Konspirasi Syiah Dalam Konflik Suriah

Masih terbayang kejadian dua tahun lalu, saat terjadi perdebatan antara beberapa mahasiswa sunni dan syiah di India. Salah satu hal menarik waktu itu adalah ketika mahasiswa syiah yang sudah kalah berargumentasi ilmiah mengatakan, “Kenapa kita tidak suka dengan syiah?

Padahal Iran sebagai negara syiah bersikap keras dan berani menentang Israel dan Amerika. Bandingkan dengan Saudi Arabia yang hanya bisa mengekor dengan Amerika dan diam ketika saudara-saudara kita di Palestina didholimi!”. Ucapan penuh kepentingan, sering membingungkan sebagian masyarakat awam, bahkan membuat mereka bersimpati kepada syi’ah.

Berita dan argumentasi serupa sangat banyak kita temui di berbagai media, terutama internet. Dalam kasus Suriah misalnya, salah satu media nasional Indonesia yang dianggap sebagai corong umat Islam, pada tanggal 22 Oktober 2012 lalu memberitakan bahwa Suriah merupakan korban konspirasi Amerika, Israel dan Saudi Arabia. Hal ini disampaikan dengan mengutip pernyataan Perdana Menteri Suriah Dr.Wael al-Halqi yang menyatakan bahwa konspirasi itu bertujuan mengacaukan, memecah belah umat Islam, dan menguntungkan  negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel.

Menghadapi berbagai berita ini, kita perlu mendapatkan informasi valid dan analisa yang kuat tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah, terutama berkaitan dengan konspirasi kelompok Syiah.

Fakta Konspirasi Syiah di Suriah

Konspirasi biasanya dimaknai sebagai persekongkolan yang menyebabkan terjadinya peristiwa sosial, ekonomi maupun politik oleh aktor-aktor berpengaruh melalui gerakan rahasia. Dengan konspirasi, aktor tadi bisa memanipulasi berbagai kejadian. Biasanya mereka membangun opini publik yang berbeda dengan kejadian sebenarnya.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka indikasi terjadinya konspirasi dalam konflik Suriah sangat besar. Hal ini ditandai oleh beberapa kejadian, antaralain: Pertama, target pembunuhan terhadap para ulama sunni. Hal ini bisa dibaca pada berbagai media dimana para imam ulama, imam masjid, tokoh masyarakat, dan keluarga mereka, seringkali diperlakukan tidak manusiawi. Contoh terkini terjadi pada kasus pembunuhan Ulama Ramadhon Al-Buthi, seorang ulama sunni yang berada di pihak Bashar Al-Ashad.

Menurut beberapa pengamat politik, pembunuhan ini sarat dengan motif politik. Diantaranya adalah untuk menyimpan rahasia kejahatan dan korupsi keluarga Assad di Suriah mengingat Al Buthi merupakan aktor yang banyak mengetahui persoalan tersebut. Hanya saja, opini publik yang berkembang mengindikasikan kelompok Sunni sebagai aktor yang bertanggungjawab dibalik pembunuhan ini mengingat Al Buthi merupakan orang dekat keluarga Assad.

Kedua, berbagai berita dan statemen kelompok syiah yang menyatakan bahwa Suriah merupakan korban konspirasi barat. Opini ini mudah diterima masyarakat karena Amerika, Israel, dan Inggris secara kasat mata berada di pihak oposisi bersama Saudi Arabia, Turki dan Qatar yang notabene negara sunni. Padahal data yang sesungguhnya menunjukkan kedekatan rezim syiah Suriah dengan bangsa barat.

Bahkan selama puluhan tahun Amerika merupakan sekutu kaum syiah. Sebelum dan pada awal konflik Suriah, Amerika hanya diam menyaksikan berbagai kedholiman yang dilakukan oleh Bassar Al-Assad. Bahkan awal tahun ini, ketika posisi Assad mulai terancam, The Sunday Telegraph, tanggal 24 Februari 2013, memberitakan  bahwa komandan militer Inggris dan Amerika mengajukan kesiapan mereka untuk mengambil alih persediaan senjata kimia Suriah atau menghancurkannya, agar tidak dikuasai kelompok oposisi.

Adapun dalam banyak berita dan sikap resmi, Amerika menyatakan keberpihakan kepada kelompok oposisi dan menentang pemerintahan Assad dikarenakan berbagai kepentingan pragmatis negaranya. Diantaranya adalah untuk membingungkan peta politik umat Islam sehingga terpecah belah, dan mendapatkan keuntungan penjualan senjata bagi industri militer.

