Manusia Modern

Gejolak jiwa untuk perjuangan kian menggebu. Sakit. Meringis merasakan kehancuran zaman. Ilmu sangat dangkal dan tekanan ekonomi membuat diri kadang kala terlupa. Ingin kehidupan seperti kebanyakan orang. Tetapi mana bisa. Alangkah naifnya jika kehidupan singkat ini sekedar hanya untuk berhura – hura. Tidak ada yang tahu pasti mungkin hari esok telah tiada.

Masyarakat di negeri ini telah “hancur”. Agama hanya sebagai permainan. Terlalu banyak tindakan, apalagi yang ditayangkan di televisi yang tidak mengundang simpati. Justru membuat jijik.

Acara agama pun ditayangkan dengan cara yang tidak agamis. Para pengisi acara atau pemeran sinetron adalah orang – orang yang tidak cukup berilmu. Dengan enak bicara kebenaran tetapi tidak dengan baik memahami hakikat kebenaran.

“Ustadz – ustadz “ muda di munculkan. Tetapi amat disayangkan, caranya dengan pentas sebagaimana pencarian artis. Yang dicari bukan lagi masalah kepahaman sebagai syarat mutlak bagi dai yang akan membenarkan kehidupan masyarakat. Hanya sebatas kemampuan beretorika.

Hanya itu. Materi yang disampaikan adalah bahasan umum yang anak kecil pun sudah tahu. Kecuali di zaman sekarang karena pendidikan agama yang sangat minim.

Artis yang memerankan diri sebagai tokoh agama adalah orang – orang yang dalam acara lain tidak sungkan – sungkan (maaf) berpelukan atau berciuman dan tindakan tidak pantas lainnya bahkan di depan umum. Sangat menghina dan menghujam dada.

Sungguh kekacauan kian hari kian tampak. Ilmu semakin berkurang. Pikiran manusia hanya sebatas kesenangan. Masalahnya mereka membatasi diri pada materi. Kekayaan dalam kebodohan mereka dianggap sebagai obat penderitaan.

Kebebasan, syahwat yang tidak dikendalikan. Perebutan kekuasaan sampai posisi setinggi – tingginya menjadi kesukaan banyak orang. Sungguh aneh. Sementara mereka lalai dengan jiwa.

Semakin banyak yang menyelimuti kehidupan mereka dari berbagai keinginan tadi, semakin hati merasa miskin. Tidak ada perasaan puas. Mereka kemudian terus mencari. Hingga terlupakan untuk menikmati. Apalagi mensyukuri. Mereka lalai sampai kematian pun menjemput.

Hitungan manusia modern terlalu matematis. Mereka kehilangan nilai relatifitas dalam hidup. Bagi mereka apa yang tidak dapat dipikirkan adalah tidak mungkin. Padahal sungguh pemikiran manusia amat terbatas. Apalagi subjektifitas seringkali menguasai.

Nilai keumuman yang akan mempertemukan pada satu titik dari keseluruhan manusia dengan cara ini adalah kemustahilan. Perbedaan yang sudah muncul sekarang akan menimbulkan perbedaan baru. Masalah yang ada akan melahirkan masalah berikutnya. Kehilangan iman.

Kemana lagi manusia berlari. Mereka terlupa dengan sejarah masa lalu. Kehidupan yang tidak pernah melahirkan manusia dan menghidupkan mereka selamanya. Dengan segala kehancuran kedholiman yang nampak bekas – bekasnya. Mereka lalai.

Orang – orang yang menginginkan dirinya dapat berdiri kuat di garis kebenaran pun keheranan. Suatu ketika ia merasa begitu kuat. Tetapi pada kesempatan lain godaan terlalu sulit dihindari. Mereka terjerumus. Dan kehilangan konsistensi diri.

Apalagi yang diharapkan dari orang – orang seperti ini. Apa yang dinantikan dari kehidupan ini. Kesenangan – kesenangan yang semakin membuat pedih. Tertekan. Hilang ilmu. Oh…manusia modern…..!!! (Bandung, 9 juli 2005)

Leave a Response