Kisah Taj Mahal dan Berlebihan Dalam Mencintai Istri

Setelah perjalanan selama lebih kurang empat jam dari Jaipur, akhirnya kami pun sampai di Agra. Di kota ini selain membeli beberapa barang, kami kembali melihat peninggalan kebesaran Mughal Khan, yaitu Red Port Agra dan Taj Mahal.

Red Port hanya kami lihat sekilas dan lewati saja, adapun di Taj Mahal kami pun masuk untuk melihat ke dalam dengan didampingi dua orang India yang sembari menceritakan berbagai hal tentang Taj Mahal, termasuk sejarahnya.

Menurut Khaleel yang mendampingi kami, Taj Mahal merupakan gambaran kisah cinta seorang raja terhadap istri yang sangat disayanginya. Selain membangun Taj Mahal, Shah Jahan juga merupakan raja yang membangun Red Port Agra di Agra dan di Delhi. Demikian juga dengan Qutb Minar dan beberapa peninggalan bersejarah lainnya.

Adapun Taj Mahal, mempunyai kisah tersendiri. Menurutnya, Karena kecintaan terhadap sang istri, ketika istrinya meninggal pada usia 40 tahun, Shah Jahan pun menangis sampai berminggu-minggu. Rambutnya pun memutih. Ia menjadi seperti orang gila dan berharap istrinya kembali ke dunia.

Demi cinta terhadap sang istri, maka Shah Jahan membangun istana besar di pemakaman istrinya. Tidak cukup hanya satu, bahkan di seberang sungai berlawanan arah dengan Taj Mahal sekarang, Shah Jahan pun mulai membangun lagi Taj dengan warna hitam.

Namun hal ini dinilai oleh sang anak melampaui batas. Ketika rakyat India pada waktu itu hidup dalam kesulitan, raja Shah Jahan malah menghabiskan uang dalam jumlah sangat besar untuk membangun makam istrinya.

Maka sang anak pun menangkap dan memenjarakan sang ayah sampai meninggal. Menurutnya sang ayah tidak bijak dalam menyikapi perasaan cinta terhadap istrinya yang sudah meninggal.

Demikianlah sekilas kisah berdirinya Taj Mahal yang kami dapatkan kembali dari teman India yang mendampingi perjalanan kami.

Bagi kami, kisah ini perlu diambil hikmahnya. Memang cintai terhadap istri merupakan fitrah manusia. Demikian juga seorang istri mencintai suaminya. Dengan cintai ini, maka seorang suami akan merasa nyaman berada di sisi istrinya, demikian sebaliknya. Allah ta’ala berfirman,

ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجاً لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة

Dan di antara ayatnya adalah menciptakan bagi kalian dari dirimu istri-istri agar engkau merasa nyaman kepadanya dan dijadikan di antara kalian mawaddah warahmah. (Q.S. Arrum: 21)

Namun demikian, bagi seorang muslim cinta ini tidak boleh melebihi cintanya pada Allah dan Rasul. Ketika perasaan cinta terhadap istri membuat seorang suami menghalalkan sesuatu yang haram atau meninggalkan sesuatu yang wajib, maka cinta tadi menjadi fitnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الدنيا حلوة خضرة وإن الله مستخلفكم فيها فينظر كيف تعلمون فاتقوا الدنيا واتقوا النساء فإن أول فتنة بنى إسرائيل كانت في النساء

Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah telah menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya, maka lihatlah apa yang kalian ketahui, hati-hatilah dengan dunia dan hati-hati dengan wanita, sesungguhnya fitnah pertama pada bani Israel adalah pada urusan wanita (HR. Muslim)

Meskipun demikian ternyata banyak di antara manusia yang mabuk karena cintanya. Sejumlah kisah yang berkembang di tengah masyarakat menunjukkan realita ini, seperti cerita Juliet, atau Laila. Demikian juga cintanya raja Shah Jahan terhadap sang istri, Mumtaz Mahal sebagaimana dikisahkan di atas.

Seorang muslim seharusnya senantiasa merasa malu kepada Allah ta’ala jika cinta kita ternyata tidak diletakkan pada tempatnya, bahkan menjadi fitnah. Cinta bukan sekedar rasa, tetapi cinta hakikatnya adalah tanggung jawab dunia akhirat.

Seorang suami adalah pemimpin bagi istri dan keluarga yang tidak hanya perhatian terhadap urusan dunia semata. Ia sadar bahwa surga dan neraka istri sangat tergantung dengan dirinya. Ini makna hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

زوجك جنتك أو نارك

Suamimu adalah surge dan neraka bagimu (HR. Muslim)

Oleh karena itu, bagi kita cinta tidak sekedar emosi semata, melainkan harus berada di bawah naungan syariat. Jangan sampai berlebihan dalam perasaan cinta, apalagi yang bisa mengorbankan orang lain.

Semoga kita semua diberikan cinta sejati terhadap pasangan kita yang sesuai dengan syariat Allah, mencintai secara sederhana untuk kebersamaan di dunia dan di surga, insyaAllah. Aamiin.

New Delhi, 23 Januari 2017

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response