Ketiga, media-media syiah selalu mengangkat isu dukungan pemerintahan syiah (seperti Iran) terhadap Palestina. Mereka menunjukkan bagaimana tegasnya pemerintahan Ahmadinejad dan Assad dalam melawan Israel dan hegemoni Amerika. Akibatnya, banyak diantara kaum muslimin yang bersimpati bahkan mengidolakan mereka, dan sekaligus mendukung ajaran syiah. Padahal data valid menunjukkan dekatnya hubungan Suriah dan Iran dengan Israel dan Amerika. Hal ini bisa terjadi karena ikatan mereka secara sejarah dan ideologi. Bahkan ajaran syiah sendiri lahir dari Abdullah bin Saba’ yang tidak lain merupakan seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam.

Kelima, jika disatu sisi opini publik yang dibangun dengan memuji kebijakan pemerintah Syiah, maka pada sisi yang lain berita-berita yang bertebaran banyak yang menjelekkan negara-negara sunni, seperti halnya Saudi Arabia. Saudi dinilai tidak lebih dari budak Amerika yang tidak punya keberanian, dan tidak mempunyai rasa persaudaraan sesama muslim. Bahkan diberitakan bahwa Saudi telah menghapus Israel dari daftar musuh negara. (http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/10/10/mbnqxp-Saudi-hapus-israel-dari-daftar-musuh).

Padahal betapa seringnya Kerajaan Arab Saudi dengan resmi menyatakan kebenciannya dan ketidaksetujuannya dengan kekejaman Israel. Hanya saja, Saudi tidak “pamer” seperti halnya pemerintah Iran. Adapun dalam hal politik dengan Amerika, maka Saudi diakui masih tergantung dengan teknologi Amerika dalam pengeboran minyak. Hanya saja, sikap politik ini tidak bisa dipahami sebagai ideologi salafi yang berkembang di sana. Justru dalam kebijakan perang melawan terorisme, Amerika menyatakan perang terhadap salafi karena dinilai sebagai ideologi di balik berbagai tindak kekerasan.

Sebaliknya, data menunjukkan dekatnya hubungan pemerintahan Syiah dengan Israel dan Amerika. Seorang pengusaha Suriah, Faras Thallas menyatakan bahwa Bassar Al Assad dan Israel mempunyai kesepakatan di balik layar dalam bidang ekonomi dan politik untuk saling bekerjasama. Senada dengan kedekatan terhadap keluarga Assad, hubungan Amerika dan Iran pun sesungguhnya sangat akrab, hanya di permukaan menampilkan diri sebagai pihak yang saling bermusuhan satu dengan lainnya. Berdasarkan sejarah politik kedua negara tersebut, tidak mungkin Amerika akan menyerang Iran.

Mewaspadai Syiah

Berdasarkan konspirasi syiah sebagaimana dijelaskan di atas, berbagai media mereka senantiasa menggambarkan benarnya posisi yang diambil. Bagi mereka, keberpihakan kepada pemerintahan Assad merupakan kebenaran. Tidak tanggung-tanggung, Iran, Libanon dan pasukan syiah dari Irak memberikan berbagai jenis bantuan kepada pemerintahan Assad dalam jumlah sangat besar, baik persenjataan, personil, dana, amunisi, bahan bakar maupun publikasi. Mereka ingin umat Islam bersimpati dengan syiah sehingga penyebaran ajaran mereka pun bisa berkembang pesat. Meskipun di sisi lain, dukungan besar-besaran yang diberikan oleh pemerintah Syiah Iran ini bisa dimaknai sebagai gambaran takutnya mereka dengan berbagai ancaman dan melemahnya posisi syiah di berbagai negara.

Kita patut waspada dengan konspirasi terselubung kelompok syiah ini. Sejarah membuktikan bahwa dimana pun mereka menjadi mayoritas atau paling tidak menguasai pemerintahan, maka syiah akan bersikap sangat keras terhadap orang-orang sunni. Kita perlu mendapatkan informasi yang berimbang. Jangan sampai masyarakat mengidolakan syiah sebagai pahlawan dan justru mencaci maki ajaran sunni. Jika hal ini tidak dilakukan secara maksimal, tidak mustahil syiah akan berkembang pesat, termasuk di negeri ini. Na’uzubillah.

Malang, 24 Maret 2013

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response