IT Dalam Sistem Pembelajaran India

Tulisan ini dimuat dalam buletin Atase Pendidikan KBRI New Delhi Edisi XI, ditampilkan di blog dengan harapan agar bisa berbagi informasi bagi teman-teman yang belum bisa mendapatkan buletin tersebut

Selama ini pendidikan India lebih banyak diidentikkan dengan  penampilan gedung dan fasilitas pembelajaran yang begitu sederhana tetapi fungsional. Bahkan jika dibandingkan dengan kampus-kampus India, penampilan kampus-kampus di Indonesia jauh lebih meyakinkan, meskipun dari segi produktifitas hasil penelitian masih kalah.

Akan tetapi beberapa tahun terakhir ini, pemerintah India mulai memberikan perhatian untuk penerapan sistem pembelajaran berbasis IT. Dengan cara ini, selain berbagai sumber pembelajaran yang semakin mudah diakses oleh mahasiswa India, kualitas pendidikan India pun semakin dikenal dunia.

Tuntutan Kebutuhan IT Dalam Sistem Pembelajaran

Perkembangan teknologi memberikan pengaruh signifikan terhadap sistem dan metode pembelajaran di era ini. Melalui media online dengan fasilitas iPad dan tablets, pembelajaran di kelas bisa dilakukan dengan lebih inovatif, menyenangkan, dan berkualitas.

Hal ini diharapkan mampu memenuhi tuntutan perkembangan dunia modern yang menghendaki sistem pembelajaran di kelas yang proaktif dalam penggunaan sarana dan update dalam hal materi. Dengannya penyiapan generasi yang memiliki kemampuan yang memadai dapat terwujud.

Menyikapi perkembangan tersebut, India melakukan beberapa terobosan dalam pendidikannya. Beberapa kampus sudah mulai memperkenal berbagai fasilitas IT ini dalam proses pembelajaran. Paling tidak dengan penyediaan fasilitas wi-fi di lingkungan kampus.

Pemerintah pun mendorong upaya ini dengan memberikan subsidi 50% kepada mahasiswa yang ingin membeli produk tablet murah, Aakash. Selain itu, pemerintah India juga melakukan beberapa kerjasama dengan masyarakat dan alumni untuk membangun budaya melek teknologi di kalangan mahasiswa.

Masyarakat dan alumni pun mendukung kerjasama dengan pemerintah  ini dalam upaya memasyarakatkan sistem pembelajaran online. Salah satunya terlihat dari beberapa alumni yang membentuk komunitas untuk menyediakan fasilitas pembelajaran online. Misalnya upaya yang dilakukan oleh iPof Learning Solutions India Pvt. Ltd, salah satu perusahaan e-learning India.

Perusahaan ini memperkenalkan education tablet yang membekali  mahasiswa  bahan pembelajaran untuk mengikuti berbagai ujian kompetitif yaitu  Indian Institute of Technology Joint Entrance Examination (IIT-JEE), Common Admission Test (CAT) dan Graduates Management Aptitude Test (GMAT).

Sistem yang ditawarkan perusahaan ini cukup sederhana tetapi menarik. Mahasiswa diminta untuk membeli education tablet, dan di sana tersedia fasilitas untuk berlangganan rancangan tertentu. Dalam hal ini, perusahaan iPof menyediakan fasilitas pusat-pusat pendidikan yang dinamakan ‘istudy zones,’.

Melalui pusat tersebut, mahasiswa akan mendapatkan akses layanan  perpustakaan e-learning, yang berisi informasi mengenai format-format yang berbeda yaitu audio-video perkuliahan, film animasi, tes terstruktur yang dapat memberikan analisa kinerja instan.

Melalui fasilitas, ini, mahasiswa dapat mengambil paket materi tertentu yang belum difahami serta dipraktekkan sebanyak yang diinginkan. Setelah menyelesaikan modul studi, mereka yakin dapat online di istudy zones pada waktu tertentu. Saat ini, i-Pof sudah memiliki perkuliahan selama 2.000 jam dan sedang memproses jam penambahan.

Untuk keperluan kerjasama dan pengembangan IT dalam sistem pembelajaran ini, pemerintah India menyiapkan anggaran yang tidak sedikit. Sanjay Purohit, pendiri dan CEO iPof, mengatakan, “India memiliki dana US$ 2.5 milyar bagi uji industri persiapan, yang tumbuh sebesar 15% per tahun.

Meskipun demikian, upaya tersebut masih dalam proses dan memerlukan waktu panjang, terutama dalam hal pemerataan sistem. Pendidikan berbasis internet masih mengalami hambatan berkaitan dengan kurangnya infrastruktur yang tepat, terutama di kota-kota kecil.

Sambutan Mahasiswa India

Menanggapi pengenalan IT dalam sistem pendidikan India ini, para mahasiswa menyambutnya dengan antusias. Hal ini misalnya terlihat dari tanggapan beberapa mahasiswa Zakir Hussain College dan Jamia Millia Islamia yang sudah mulai menyediakan fasilitas wi-fi di kampus mereka.

