Kembali Kepada Fitrah

Di era ini, kita melihat begitu banyak kejahatan bahkan kesyirikan di lakukan oleh manusia. Mereka seakan melupakan Allah sebagai Rabb yang telah menciptakan, memberikan berbagai nikmat, termasuk dengan mengirim para rasul dan kitab-Nya kepada manusia.

Memang tidak sedikit pula yang tetap berusaha untuk istiqomah di jalan kebenaran meskipun tidak jarang mereka dianggap sebagai orang yang asing. Akan tetapi manusia yang begitu mencintai dunia dengan berbagai tingkatan penyimpangannya terhadap ajaran tauhid telah memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam kehidupan masyarakat kita sekarang ini.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami ingin menyunting tulisan syaikh Al-Banni yang berkaitan sifat dasar fitrah manusia.

Dibagian awal tulisannya, beliau menyampaikan bahwa pada awalnya manusia berada di jalan tauhid dan ketaatan kepada Allah. Lebih dari itu, mereka semua adalah umat yang satu.

Allah berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّـهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

Sesungguhnya dulunya manusia itu adalah umat yang satu, kemudian Allah mengutus (kepada mereka) para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa di antara masa nabi Adam sampai nabi Nuh ada sepuluh generasi. Semuanya berada di jalan tauhid, kemudian mereka berpencar  (mulai melakukan kesyirikan). Sehingga Allah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kabar gembira dan peringatan.

Lebih dari itu, ayat ini juga membantah pemahaman mereka yang syirik dan athies yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu tidak berada di jalan tauhid. Bahkan berupa binatang sebagaimana yang dikenal dalam teori revolusi.

Yang justru terjadi adalah syaithan telah menggoda manusia untuk meninggalkan jalan yang benar ini. Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah berfirman,

إني خلقت عبادي كلهم حنفاء وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا

Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku semuanya di jalan yang benar, kemudian datang syaithon dan mengeluarkan mereka dari agamanya. Mereka mengharamkan apa yang telah Ku-halalkan untuk mereka. Dan mengajak mereka untuk menserikatkan-Ku dengan apa yang tidak pernah aku turunkan baginya kekuatan.

Artinya bahwa manusia yang sudah bergelimang dosa, maksiat bahkan jatuh kepada kesyirikan, adalah mereka yang telah masuk dalam perangkap dan godaan syaitan. Bagaimana pun mereka sudah tidak lagi sesuai dengan fitrahnya.

Akan tetapi, hal ini tentu tidak menutup kemungkinan bahwa mereka masih bisa kembali kepada jalan kebenaran. Oleh karena itu, gerakan dakwah di atas jalan ilmu perlu di galakkan di semua kalangan.

Sejarah bahkan menunjukkan bahwa tidak sedikit mereka yang kembali kejalan yang benar setelah mereka bergelimang dengan kesyirikan, kemaksiatan, kebid’ahan dan kebodohan. Pada akhirnya mereka justru menjadi orang-orang yang berada di jalan tauhid, ketaatan, sunnah dan ilmu.

Mereka kembali kepada fitrahnya. Mereka bagaikan bayi yang baru lahir. Suci. Berada di jalan islam karena demikanlah fitrah manusia yang sesungguhnya.

Rasulullah bersabda,

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه

Tidaklah seorang bayi kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan bapaknyalah yang membuatnya yahudi atau nasrani.

Semoga, kita semua bisa kembali dan istiqomah di jalan fitrah. Senantiasa berada dalam ketaatan dan islam sampai ajal menjemput. Allahumma Amin.

 

Delhi, qobla Dzuhur.

 

Leave a Response