Iedul Adha dan Urgensi Pendidikan Anak

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah mempertemukan kembali kita dengan iedul adha, salah satu di antara hari raya umat Islam.

Sesungguhnya setiap umat mempunyai hari raya yang menggambarkan akidah, akhlak dan pandangan hidup mereka. Allah ta’ala berfirman,

لِكُلّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا

Pada setiap umat Kami jadikan hari penyembelihan (Q.S. Alhajj: 34)

Ibnu Jarir menyatakan bahwa makna penyembelihan ini adalah hari raya, yang mana padanya terdapat hari yang disyariatkan, atau hari yang tidak disyariatkan.

Dulu pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menghabiskan dua hari khusus untuk bermain-main. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka,

ما هذان اليومان؟ فقالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال: إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما: يوم الأضحى، ويوم الفطر

Apa dua hari ini? Mereka mengatakan, kami bermain padanya dengan permainan jahiliah. Kemudia Rasulullah bersabda, sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan dua hari yang lebih baik, hari Adha dan hari fithri (HR. Abu Daud(

Inilah dua hari raya yang kata para ulama begitu utama sampai-sampai Allah ta’ala meletakkannya bergandengan dengan dua rukun islam, yaitu ibadah puasa di bulan ramadhan untuk iedul fithri dan ibadah haji untuk iedul adha.

Khusus dalam hal iedul qurban atau iedul adha, maka kita bisa mengambil banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah dalam perkara pendidikan anak.

Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam diuji oleh Allah ta’ala untuk menunggu kelahiran anaknya selama sekian lama. Kemudian setelah lahir diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan anak dan istrinya Hajar di sebuah lembah yang tandus, tanpa peradaban, dan tidak ada bekal yang memadai.

Namun demikian, atas ketaatan beliau dan sang istri terhadap semua perintah Allah ta’ala, Allah pun memberikan karunia yang besar berupa anak-anak yang sholeh, di antaranya adalah nabiyullah Ismail ‘alaihissalam.

Setelah perpisahan yang lama kemudian membangun ka’bah, nabi Ibrahim ‘alaihissalam kembali mendapatkan cobaan berat dari Allah ta’ala untuk mengorbankan anak yang dicintainya. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ketika  sudah (tiba umur) ia sanggup berusaha bersamanya, ia mengatakan wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka perhatikanlah bagaimana pendapatmu? Ia (ismail) mengatakan wahai ayahku, lakukanlah apa yang diberikan padamu, niscaya engkau akan menemukan aku insyaAllah termasuk di antara orang yang sabar (Q.S.Asaffat: 102)

Ketika keduanya sudah pasrah kepada Allah ta’ala, meskipun harus mengorbankan nyawa sekali pun, maka Allah pun memuji nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Lalu kami panggil dia, wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, maka demikian kami membalas orang-orang yang berbuat baik (Q.S. Asaffat 104-105)

Dari kisah ini, terlihat betul bahwa nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita konsep pendidikan yang mulia dalam islam. Maksudnya bahwa kita perlu melahirkan anak-anak kita menjadi orang-orang yang kuat dalam akidah, akhlak, dan ilmu.

Perlu dalam doa-doa kita untuk senantiasa memohon kepada Allah ta’ala semoga kita dikaruniakan putra-putri yang sholeh/ah sebagaimana doanya nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Wahai Rabb, karuniakanlah padaku (anak) yang termasuk dari orang-orang yang sholeh (Q.S. Asaffat: 100)

Dari Abdullah bin Abbas Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi sallam juga bersabda,

كان أبوكم إبراهيم يعوذ إسماعيل وإسحاق: أعيذكما بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامَّة، ومن كل عين لامَّة

Sesungguhnya bapak kalian Ibrahim senantiasa memohon perlindungan untuk ismail dan ishaq, aku memohon untuk kalian berdoa dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan syaithan dan binatang berbisa, dari dari pandangan a’in yang membuat sakit (HR. Bukhari)

Bukan hanya doa, tetapi setelah dikaruniai anak yaitu ismail dan ishaq, nabiyullah Ibrahim memberikan pendidikan terbaik kepada mereka. Beliau menanamkan tauhid yang kuat dan akhlak yang mulia.

Tidak lupa beliau ‘alaihissalam senantiasa menanamkan semangat dalam keluarganya untuk menjaga sholat. Allah ta’ala berfirman,

وكان يأمر أهله بالصلاة والزكاة

Ia senantiasa memerintahkan keluarganya untuk sholat dan membayar zakat (Q.S. Maryam: 55)

Gambaran ini menunjukkan bahwa nabiyullah Ibrahim sangat menjaga kesucian hati dan harta dari keluarganya. Dengan sholat yang dilakukan, ia menginginkan agar anak-anaknya menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar.

