Jangan Takut Menikahi Janda

Asal keutamaan menikah adalah dengan gadis. Namun demikian, tidak berarti kita dilarang menikahi janda, apalagi dengan berbagai pertimbangan sesuai keadaan diri kita.

Syaikh Muhammad Sholeh Al Munajid pernah ditanya, bahwa ada seseorang yang mengenal seorang janda beranak, dan ia ingin menikahinya. Maka mana yang lebih baik apakah menikahi janda tadi atau mencari seorang gadis?

Menjawab pertanyaan tersebut, maka Syaikh Al Munajid mengatakan bahwa hal ini tergantung dengan niat dan keadaan seseorang dalam pernikahan.

Jika memang dengan pernikahan terhadap janda tadi akan mendatangkan banyak manfaat, maka tentu itu menjadi lebih utama.

Hal ini misalnya terlihat dalam kisah Jabir radiyallahu ‘anhu yang menikahi seorang janda sepeninggal orang tuanya, padahal ia masih mempunyai beberapa saudara perempuan yang membutuhkan perhatian. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pun mendoakan untuknya keberkahan.

Demikian juga halnya dengan Nabi kita, Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Kebanyakan dari istri beliau adalah janda, dan hanya A’isyah radiyallahu ‘anha saja yang gadis.

Namun dalam realitanya pernikahan beliau sangat bahagia. Apalagi dengan ibunda Khadijah radiyallahu ‘anha yang ketika menikah dengan beliau shollallahu ‘alaihi wasallam usianya ibunda Khadijah 15 tahun lebih tua.

Melalui pernikahan ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mempunyai beberapa orang anak. Dan selama menikah dengan khadijah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menikah dengan wanita lain.

Bahkan ketika sudah menikah dengan A’isyah radiyallahu ‘anha pun, Rasullah shollallahu ‘alaihi wasallam masih menunjukkan rasa cintanya kepada Khadijah radiyallahu ‘anha.

Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan sangat tergantung dengan niat dan bagaimana menjalaninya secara syar’I, bukan pada apakah menikah dengan gadis atau janda.

Dengan meniatkan pernikahan hanya untuk beribadah kepada Allah ta’ala, maka insyaAllah akan datang keberkahan dan pahala yang banyak. Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallam bersabda,

السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِيْنِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَكَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ

Orang yang membantuk janda dan orang-orang miskin, seperti mujahid di jalan Allah, atau semisal orang yang berpuasa pada siang hari dan sholat di malam hari (HR. Bukhari Muslim).

Dan salah satu cara membantu para janda adalah dengan menikahinya ikhlas karena Allah ta’ala. Dan sudah jelas, para ulama melarang misalnya seseorang menikahi janda karena kekayaan yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan niat yang tidak bersih.

Padahal dalam perkara rejeki, Allah ta’ala berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Tidak ada satu binatang melatapun di muka bumi kecuali padanya sudah terdapat rezekinya (Q.S. Hud: 6)

Adapun kita manusia hanya mencari sebab. Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa tidak ada keraguan pada pada setiap wanita baik gadis maupun janda, dan anak, maka padanya akan terdapat rezki dari Allah ta’ala.

Dengan pernikahan insyaAllah Allah pun akan mengaruniakan kekayaan kepada kita, sebagaiman firman Allah ta’ala,

يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

Jika mereka miskin, maka Allah akan mengayakan mereka dengan keutamaan-Nya (Q.S. Annur: 32)

Selain itu, dengan niat yang ikhlas dalam pernikahan dengan janda, maka banyak pula kebaikan yang bisa didapatkan. Paling tidak bisa membuat saudaramu terhindar dari kemaksiatan

Begitu juga apabila ia mempunyai anak-anak yatim karena suaminya meninggal, maka Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam pun menjanjikan ganjaran yang besar kepada mereka, sebagaimana sabda beliau shollallahu ‘alaihi wasallam,

أنا وكافلُ اليتيم في الجنة كهاتين

Aku dan yang memelihara anak yatim di dalam sorga seperti ini (HR.Muslim)

Sembari beliau shollallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan dengan kedua jarinya.

Karena menikahi janda harus diniatkan untuk beribadah kepada Allah ta’ala, maka perkara agama sang janda tetap harus menjadi prioritas. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah karena agamanya tanganmu bersatu dengan tanah /kamu pasti beruntung (HR. Bukhari Muslim)

Apalagi dalam hadis yang lain, Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah (HR.

Artinya jika janda tadi adalah seorang yang bagus agama dan akhlaknya, maka jangan takut untuk menikahi seorang janda. Semoga Allah ta’ala pun memberikan keberkahan dengan pernikahan yang halal ini.

Meskipun demikian, seorang akan menikahi janda harus betul-betul siap untuk memperlakukan istrinya tadi dengan sangat baik. Sudah menjadi karakter wanita untuk susah melupakan pasangan pertamanya.

Dalam kisah Ummu Salamah radiyallahu ‘anha, ketika suaminya Abu Salama meninggal, ia mengatakan والله لا أجد أحداً أفضل من أبي سلمة (demi Allah, tidak ada seseorang yang lebih utama selain Abu Salamah).

Setelah masa iddah dan kemudian dinikahi oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, maka Ummu salamah pun mendapatkan ganti yang jauh lebih baik dari suaminya. Dengan perlakukan yang baik dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, semua istri Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pun merasa bahagia.

Wallahu a’lam. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sebaik-baik pasangan hidup. Aamin.

 

Trento, 4 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response