Kematian Yang Mengintai

Sudah tiga bulan kami di Malaysia, sekian banyak pengalaman dan berita juga yang kami terima. Di antaranya sudah ada dua orang yang kami kenal baik meninggal dunia secara mendadak.

Yang pertama adalah pak Masduki, kolega yang sekaligus sudah seperti keluarga sendiri. Beliau banyak cerita keinginan beliau terutama keinginan untuk mengoptimalkan bekal menjemput kematian.

MasyaAllah, bahkan sepekan sebelum meninggal, beliau kembali menceritakan tekad untuk mendapatkan pahala mengalir setelah kematian beliau. Qadarallah, ternyata itu adalah perbicangan terakhir kami dengan beliau.

Yang kedua, adalah salah satu mahasiswi kami yang sangat aktif di kelas. Beliau masyaAllah mempunyai cita-cita dan semangat yang tinggi. Pekan lalu, kami mendapatkan berita jika dalam waktu yang sangat singkat ternyata benturan waktu kecelakaan menjadi jalan kematiannya.

Kami  berdo’a semoga Allah mengampunkan dosa keduanya, dan memberikan nikmat kubur sampai dimasukan ke dalam surga nantinya, insyaAllah. Untuk keluarga yang ditinggalkan juga semoga diberikan kesabaran.

Dua peristiwa ini harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kematian merupakan rahasia Allah yang sewaktu-waktu bisa mendatangi kita. Karenanya setiap kita perlu selalu siaga dan menyiapkan bekal terbaik.

Oleh karena itu, marilah kita belajar dari orang-yang sudah mendahului kita. Dengan jujur bertanyalah pada diri kita. Marilah kita belajar dari Syaikh ‘Adil bin Abdil Aziz Al Malawi yang mengatakan,

ما الفرق بينك وبينه ليموت هو وتبقى أنت ؟

Apa beda antara engkau dengan dia, apakah hanya mereka yang mati dan engkau akan kekal?

هل أنت أكمل منه صحة !؟

Apakah engkau lebih sempurna dalam hal kesehatan daripadanya?

أو أنت أقوى منه جسداً !؟

Apakah tubuhmu lebih kuat daripada tubuhnya?

أو أنت أقدر لدفع الموت عنك منه !؟

Apakah engkau mampu mencegah kematian datang padamu dari padanya?

Sekali-kali tidak. Kita dan mereka sama. Kita lemah dan tidak mungkin mampu mencegah datangnya kematian jika sudah tiba waktunya.

Tidak ada pilihan kecuali kita harus bersiap. Kematian suatu saat pasti mendatangi kita, cepat atau lambat.

Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan oleh Allah ta’ala untuk meninggalkan semua kesyirikan menuju tauhid, semua bid’ah menuju sunnah, semua maksiat menuju taat dan semua kejahilan menuju ilmu. Ketika diwafatkan Allah pun semoga kita semua dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.

Akhukum Fillah, 29 November 2018
Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Ilmu Hubungan Internasional UGM, M.A Political Science, Jamia Millia Islamia, dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Menyelesaikan jenjang PhD Political Science dari International Islamic University Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Bekerja sebagai Associate Professor di Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response