Ilmu dan Perjuangan

Sangat nampak perbedaan orang berilmu dengan tidak dalam bergaul dan pembicaraan. Belajar dari orang – orang bodoh adalah kecelakaan. Apa yang disampaikan sulit diterima hati. Tidak membuat jiwa tenang. Hanya sebatas logika dan perasaan semata.

Anehnya orang – orang ini merasa diri benar. Meski mungkin saja dalam hatinya muncul ketidakpuasan atau paling tidak kehampaan. Hilang bekas dan tidak bermakna.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga setiap orang. Hendaknya dapat memahami persoalan dengan baik. Pembicaraan atau perbuatan yang tidak didasari atas landasan ilmu adalah kerugian. Tidak seharusnya dilakukan. Dalam konsep agama pun akan dimintai pertanggungjawaban. Yang paling jelas adalah tidak ada kemanfaatan.

Orang yang bodoh akan senantiasa mengulang kebodohannya dalam setiap pembicaraan. Ia lebih mengutamakan penampakan daripada kerahasiaan. Lebih mendahulukan menyampaikan daripada belajar. Kehilangan semangat yang benar. Dikenal atau merasa diri terkenal adalah musuh.

Yang bersangkutan dalam keadaan seperti ini perlu melakukan terapi diri yang lebih mendalam. Ia hendaknya dapat mulai merenung kembali terhadap semua perbuatan.

Hidup yang singkat bagi orang – orang ini tidak dimanfaatkan maksimal. Seakan telah melakukan banyak hal, padahal tidak berarti. Sangat sedikit dibandingkan kesempatan.

Apalagi ketika manusia telah memiliki keutamaan yang banyak diharapkan orang. Semangat berada digaris yang benar akan memudar. Mereka terus menikmati sampai merasa bosan. Bahkan untuk kepentingan makan saja sudah mengalami kebingungan.

Harta, tahta dan wanita yang mereka “miliki“ menimbulkan kejenuhan. Bosan. Tidak ada orientasi yang jelas dalam hidup.

Demikian pelajaran penting dalam hidup. Tidak ada artinya ketika hanya difokuskan untuk kepentingan kekinian tanpa semangat perjuangan. Melelahkan.

Yang belum sampai ke puncak pun ketika dikejar dengan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dicari akan kebingungan. Kesadaran hendaknya dimunculkan.

Cerita menarik ketika seorang nelayan kecil diberi masukan untuk memperbesar usahanya. Menggunakan kapal yang besar dan perlengkapan modern. Hasil tangkapan lebih banyak dan bisa menjadi orang kaya.

Tetapi nelayan dengan lugu balik bertanya, ”lantas kalau sudah kaya, mengapa? “. Pemberi saran mengatakan bahwa ia akan bahagia. Tetapi nelayan kecil balik berkata bahwa jika hanya agar bahagia, maka sesungguhnya sekarang pun ia sudah bahagia. Jadi tidak perlu terlalu berambisi, apalagi sampai merugikan orang lain.

Sungguh, perjuangan hidup ini akan melahirkan ketenangan dan kelapangan dada. Itulah kebahagiaan yang tidak boleh ditunda. Perjuangan adalah kenikmatan.

Jadi seorang yang belum berhasil meraih sesuatu jangan pernah berfikir akan merasa bahagia apabila telah mendapatkan keinginannya. Tetapi bahagialah dengan upaya yang dilakukan. Karena bahagia adalah pekerjaan hati dan sangat dipengaruhi oleh cara berfikir.

Seorang yang berfikir bahagia, ia akan benar – benar bahagia. Dan ini tidak dapat dilakukan tanpa ilmu. Kecintaan dan kepahaman terhadap ilmu. Semangat untuk mengetahui dan senantiasa memperjuangkan kebenaran.

Demikian beberapa kelebihan orang berilmu. Mereka adalah orang – orang yang dapat merasakan bahagia, dalam keadaan apapun. Pembicaraan dan sikapnya pun menarik simpati dan mudah dikuti. Kebenaran yang diperjuangkan lebih mudah tercapai.

Ilmu sebagai kekuatan. Kemudahan. Dan anugerah perjuangan. Semangat dan usaha untuk terus belajar. (Yogyakarta, 19 Juli 2005)

Leave a Response