India Produksi Tablet Murah

Tulisan ini dimuat dalam buletin Atase Pendidikan KBRI New Delhi Edisi X, ditampilkan di blog dengan harapan agar bisa berbagi informasi bagi teman-teman yang belum bisa mendapatkan buletin tersebut

Inovasi dalam bidang pendidikan dan teknologi selalu menarik untuk diikuti. Hampir serupa dengan berita di Indonesia tentang mobil Esemka yang sedang marak dibicarakan, India hangat dengan isu komputer tablet murah, Aakash. Selain merupakan karya mahasiswa Indian Institute of Technology (IIT) Rajashtan, tablet ini juga mempermudah program pemerintah untuk meningkatkan akses berbagai bahan pembelajaran secara online dan upaya merealisasikan sistem e-government. Berkenaan dengan hal tersebut, Sukriya mengangkat isu ini sebagai topik utama.

Tablet Aakash Diproduksi IIT-Rajashtan

Tablet Aakash yang sudah di-launching pada tanggal 5 Oktober 2011 yang lalu di New Delhi, merupakan hasil karya mahasiswa IIT Rajashtan India di bawah misi nasional Kementerian HRD (sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan di Indonesia) yang melakukan joint venture dengan perusahaan Kanada, Datawind. Hal ini semakin menguatkan posisi India sebagai pusat pengembangan teknologi dunia, mengingat kualitas alumninya  yang sudah diakui dunia. Salah satunya terbukti dengan berbagai perusahaan besar seperti Microsoft dan facebook yang melakukan rekruitmen langsung alumni kampus-kampus IIT  India.

Bagi India, peran berbagai kampus IIT ini sangat strategis untuk melahirkan ilmuan dan teknisi mumpuni di bidang teknologi. Dengannya India mampu mencetak para tenaga kerja yang siap pakai oleh industri. Hal ini pada akhirnya  menjadi penopang perkembangan ekonomi dan sosial India sebagai the new emerging power in the world. Respon dunia Internasional pun sangat positif, misalnya dengan kepercayaan pemerintah Inggris yang menginvestasikan uang  £9.2 million untuk riset teknologi komunikasi digital yang melibatkan kampus-kampus  IIT.[1]

Melihat posisi teknologi yang begitu strategis tersebut, pemerintah India memberikan perhatian khusus terhadap IIT dan semakin menggalakkan pembangunan berbagai kampus IIT  baru. Paling tidak sudah terdapat beberapa kampus IIT, antaralain IIT Kharagpur (1951), IIT Bombay di Mumbai (1958), IIT Madras di Chennai (1959), IIT Kanpur di Kanpur (1959), IIT Delhi di New Delhi (1963), IIT Guwahati di Guwahati (1994), IIT Roorkee di Roorkee (2001),  IIT Ropar di Rupnagar (2008), IIT Bhubaneswar di Bhubaneswar (2008), IIT Gandhinagar di Gandhinagar (2008), IIT Hyderabad di Hyderabad (2008), IIT Patna di Patna (2008), IIT Rajasthan di Rajasthan (2008), IIT Mandi di Mandi (2009), dan IIT Indore di Indore (2009). Dalam waktu dekat, pemerintah India pun berencana untuk membangun beberapa kampus IIT baru lagi.

Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa IIT Rajashtan yang memproduksi Aakash masih berusia sangat muda, yaitu 4 tahun. Namun dari segi prestasi kampus ini sudah cukup membanggakan. Setelah me-lauching Aakash edisi pertama, dengan cepat mereka mampu merespon masukan dari para pengguna uji coba.  Sekarang, Aakash sudah memasuki edisi upgrade yang akan segera dilaunching pada bulan April 2012 nanti.

Menurut Prasanto Roy, upgrade ini dilakukan berdasarkan masukan para pengguna terhadap edisi pertama yang menyatakan bahwa kemampuan baterenya hanya berkisar 3 jam, layarny kurang sufficient, dan perlunya upgrade berbagai fasilitas seperti kecepatan, alat agar tidak cepat panas, kualitas suara yang kurang bagus, ketidakmampuan menginstal software gratis secara online, dan sarana mempermudah akses di daerah pedesaan. ”Semua masalah tersebut sudah diatasi dalam upgrade Aakash edisi baru” tegasnya.

Dengan respon yang cepat tersebut, permintaan terhadap Aakash semakin banyak yaitu 2 juta pemesan lebih pada akhir Januari 2011. Selain karena kualitasnya yang tidak diragukan dan sudah di-upgrade, tingginya permintaan tersebut juga dikarenakan tablet Aakash dijual dengan harga murah dan proses pemesanannya pun mudah yaitu dilakukan secara online di situs http://www.ubislate.com/ atau http://www.akashtablet.com/.

Untuk masyarakat umum tablet ini bisa dibeli dengan harga Rs.2,999 atau sekitar 600 ribu rupiah dengan hanya memesan secara online dan pembayaran kontan pada saat Aakash diantarkan ke rumah, atau dengan pembayaran online, dengan check, atau dengan demand draft. Sementara untuk mahasiswa, mereka mendapatkan diskon 50 % karena disubsidi oleh pemerintah dengan pemesanan melalui jurusan masing-masing.

Tablet ini bisa dijual dengan harga murah karena selain jumlah pasar yang begitu besar mengingat penduduk India berjumlah lebih dari 1,2 milliar, juga dikarenakan program yang dikelola oleh kampus IIT yang masih berusia 4 tahun ini mendapatkan dukungan dari pemerintah India khusunya kementerian HRD dengan membentuk program National Mission for Information Communication Technology (NMICT). Program NMICT ini dimulai sejak Januari tahun 2007 dengan melibatkan sekitar 170 mahasiswa dari kampus tersebut dibawah pimpinan kampus yang bernama Prem Kalra.

