Jangan Takut Menganggur!!!

Dimana pun pekerjaan ternyata bukan hal mudah. Salah besar ketika banyak orang berlomba – lomba mencari pekerjaan dengan resiko ringan tetapi mengharapkan hasil yang baik. Atas alasan gengsi sekali pun.

Seorang sarjana misalnya tidak menjadi jaminan mendapatkan kehidupan lebih baik dengan gaji sesuai harapan ketika ia tidak siap menghadapi semua bentuk tantangan.

Banyak yang bermimpi menjadi orang besar tetapi hanya melihat keberhasilan dari akhirnya. Andai saja mereka memperhatikan bagaimana kesuksesan diraih, semakin sadar diri bahwa tidak ada sesuatu pun yang datang secara tiba – tiba.

Kerja keras. Perjuangan. Siap menghadapi resiko apapun yang akan terjadi adalah modal penting.

Zaman seringkali dijadikan alasan. Demikian adanya. Mencari pekerjaan dari masa kemasa semakin sulit.

Dosen saya pernah menceritakan bahwa pada tahun 70 -an dan 80 – an para sarjana banyak yang sudah ditawari pekerjaan sebelum tamat.

Tidak sekarang. Lulusan S2 pun banyak yang menjadi pengangguran. Masa telah berubah. Sarjana di zaman sekarang sudah sedemikian banyak.

Yang penting kemudian dan menjadi syarat setiap zaman adalah kualitas diri. Dimana pun dan dalam keadaan apapun seorang yang tahu bahwa ia mempunyai kemampuan khusus, sejenis keterampilan atau pengetahuan yang menjadikan dirinya sebagai referensi orang lain, tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan. Ia tetap dibutuhkan kapan dan dimana saja.

Persoalannya adalah bahwa tidak mudah untuk mempunyai keahlian khusus tersebut. Mungkin alasan zaman lagi. Sistem pendidikan yang membesarkan mereka sekarang ini tidak lagi berorientasi kualitas. Hanya semboyan. Dalam kenyataannya kualitas guru dan dosen tidak cukup baik.

Mereka banyak yang tidak mengembangkan secara maksimal potensi diri karena tuntutan ekonomi. Atau memang input yang menjadi guru tidak cukup berkualitas.

Bahkan maaf, muncul kesan seakan guru pekerjaan buangan. Amat sedikit diantara siswa yang berprestasi bagus bercita – cita menjadi guru.

Biaya sekolah yang mahal, pengaruh media dan lingkungan yang tidak baik dan seterusnya juga memberikan pengaruh yang tidak kecil.

Siswa miskin lebih banyak yang tidak sekolah atau pun kalau sekolah tidak berkonsentrasi karena masih harus bekerja.

Sementara kelas menengah keatas merasa bahwa kehidupan masa sekolah sesuatu yang harus dinikmati. Bukan sebagai masa perjuangan.

Mereka banyak terpengaruh dengan budaya yang digambarkan sinetron. Berhura – hura, pacaran, penghormatan yang rendah terhadap guru dan perilaku tidak baik lainnya.

Mereka menikmati hal ini sampai ketika dewasa terasa bahwa ia belum mempunyai keterampilan apa – apa. Ketakutan dan kecemasan datang.

Budaya instan tidak dapat ditinggalkan. Ketika mempunyai kesempatan tidak jarang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Korupsi sulit dihentikan dengan sistem ini.

Demikianlah salah satu hal yang cukup berpengaruh terhadap persoalan pekerjaan di negeri ini. Pengangguran semakin bertambah, sementara budaya untuk siap hidup susah belum terbangun.

Pendidikan mempunyai tanggung jawab besar disamping persoalan kebijakan pemerintah terutama dalam bidang ekonomi. Tetapi saya pikir tetap saja tidak menjadi persoalan ketika setiap orang sadar bahwa bekerja itu susah sebagus apapun posisinya.

Hanya saja dengan penyikapan yang benar, kesulitan itulah yang membuat orang lebih memaknai hidup dan merasa tenang bersama segala usahanya.

Kejujuran menjadi kekuatan mereka. Setiap saat dilakukan untuk memperbaiki diri dan menyiapkan masa depan.

Tidak pantas hidup ini dihadapi dengan ketakutan. Kesiapan dan senyum ceria harus selalu menyertai. Usaha keras menjadi jawaban. Sungguh hidup ini indah!!!

Bandung, 29 Juni 2005

Leave a Response