Konsekuensi Iman Kepada Takdir Baik dan Buruk

Iman kepada takdir baik dan buruk merupakan salah satu rukun iman. Oleh karena itu, tidak sempurna keimanan seseorang tanpa keimanan padanya.

Ketika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh malaikat Jibril, maka setelah bertanya tentang masalah islam, malaikat Jibril juga meminta untuk dijelaskan tentang iman. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Engkau beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir dan engkau beriman terhadap takdir baik dan buruk (HR. Muslim)

Dalam Bahasa arab takdir ini sering disebut qodho’ dan qadr. Qodho’ secara istilah maknanya adalah hukum atau ketetapan Allah atas semua makhluknya. Adapun Al qadr maknanya adalah ketentuan Allah ta’ala sejak zaman azali.

Dalam penggunaan terkadang hanya disebutkan salah satunya maka berarti mencakup keduanya. Namun jika disebutkan bersamaan berarti ada pembedaan.

Intinya, beriman kepada takdir Allah ta’ala diartikan sebagai keimanan bahwa Allah mengetahui segala sesuai sejak zaman azali, keimanan bahwa Allah ta’ala telah mencatat takdir semua makhluk, keimanan akan kehendak Allah ta’ala, dan keimanan bahwa Allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu.

Oleh karena itu, bagi mereka yang mengimani takdir ini dengan segala tertibnya, tentu akan mempunyai konsekuensi dalam hidupnya.

Pertama, dengan tertib pertama yaitu keimanan bahwa Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu, maka seorang hamba akan berusaha memunculkan perasaan ihsan dalam hidupnya.

Ia sadar bahwa apapun yang dilakukannya baik dalam keadaan ramai maupun sendiri senantiasa dalam pengawasan Allah ta’ala. Artinya, ia menyadari bahwa Allah selalu melihat apa yang diucapkan, apa yang ia amalkan, dan apa yang tersembunyi dalam hatinya. Bahkan Allah ta’ala pun telah mengetahui semua perjalanan hidup kita sejak zaman azali. Allah ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Dialah Allah yang tidak ada Rabb yang haqq disembah kecuali Dia. Ia yang mengetahui semua yang ghoib dan yang tampak (Q.S. Al Hasr: 22)

Kedua, dengan tertib kedua dimana Allah ta’ala telah menuliskan catatan takdir bagi semua makhluk, maka seorang mukmin akan senantiasa berusaha memunculkan perasaan raja’ dan khauf dalam dirinya.

Ia berharap agar Allah ta’ala mencatat takdirnya dalam kebaikan bersama orang-orang yang beriman. Namun ia juga khawatir dan takut jika ternyata termasuk di antara ahli neraka. Oleh karena itu, ia pun akan berada di antara dua sifat ini yang akan menghilangkan semua kesombongan dalam dirinya.

Selain itu, dengan keimanan terhadap takdir kitabah ini, ia pun tidak akan menyesali apapun takdir yang Allah ta’ala berikan padanya. Selama ia dalam ketaatan, maka ia yakin bahwa Allah ta’ala akan mengaruniakan kebaikan pada setiap catatan takdirnya tadi. Allah ta’ala berfirman,

مَا أصَاب من مُصِيبَة فِي الأَرْض وَلَا فِي أَنفسكُم إِلَّا فِي كتاب من قبل أَن نبرأها إِن ذَلِك على الله يسير لكَي لَا تأسوا على مَا فاتكم وَلَا تفرحوا بِمَا آتَاكُم

Tidak ada suatu musibah pun di muka bumi tidak juga pada diri kalian kecuali telah dicatat sebelum kejadiannya. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah agar kalian tidak berputus asa atas apa yang lepas dari kalian dan tidak terlalu senang atas apa yang kalian dapatkan (Q.S. Hadid: 22-23)

Meskipun demikian, konsekuensi keimanan ini tidak berarti seseorang itu diam tanpa upaya menuju kebaikan. Ia akan berusaha bertakwa kepada Allah ta’ala sekuat kemampuannya karena ia yakin bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

اعملوا فكل ميسر لما خلق له وكل عامل بعمله مُكَلَّفٌ

Beramallah karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang ditakdirkan untuknya, dan setiap yang beramal akan terbebani dengan amalannya (HR.Muslim)

Ketiga, keimanan terhadap tertib kehendak Allah pada segala sesuatu yang terjadi pada kita akan membuat seorang mukmin tidak takut dengan urusan dunia ini. Dalam keadaan seperti apapun, ia juga tidak akan mudah berputus asa dan orientasinya kuat untuk meraih keridhoan Allah. Ia yakin bahwa Allah ta’ala telah berfiman,

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya pada urusan-Nya, jika Allah menghendaki sesuatu maka ia mengatakan jadi, maka jadilah (Q.S. Yasin: 82)

Artinya, ia yakin bahwa segala sesuatu itu adalah dibawah kehendak Allah ta’ala. Jika semua penduduk bumi ingin memberikan kemanfaatan padanya, maka yang demikian itu tidak akan terjadi kecuali atas kehendak Allah ta’ala. Demikian juga bagi mereka yang ingin mencelakakan dirinya. Karena itu, seorang mukmin tidak akan merasa takut dengan urusan kehidupan dunia ini.

Terhadap perkara yang luput dari dirinya, ia pun tidak akan menyesali, apalagi dengan membuka pintu-pintu syaithan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وإن أصابك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا لكان كذا ولكن قل: قدّر الله وما شاء فعل فإن لو تفتح عمل الشيطان

Jika kamu ditimpakan suatu musibah, maka jangan katanya andai aku melakukan yang begini begini, tetapi katakanlah, Allah menakdirkan apa yang dikehendaki-Nya, karena sesungguhnya ucapan andai akan membuka perbuatan syaithan (HR. Muslim)

Terakhir, seorang mukmin yang beriman dengan takdir bahwa Allahlah yang menciptakan segala sesuatu, maka hidupnya akan tenang. Sedikit pun ia tidak akan merasakan gusar, apalagi karena hanya sedikit dari urusan dunia ini. Ia meyakini Allahlah yang menciptakan segala sesuatu dan menguasai langit dan bumi. Allah ta’ala berfirman,

الله خالق كل شئ

Allahlah yang menciptakan segala sesuatu (Q.S. Azzumar: 62)

Akhirnya, kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita semua termasuk mereka yang betul-betul beriman kepada Allah, termasuk dalam masalah takdir tadi. InsyaAllah berbagai keutamaan akan kita dapatkan. Aamin.

 

Malang, 28 September 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response