Adapun idenya muncul karena adanya semangat nasionalisme yang tinggi dimana pada tahun 2005 Kementrian HRD India menolak proposal dari Planning Commission India untuk membeli laptop murah seharga 100 US $ (atau sekitar 1 juta rupiah) yang diproduksi oleh Massachusetts Institute of Technology (Amerika Serikat). Dengan perkiraan harga laptop di pasaran mencapai 800 US$ (atau sekitar 8 juta rupiah dengan kurs pada tahun tersebut) maka pilihan terhadap laptop mini dari MIT terlihat murah. Para analis pendidikan pada saat itu hampir setuju dengan pembelian laptop dari MIT. Namun salah satunya orang yang menolak ide tersebut adalah NK Sinha salah seorang dari joint secretary kementrian HRD India, yang juga seorang pengamat IT.

Sekretaris Menteri HRD India RP Aggarwal pun menyetujui rencana Sinha untuk mengembangkan komputer murah tersebut dan mengamanatkan kepadanya untuk membentuk sebuah tim ahli yang terdiri dari ahli IT untuk mewujudkan ide tersebut. Sebuah terobosan penting datang di tahun 2007, ketika seorang mahasiswa akhir tahun dari IIT menemukan sebuah prototype motherboard yang diperkirakan mampu dikembangkan menjadi komputer dengan harga murah. NK Sinha pun menyebut penemuan tersebut sebagai “harapan awal untuk mewujudkan kenyataan”.

Akhirnya setelah kurang lebih 2 tahun, tim IIT yang dikomandani oleh  Sinha berhasil  mengembangkan sebuah model laptop mini termurah di dunia. Untuk proses produksi, pemerintah menyerahkan program tersebut kepada NMICT dan IIT Rajashtan untuk merampungkan program tersebut.

Aakash dan Program Pemerintah

Dukungan pemerintah, terutama kementerian HRD India untuk mensukseskan program pembuatan tablet termurah di dunia ini tidak terlepas dari keinginan pemerintah India untuk semakin meningkatkan kualitas pendidikan dan sistem e-govenment di India. Oleh karena itu, keterlibatan pemerintah tidak sebatas dalam produksi melainkan juga dalam pendistribusian. Pemerintah India memberikan subsidi Aakash untuk para pelajar dan mahasiswa.

Menurut Menteri HRD India, Kapil Sibal, Aakash merupakan fasilitas yang diperuntukkan bagi anak-anak India agar bisa mendapatkan akses yang lebih baik terhadap pendidikan. Subsidi dan harga murah diberlakukan agar para pelajar dan mahasiswa di India dapat membeli tablet Aakash dengan harga murah dan terjangkau. Harapannya, para pelajar dan mahasiswa dapat mengakses pengetahuan yang lebih banyak dari Internet dan memudahkan proses belajar mengajar.

Selain itu, Kapil Sibal juga optimis bahwa dengan memproduk Aakash, hal ini mampu menggantikan produk Apple Inc’s iPad yang harganya masih cukup mahal. Sementara di India, sebagian besar penduduknya masih hidup dalam keadaan miskin. ”Oleh karena itu, kehadiran Aakash ini diharapkan mampu menyelesaikan kesenjangan antara orang miskin dan kaya dalam hal mengakses dunia digital’, terang Kapil Sibal.

Lebih lanjut bahkan Kapil Sibal ingin agar Aakash juga bisa membantu pemerintah India merealisasikan e-governance. Dengan cari ini program pemberantasan korupsi di India akan lebih mudah dilakukan. Untuk menyegerakan terlaksananya proyek e-governance ini, Kapil Sibal telah menulis surat kepada semua Kementerian agar mempertimbangkan program ini dan meminta semua kementerian untuk merekomendasikan aplikasi yang mereka inginkan untuk dirancang dalam tablet tersebut.

Meskipun demikian, kebijakan pemerintah ini tetap mengundang pro dan kontra. Kebanyakan mahasiswa yang ditemui Sukriya menyatakan bahwa mereka sangat senang dengan program ini. “Saya optimis dengan dukungan pemerintah untuk mengembangkan teknologi dalam dunia pendidikan di India, kualitas pendidikan di sini ke depannya akan semakin meningkat. Dengan adanya fasilitas Aakash, saya yakin proses pembelajaran akan lebih inovatif, menyenangkan, dan berkualitas”, pendapat Mohd Irfan, mahasiswa MA Political Science Jamia Millia Islamia.

Akan tetapi sebagian orang tua mahasiswa dan siswa meragukan korelasi program ini dengan kesuksesan pendidikan India. Mereka justru khawati jika Aakash hanya digunakan untuk bersenang-senang oleh anak-anak mereka dan malah menurunkan produktifitas pelajar dan mahasiswa. “Komputer hanya akan menghambat dan bukannya membantu pendidikan anak. Saya lebih memilih anak-anak saya belajar menggunakan cara tradisional seperti menulis, daripada memberi fasilitas kepada mereka alat yang canggih pada usia muda.” tegas salah seorang bapak.

Terlepas dari pro kontra tersebut, Dr. Eng. Son Kuswadi, Atase Pendidikan Indonesia di KBRI New Delhi menilai bahwa Indonesia bisa belajar banyak hal dari isu ini. ”Selain menjadi peluang untuk semakin mengintensifkan kerjasama dengan kampus-kampus di India, berita ini juga bisa menjadi inspirasi bagi kampus-kampus Indonesia agar bisa lebih inovatif dan produktif dalam berkarya untuk membangun bangsa”, ujarnya.(red)

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response