Mari Merenung!!!

Sungguh kehancuran di muka bumi ini kian hari kian jelas. Banyak orang kebingungan menentukan sikap. Hari – hari dipenuhi kegelisahan dan kejenuhan. Hidup manusia tidak lagi terurus dengan baik. Sulit merasakan kedamaian karena telah kehilangan jiwa.

Mereka sibuk mencari tetapi terjebak dengan kesenangan semu. Pandangan yang sangat materialistis. Melihat jiwa berkaitan erat dengan materi atau apa saja yang nyata. Kekayaan, jabatan, wanita dengan segala perselingkuhannya menjadi pilihan.

Pada akhirnya, tidak sulit menemukan penipu atas nama sejumlah uang dan jabatan, demikian juga dengan tata nilai masyarakat yang hancur. Syahwat manusia sangat sulit dikendalikan.

Menyedihkan keadaan dewasa ini. Ada sebagian orang berharap keadaan segera berubah tetapi mereka tidak memulai dari diri sendiri. Seakan semua berjalan begitu saja. Mengharap akan lahir seorang dewa penyelawat, tetapi mereka lupa bahwa merekalah yang dapat melakukan usaha untuk diri mereka sendiri.

Itulah sebabnya, mereka jatuh dalam berbagai kelemahan. Mereka menentang kejahatan dan kemaksiatan tetapi mereka adalah bagian dari kejahatan dan kemaksiatan itu. Mengerikan.

Siapa yang akan merubah keadaan ini kecuali dengan memulai dari pribadi masing – masing. Setiap orang mesti berfikir dan berusaha melakukan sesuatu sesuai kemampuan masing – masing. Kesadaran bahwa masyarakat adalah kumpulan pribadi – pribadi mempermudah pemulihan kehancuran. Tapi apakah kita kuat, menjadi pertanyaan.

Tidak perlu pesimis meski pun hal tersebut menjadi tantangan besar. Manusia zaman ini sangat lemah. Takluk dengan iming pesona dunia. Hati yang tidak terkendali. Mereka sangat hina. Berfikir sempit dan pesimis. Seorang idealis pun seringkali tidak mempunyai langkah nyata. Hanya pikiran dan jauh dari kehidupan.

Meski demikian bagaimana pun juga perubahan harus dimulai dengan meluruskan pemahaman masyarakat terhadap kehidupan dalam segala asfek. Terutama dalam hal bagaimana tata nilai berlaku.

Tidak berarti sedikit pun kemajuan fisik yang kering dari nilai. Hampa dan tidak membawa senyum kecuali sebatas paksaan. Hilang ketulusan dan kebersamaan. Karena itulah dalam setiap perubahan perlu dijelaskan mengapa sesuatu itu diperlukan. Orientasi yang jauh dari nilai hanya mendatangkan kesempitan dan kelelahan.

Ketika membaca sejarah masa lalu, pengalaman orang – orang desa yang penuh ketulusan, rindu diri dengan kepolosan itu. Tiada harap kecuali memberikan yang terbaik. Kebermaknaan hidup ada dalam kebersamaan melakukan kebaikan. Tertawa bersama merasakan kelapangan. Jauh dari keluh kesah.

Alangkah jauhnya dari keadaan sekarang. Secara fisik banyak kemajuan. Manusia tertawa dan dapat melakukan semuanya dengan mudah. Tetapi akan ada perasaan hilang.

Hidup dalam rutinitas yang kehilangan ritme. Kapan merasakan kesenangan dalam kesulitan karena setiap kesenangan sudah menyimpan kesulitan. Manusia justru menghindari jalan mendaki tanpa memahami makna.

Lama kita berharap keindahan dan kekayaan hakiki. Tiada berarti semua kecuali jiwa yang bersih. Jauh dari kesombongan, hasad, dan kotornya hati. Gerak yang indah dalam naungan agung. Indah. (Yogyakarta, 13 Agustus 2005)

Leave a Response