Demikian juga dengan zakat yang akan mensucikan harta yang mereka miliki. Dengannya, ketika mereka melakukan amalan sholeh, insyaAllah Allah ta’ala pun akan menerimanya.

Sistem pendidikan seperti ini ternyata juga beliau wariskan kepada anak keturunan beliau. Hal inilah yang akhirnya membuat nabiyullah Ya’qub, cucu nabi Ibrahim ‘alaihissalam sangat perhatian dengan tauhid anak-anaknya. Allah ta’ala mengisahkan,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Apakah kalian menyaksikan ketika kematian mendatangi Ya’qub, ia berkata kepada para anaknya, apa yang akan kalian sembah sepeninggalku. Mereka mengatakan, kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapakmu Ibrahim dan Ismail dan Ishaq, Tuhan yang satu, dan kami hanya pada-Nya berserah diri. (Q.S. Al Baqarah: 133)

Dalam sirah, diceritakan bahwa memang pernah putra-putra beliau melakukan kejahatan karena hasad mereka kepada putra beliau nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam. Namun kemudian mereka bertaubat, dan nabi Ya’qub pun tidak putus asa untuk senantiasa membimbing anak-anaknya.

Kisah serupa juga dilakukan oleh Lukmanul Hakim. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Ketika Luqman berkata kepada anaknya ketika ia memberikan pelajaran padanya, wahai anakku janganlah mensekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedholiman yang besar (Q.S. Luqman: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menuntunkan kepada kita,

مروا أبناءكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين وأضربوهم عليها لعشر وفرقوا بينهم فى المضاجع

Perintahkan anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah ketika berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dengan pendidikan seperti ini, insyaAllah akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah. Anak-anak yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya dan berakhlak mulia terhadap mereka. Allah ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan kami telah mewasiatkan kepada manusia kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan sulit yang bertambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka berterimakasihlah kepada-kupada kedua orang tuamu dan kepada-Ku kalian akan kembali(Q.S. Luqman: 14-15)

Demikian juga anak-anak sholeh ini, akan menjadi bekal bagi kehidupan akhirat orang tua. Ketika mereka sudah meninggal sekalipun, maka pahala pun tetap mengalir karena doa dari anak-anak sholeh yang ditinggalkannya,

إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

Ketika manusia meninggal, maka terputus amalannya kecuali karena tiga perkara, yaitu sedekah jariyah atau ilmu bermanfaat, atau anak sholeh yang senantiasa mendoakannya (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain dari Abi Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الله عز و جل ليرفع الدرجة للعبد الصالح في الجنة فيقول يا رب أنى لي هذه فيقول باستغفار ولدك لك

Sesungguhnya Allah azza wajalah akan mengangkat derajat seorang hamba yang sholeh di surga, kemudia ia berkata wahai Rabb apa yang menyebabkan aku begini? Allah berfirman, karena istighfar anakmu untukmu (HR. Ibnu Majah)

Ibnu Umar pernah mengatakan kepada seseorang,

يا هذا، أحسِن أدبَ ابنك، فإنّك مسؤول عنه، وهو مسؤول عن برِّك

Wahai fulan, perbaikilah adabmu terhadap anakmu, sesungguhnya engkau bertanggungjawab atasnya, dan ia bertanggungjawab untuk berbuat paik padamu

Utbah bin Abi Sofyan pernah mengatakan,

ليكن أول إصلاحك لولدي إصلاحك لنفسك؛ فإن عيونهم معقودة بك؛ فالحسن عندهم ما صنعتَ، والقبيح عندهم ما تركتَ، وعلِّمهم كتاب الله

Kebaikan untuk anakmu harus dimulai dari baiknya diri, karena mata mereka menirimu, dan kebaikan mereka apa yang engkau lakukan, dan kejelekan mereka adalah apa yang engkau tinggalkan, maka ajarkan pada mereka kitab Allah.

Karena itu, orang tua perlu betul-betul bersabar dalam hidup ini, termasuk dalam mendidik anak tadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته الإمام راع ومسؤول عن رعيته والرجل راع في أهله وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها والخادم راع في مال سيده ومسؤول عن رعيته

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian, imam adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggungjawab atasnya. Pembantu juga pemimpin pada harta majikannya dan bertanggungjawab atasnya (HR. Bukhari).

Kita mohon kepada Allah ta’ala, semoga kita semua termasuk di antara orang-orang sholeh yang juga dimudahkan oleh Allah ta’ala untuk mendidik anak-anak kita menjadi orang-orang yang sholeh dan sholehah. Aamin.

 

Malang, 9 Zulhijah 1437 H

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro
 

 

 

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response