Ilmu dan Pengendalian Emosi

Tidak sedikit orang yang emosional menjalani hidup ini. Permasalahan – permasalahan yang muncul tidak dapat direspon dengan baik. Ia gelisah dan kehilangan kejernihan berfikir. Masalah kecil pun menjadi besar.

Seorang yang emosional cenderung lebih dipengaruhi oleh pembentukan lingkungan. Ia tidak terbentuk menjadi seorang mandiri. Kegelisahan keluarga, masalah ekonomi, dan rendahnya pemahamanan terhadap agama membentuk karakter tersebut.

Hal ini menjadi pertimbangan para orang tua dalam mendidik anak – anaknya. Apabila anak sering mendengarkan keluhan dan teriakan dalam rumah, ia akan berkarakter dengan keadaan serupa. Lebih berbahaya jika lingkungan sekolah dan masyarakat juga tidak cukup mendukung.

Seorang yang emosional biasanya mempunyai karakter kurang ilmu dan tidak rasional. Ia mudah mengeluh terhadap berbagai persoalan. Semua terasa sebagai jalan buntu.

Pekerjaan adalah masalah sulit sehingga seakan takdir kemiskinan adalah keharusan. Masalah – masalah lain juga demikian. Ia menderita karena kurang ilmu. Tidak ada kreatifitas dalam menghadapi kesulitan.

Kurangnya ilmu juga membuat seseorang tidak berpikir rasional. Praduga dan perasaan mendominasi. Seseorang seringkali salah mempersepsikan keadaan di sekitar. Kebaikan orang lain bisa saja direspon curiga.

Jiwa semakin tersiksa. Pikiran negatif lebih dominan. Lebih parah ketika jiwanya berada dalam tahap yang melankolis. Apa – apa yang belum terjadi lebih banyak menghantui jiwa. Pertanyaan tentang bagaimana nanti memenuhi otaknya. Pada akhirnya kenikmatan terhadap proses tidak diresapi.

Pernah ada kejadian di sebuah keluarga. Suami marah kepada istrinya karena kaos kaki yang akan digunakan tidak ditemukan. Sang istri lupa mempersiapkan. Sang suami berkata

“mama bagaimana sih…coba kalau kaki papa lecet. Kan bisa infeksi. Terus kalu infeksi kan butuh diamputasi. Kalau sudah diamputasi papa kan tidak bisa lagi kerja. Mama juga kan yang kena. Ntar mau makan dari mana…..?!!”

Demikianlah seorang yang kurang ilmunya menyikapi masalah. Alasan yang diberikan jauh dari pikiran rasional, bahkan sangat melankolis. Bagaimana mungkin masalah kaos kaki menjadi kemarahan dengan alasan penghidupan. Terlalu jauh!!

Seorang yang baik pemahaman keilmuannya dan ilmu tersebut terinternalisasi sebagai karakter tidak akan bersikap demikian. Ia lebih proporsional. Kemarahan atau emosi semata tidak akan menyelesaikan masalah. Jika pun harus marah tetap dengan alasan yang tepat. Tentang apa yang terjadi dan tidak perlu terlalu menakutkan apa yang akan terjadi.

Karena itu pula kajian – kajian keilmuan, budaya membaca, berfikir rasional, pendidikan akhlak dan pembentukan keperibadian islami perlu digalakkan. Tidak banyak persoalan cukup serius dalam hidup ini yang memang harus dimasalahkan. Hanya karena kurangnya kepamahan.

Dalam hal ini ilmu yang dimaksudkan tentu tidak sebatas seberapa banyak hapalan dan kemampuan berhitung. Tetapi lebih kepada kepekaan jiwa.

Adakah ilmu yang dipelajari seseorang mampu menjadikan ia lebih berkarakter. Siap dengan segala resiko yang muncul dan senantiasa rindu kepada kebenaran. Akhlak hidupnya begitu indah. Adakah kita?

(Bandung, 3 Juli 2005)

Leave a Response