggunakan pakaian khas mereka yang merayakan natal. Di antaranya adalah dengan menggunakan topi santa claus.

Sebagian pekerja terkadang menganggap hal tersebut sebagai perkara biasa. Apalagi yang memerintahkan adalah manajemen perusahaan atau majikan mereka. Daripada dikeluarkan dari tempat kerja, mereka lebih memilih untuk memakai topi tersebut.

Demikianlah konsekuensi dari kondisi umat Islam yang selama ini tidak lagi menguasai ekonomi. Hanya karena alasan pekerjaan, ada sebagian yang akhirnya melepas identitas keislaman mereka. Jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad)

Berkaitan dengan hadits tadi maka para ulama mengatakan bahwa tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertasyabuh pada suatu kaum baik dalam perkara pakaian, cara makan, cara minum, gaya rambut, atau apapun yang menjadi ciri khas dari non muslim.

Apalagi jika tasyabuh tadi mencapai penyerupaan yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam. Di antaranya dengan melakukan penyembahan terhadap kubur, menggunakan salib, sejenisnya. Karena itu, mereka yang melakukan tasyabuh terhadap orang-orang kafir ini dipertanyakan sholat dan keimanannya.

Padahal dalam sholat jika betul-betul ditadaburi, seorang muslim akan selalu memohon petunjuk kepada jalan yang lurus dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang mendapatkan kemurkaan dan tersesat dalam sehari paling tidak sampai 17 kali.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan bacaan alfatihah dalam sholat tadi bersabda,

اليهود مغضوب عليهم، والنصارى ضالون

Orang yahudi adalah orang yang dimurkai, dan orang nasrani adalah kelompok yang tersesat (HR. Bukhari)

Hal inilah seharusnya membuat seorang muslim akan selalu mengikuti kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang Allah ta’ala gambarkan dalam ayat-Nya,

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Yaitu orang-orang ysnh mendengarkan ucapan dan kemudian mereka mengikutinya apa yang terbaik di antaranya, merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah, dan merekalah yang termasuk di antara ulul albab (Q.S.Azzumar: 18)

Mereka orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah dan mau berfikir tentu tidak akan dengan mudah menggunakan identitas-identitas khusus dari agama lain. Bagi mereka Islam sebenarnya agama yang sudah mengatur semua persoalan dan mempunyai keutamaan dibandingkan umat yang lain. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الإسلام يعلو ولا يُعلَى عليه

Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (HR Baihaqi)

Adapun kalau dalam beberapa hal sekarang ini seperti dalam urusan ekonomi kaum non muslim lebih kuat, maka ketahuilah bahwa keutamaan yang mereka miliki tersebut hanya perkara yang bersifat dhohir semata. Allah ta’ala bahkan berfirman,

يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka mengetahui perkara dhohir dalam urusan dunia dan dari urusan akhirat mereka lalai (Q.S. Arrum: 7)

Karena itu, Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar betul-betul khusu’ untuk beribadah kepada Allah dan tidak termasuk di antara mereka yang tertipu dengan urusan dunia. Allah ta’ala berfirman,

{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ}

Belumkah tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusu’ hati mereka mengingat Allah dan apa yang telah diturunkan dari kebenaran, dan janganlah seperti orang-orang yang telah diberikan kitab sebelum kalian (Q.S. Al Hadid: 16)

Dengan ini maka jelaslah bahwa mereka yang melakukan tasyabuh terhadap apa yang dilakukan oleh umat selain islam menunjukkan kelemahan iman mereka dan cintanya mereka dengan dunia ini. Padahal bagi seorang mukmin, jelas ketaatan hanya terhadap Allah dan tidak ada ketaatan pada makhluk dalam perkara maksiat.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Kita berdoa, semoga Allah ta’ala menguatkan kita untuk senantiasa di atas ilmu dan keimanan, sehingga kita kuat untuk tidak menyerupai kebiasaan orang-orang kafir. Aamin.

 

Kanjuruhan Asri, Malang, 20 Desember 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response