Jangan Menikahi Pezina

Beberapa berita di sekitar kita menggambarkan banyaknya di kalangan anak muda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga pun melakukan perzinahan. Padahal, jangankan di akhirat, ketika di dunia saja hukuman bag para pezina sudah cukup berat.

Mereka yang sudah menikah maka hukumannya adalah rajam, adalah mereka yang belum menikah, masing-masing dicambuk seratus kali dengan disaksikan oleh kaum muslimin sebelum kemudian dipisahkan keduanya.

Sayangnya, dalam perkara menemukan pasangan untuk pernikahan, ternyata tidak semua orang memperhatikan syariat Islam dalam perkara ini. Padahal Allah ta’ala telah berfirman,

الزاني لا ينكح إلا زانية أو مشركة والزانية لا ينكحها إلا زان أو مشرك وحرم ذلك على المؤمنين

Pezina laki-laki tidaklah menikah kecuali dengan pezina perempuan atau orang musyrik, dan sebaliknya wanita pezina tidaklah menikah kecuali dengan lelaki pezina atau musyrik, dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman (Q.S. Annur: 3)

Dari ayat ini, terlihat bahwa posisi laki-laki dan perempuan sama dalam menentukan pasangan hidupnya. Hendaklah mereka yang beriman tidak menikahi pezina sampai kemudian mereka betul-betul bertaubat kepada Allah ta’ala.

Memang para ulama berbeda pendapat berkaitan dengan tafsir ayat ini. Pendapat pertama secara keras memaknai bahwa ayat ini bermakna pengharaman pernikahan antara orang yang baik-baik dengan pezina.

Ini merupakan pendapat imam Ahmad bin Hambal,  syaikhul Islam ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Menurut mereka, jika dilihat dari sebab turunnya ayat, maka terlihat bahwa ayat ini memang pengharaman untuk menikahi pezina.

Piceritakan bahwa pernah Anas meminta izin kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam untuk menikahi seoang wanita yang dikenal sebagai pezina, maka pada saat itu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam terdiam sejenak dan turunlah ayat ini. Kemudian beliau mengatakan, jangan nikahi dia.

Adapun pendapat kedua, bermakna tidak pada level pengharaman sebaimana dalam pendapat Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dan Ibnu Abbas rahimahullah.

Perbedaan penafsiran tersebut disebabkan oleh pemahaman tentang makna kata nikah dalam ayat tadi yang mana sebagian memaknainya sebagai akad nikah, dan lainnya menilai sebagai jima’.

Namun bagi pendapat yang mengharamkan, alasan hanya sebatas jima’ tidak bisa diterima, karena ada hadits lain yang menguatkan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الزاني المجلود لا ينكح إلا مثله

Pezina hendaklah mereka dicambuk dan tidak dinikahi kecuali yang semisalnya (HR.Ahmad dan Abu Daud)

Dan sudah jelas bahwa kita diperintakan untuk menikah dengan seorang yang terjaga agamanya. Dan tidak mungkin mereka yang takut kepada Allah akan melakukan perzinahan.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda          ,

فاظفر بذات الدين تربت بداك

Maka nikahilah karena agamanya, tanganmu akan bersatu dengan tanah – beruntung (HR.Bukhari)

Semoga kita semua dikaruniai oleh Allah pasangan-pasangan yang suci dan terhindar dari perzinahan. Aamin.

 

Trento, 3 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response