Melalui sistem ini, mahasiswa pun bisa mengakses berbagai macam buku, karya tulis, dan jurnal dengan mudah, hanya dengan membuka akses library di kampus masing-masing. Bahan tersebut semakin lengkap jika pihak kampus bekerjasama dengan beberapa kampus atau lembaga lain, sebagaimana dilakukan oleh Zakir Hussain College yang menggandengkan Hindu College, Ramjas College and Shri Ram College of Commerce sebagai colleges yang mengaktifkan wi-fi.

Mahasiwa India menyatakan rasa senangnya karena kemudahan ini. Madhumita Ray, Mahasiswa tahun kedua di Zakir Hussain College menyatakan bahwa dengan fasilitas wi-fi, ia bisa mengakses internet di kampus dengan mudah dan tidak perlu pulang ke rumah dulu seperti sebelumnya. ”Apalagi kita bisa mengakses karya-karya penelitian dan jurnal dalam jumlah yang sangat banyak. Ini merupakan suatu kemajuan yang menggembirakan”, komentarnya.

Saykhun Amirov, mahasiswa M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, menilai bahwa pengenalan IT dalam sistem pembelajaran di kampus sangat positif. Ia bahkan berpendapat bahwa dengan pembelajaran online, sebenarnya kemungkinan peningkatan jumlah mahasiswa yang bisa mendapatkan akses pendidikan tinggi sangat besar. Hal ini mengingat sistem pembelajaran yang tidak hanya sebatas di kelas saja.

Adapun pertemuan di kelas, menurutnya, harus dimanfaatkan secara optimal untuk berdiskusi. Kelas tidak lagi menjadi sistem yang baku dalam pembelajaran. ”Dengan pemanfaatan IT dalam sistem pembelajaran, pertemuan di kelas sebenarnya bisa diefektifkan untuk membahas hal-hal yang belum dipahami oleh mahasiswa saja” pendapatnya.

Meskipun demikian, Arshi Jawed, mahasiswa Jamia Millia Islamia dari Kashmir, berpendapat bahwa sistem ini merupakan suatu kemajuan dalam pendidikan India. Namun ia percaya bahwa hal ini hanya bisa dijalankan dengan baik jika baik mahasiswa mau pun dosen mempunyai persepsi yang sama tentang teknologi. ”Jika masih ada dosen yang tidak mengenal baik teknologi dan mahasiswa juga menggunakan teknologi tidak secara ilmiah dalam proses pembelajaran, tentu hasil yang maksimal masih sulit diwujudkan”, tegasnya.

Dari berbagai pendapat di atas terlihat bahwa sebenarnya teknologi akan sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan India dan memperkenalkannya kepada masyarakat Internasional. Hanya saja proses   pembangunan mental dan keterampilan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut secara maksimal sangat diperlukan.

Mahasiswa Amerika Pun Belajar Tutor Online dari India

Meskipun baru dilaksanakan di beberapa kampus dan lembaga pendidikan India, sistem pembelajaran online ini sudah menunjukkan hasil yang positif dalam memperkenalkan pendidikan India kepada dunia Internasional. Melalui fasilitas online, pendidikan India sudah bisa diikuti oleh mahasiswa dari berbagai belahan dunia, termasuk Amerika.

Salah satu fasilitas pendidikan online yang ada di India dikelola oleh Kantor Krishnan dan Meena Ganesha, yang merupakan sebuah bangunan kecil di Domlur, wilayah perumahan sebagian besar di Bangalore. Melalui fasilitas online, Krishnan dan Meena Ganesha menjalankan semua operasi TutorVista.com. Hasilnya, lembaga ini sudah mempunyai lebih dari 20.000 siswa yang tersebar di Amerika dan Inggris  dan mempekerjakan lebih dari 3000 orang India (data dari www.tutorvista.co.in/management.php).

Adapun sistem yang digunakan adalah dengan mengembangkan platform software yang merupakan virtual kampus yang disediakan untuk penerimaan, ruang kelas, penjadwalan, koleksi, akuntansi, rekrutmen dan penggajian para tutor. Siswa  dapat mengatur waktunya dengan tutor tertentu, atau dapat memilih tutor yang diinginkan dengan mengklik opsi pilihan yang ada. Intinya, semua sistem dilakukan secara online.

Bahkan, sejak tahun 2007, TutorVista mengakuisi Edurite technologies, yang beroperasi di India, yang menciptakan platform pembelajaran interaktif digital untuk ruang kelas.  Dengan cara ini, pelajaran-pelajaran dapat dijelaskan lebih baik dengan bantuan 2D, 3D dan konten animasi. Meskipun di dunia maya, tetapi proses pembelajaran seakan diadakan di satu kelas secara bersama.(red)

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response