Malu Aku Jadi Mahasiswa Gadjah Mada

Hampir tidak satu pelosok pun yang lepas dari pamor UGM. Begitu terkenal. Berhasil meraup mahasiswa hampir dari semua pelosok negeri, juga menempatkan manusia siap pakai di setiap ranah.

Tidak sulit menemukan alumni UGM di berbagai daerah, bahkan pengambil kebijakan strategis bangsa ini.

Membanggakan, mereka menjadi pioneer dan penggerak pembangunan masyarakat. Ide – ide cemerlang yang tidak diragukan. Wajar, syarat masuk UGM harus dengan kemampuan intelektual di atas rata – rata.

Kampus tertua. Cukup berpengalaman mendidik anak bangsa. Apalagi dengan biaya pendidikan relative murah. Biaya hidup yang tidak memberatkan bagi kalangan menengah ke bawah.

Inilah yang membuat UGM terkenal sebagai kampus kerakyatan. Hampir semua anak sekolah dari berbagai daerah bercita – cita memperdalam ilmu di kampus ini.

Pertanyaannya, apakah kondisinya masih sama pada satu dasawarsa terakhir?. Soalnye sejak tahun 2003 biaya kuliah mulai mahal. Mahasiswa yang berhasil masuk tidak merata dari semua kalangan. Hanya orang – orang berada saja yang mempunyai peluang lebih besar.

Sulit bagi anak desa yang tidak mempunyai jaminan keuangan sekali pun dengan kecerdasan membanggakan. Paling tidak sudah muncul ketakutan.

Apalagi dengan jalur penerimaan mahasiswa baru yang bermacam – macam seperti UM UGM, bakat scholastic, dan lain sebagainya. Informasi dan transparansi pun perlu secara maksimal dilakukan.

Penerimaan dengan cara seperti tersebut menyulitkan masyarakat miskin.[1]

Tetapi bagaimana pun juga UGM tetaplah UGM. Pamor dari sekian banyak kesuksesan para alumni yang berhasil mengukir nasib di kampus ini tetap membuat minat siswa Indonesia tinggi.

Perubahan ini tentu saja berpengaruh terhadap suasana dunia kampus yang terkenal selalu dinamis. Ide – ide cemerlang dan semangat perjuangan. Kajian ilmiah dan aktivitas organisasi di UGM menjadi lesu.

Tidak banyak mahasiswa yang menyukai dunia tersebut. Setiap diadakan diskusi, apalagi terhadap persoalan krusial bangsa seakan ditanggapi “sok idealis“. Utopia. Mereka pun sibuk dengan urusan masing – masing.

Orientasi kuliah berubah. Yang penting bisa cepat tamat dan mendapatkan pekerjaan yang mapan. Hanya itu, selain sampingan untuk menikmati masa muda “ dengan berhura – hura “.

Tidak sulit menemukan mahasiswa berkumpul atau di mall – mall tanpa tujuan jelas. Apalagi sekedar mencari pasangan hidup. Jauh dari harapan.

Dengan keadaan demikian menjadi pertanyaan besar tentang masa depan bangsa ini. Masa depan UGM. Tidak banyak yang dapat diharapkan dari generasi muda dengan kemampuan minim, semangat lemah dan tidak maksimal mengembangkan potensi diri.

Mahasiswa berada pada status quo. Kekritisan yang mati. Karenanya diperlukan gebrakan. Suasana kampus harus  mengalami perubahan.

Sikap objektif UGM bahwa yang diutamakan adalah kemampuan ilmiah dan jiwa sosial perlu dihidupkan kembali. Pendidikan tidak sekedar urusan pribadi tetapi masa depan segenap bangsa.

Jika tidak, sungguh, “malu aku jadi mahasiswa UGM“!!!. Tidak pantas bersembunyi di balik nama besar tetapi kosong.

Tidak hebat hanya berkata inilah kampusku UGM, tetapi hendaklah berkata inilah aku yang telah dididik di UGM Kepercayaan diri dengan kemampuan yang tidak diragukan.

Yogyakarta, 29 September 2005


[1] Tulisan ini dibuat pada waktu kami masih kuliah di UGM. Alhamdulillah jalur UM-UGM sekarang sudah dihapuskan.

Leave a Response