Kewajiban Memahami Agama

Ilmu merupakan kunci kesuksesan bagi seorang hamba baik di dunia maupun akhirat. Siapa yang ingin sukses dunianya maka ia perlu ilmu, demikian juga dengan yang ingin sukses akhirat maka ia juga butuh ilmu.

Karena itu, sebagai agama yang sempurna, Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi orang-orang yang berilmu, bahkan mewajibkan setiap mukmin untuk menuntut ilmu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ أَنْ يَعْرِفَ الصَّوْمَ وَالصَّلَاةَ , وَالْحَرَامَ وَالْحُدُودَ وَالْأَحْكَامَ

Menuntut ilmu wajib bagi setiap mukmin, agar ia mengetahui perkara puasa, sholat, mana yang haram, balasan dan hukum-hukum Allah. (HR Muslim)

Pernah ditanyakan kepada Ibnu Mubarak, apakah perkawa yang wajib untuk ia pelajari? Maka beliau mengatakan bahwa janganlah seseorang melakukan sesuatu kecuali padanya ada ilmu. Maka perlu baginya untuk belajar dan mengajarkannya.

Dari ucapan tersebut, maka para ulama menafsirkannya dengan mengatakan,

لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَيْسَ لَهُ مَالٌ , لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ وَاجِبًا أَنْ يَتَعَلَّمَ الزَّكَاةَ , فَإِذَا كَانَ لَهُ مِائَتَا دِرْهَمٍ , وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَتَعَلَّمَ كَمْ يُخْرِجُ , وَمَتَى يُخْرِجُ وَأَيْنَ يَضَعُ

Jika seseorang tidak punya harta, maka ia belum wajib untuk mempelajari ilmu tentang zakat. Namun jika ia sudah punya harta seratus dirham menjadi wajib baginya untuk mempelajari berapa harta yang perlu ia keluarkan (untuk zakat), kapan mengeluarkannya, dan kepada siapa memberikan.

Demikian juga dengan ilmu tentang pada beberapa persoalan yang lain dalam perkara agama ini. Artinya, jika selain ilmu berkaitan dengan masalah tauhid, maka ilmu yang berkaitan dengan amalan harian merupakan hal utama yang perlu untuk dipelajari.

Mu’awiyah bin Abi Sofyan menceritakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من يرد الله به خيرًا يفقهه في الدين

Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, maka diberikan kepahaman terhadap agama (HR. Bukhari)

Bagaimana tidak menjadi orang yang baik karena hakikat dari apa yang kita lakukan dalam amalan fisik merupakan produk dari apa yang kita pahami. Seseorang yang banyak mengetahui kebaikan, insyaAllah akan diberikan kemudahan untuk mengamalkannya.

Dalam hal ini, makna faqih juga bukan cuman sekedar mengetahui, tetapi lebih dari itu berkaitan dengan kemampuannya untuk mengamalkan apa yang telah ia ketahui. Artinya, seorang yang mengetahui tetapi tidak mengamalkan, maka ia belum dikatakan sebagai seorang yang faqih.

Dengan demikian, maka posisi orang yang faqih atau berilmu ini sangat utama di sisi Allah ta’ala. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فضل العالم على العابد كفضلي على أدناكم

Keutamaan seorang yang berilmu dibandingkan seorang ahli ibadah semisal keutamaan Ali dibandingkan kalian (HR. Tardmidzi)

Oleh karena itu, sebagai seorang mukmin, kita perlu bersemangat untuk meraih keutamaan ini. Sesulit apapun jalan yang dilalui, kita berusaha untuk istiqomah di atas jalan ilmu. Dari Abi Hurairah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا، سهل الله له به طريقًا إلى الجنة

Barang siapa yang meniti suatu jalan untuk memahami ilmu niscaya Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga (HR Tarmidzi)

Dalam hadits lain yang dari Anas bin Malik, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتى يرجع

Barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berada dalam fi sabilillah sampai ia kembali (HR. Tarmidzi)

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

طلب العلم أفضل من الصلاة النافلة

Menuntut ilmu lebih utama daripada sholat sunnah

Kita berdoa semoga Allah ta’ala menjadikan kita termasuk di antara orang-orang yang paham dengan agama ini. Aamin.

 

Malang, 16 Desember 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response