Memaksimalkan Ibadah di Bulan Ramadhon

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah, tanpa terasa kita sudah memasuki bulan ramadhon 1432 H. Baru kemaren rasanya kita meninggalkan bulan suci ramadhon sekarang ia sudah kembali datang, Semoga kita bisa memaksimalkan ibadah di bulan yang mulia ini.

Waktu, demikian begitu cepat berlalu. Kita bersyukur bisa kembali bertemu dengan bulan ini. Sementara kita ketahui, ada banyak mereka yang tahun lalu masih segar bugar, tetapi sekarang sudah tiada. Demikianlah waktu mengajarkan kehidupan kepada kita.

Siapa yang tidak memanfaatkannya dengan baik, maka niscaya ia akan menjadi orang yang merugi. Allah berfirman,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Oleh karena itu, alangkah ruginya mereka yang berlalu bulan ramadhon sementara mereka tidak mendapatkan apa-apa. Sebagaimana rasul bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.

Kenapa bisa demikian, karena mereka tidak benar-benar berpuasa. Ia berpuasa, tetapi tidak mengetahui syariat dalam puasa. Ia berpuasa, tetapi hanya dengan fisiknya saja dan tidak diikuti dengan hati dan perbuatan. Ia berpuasa, tetapi tidak bisa mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan jelek.

Rasulullah bersabda,

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Allah tidak punya hajat terhadap mereka yang berpuasa dan tidak bisa mencegah dirinya dari perbuatan jelek dan jahil, Allah tidak punya hajat terhadap puasa mereka.

Sebaliknya, alangkah beruntungnya mereka yang bisa memaksimalkan ibadahnya di bulan yang penuh berkah ini. Ada begitu banyak keutamaan yang akan bisa kita dapatkan di bulan mulia ini.

Pertama, bulan ramadhon adalah bulan pengampunan dan penuh berkah. Rasulullah bersabda,

من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa yang berpuasa dibulan ramadhon dengan iman dan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampunkan segala dosanya yang telah lalu.

Selain itu, dalam hadits yang lain disebutkan,

الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر

Salat limat waktu, dan jumat ke jumat berikutnya, dan ramadhon ke ramadhon berikutnya merupakan pengampunan dosa bagi mereka yang meninggalkan dosa-dosa besar.

Allah berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

Sesungguhnya, Aku maha pengampun bagi mereka yang bertaubat, beriman dan bermman sholeh dan tetap dalam petunjuk.

Oleh karena itu, merugilah mereka yang berlalu bulan ramadhon, tanpa ia mendapatkan pengampunan dari Allah.

Kedua, ramadhon adalah bulan amal. Hal ini paling tidak berkenaan dengan dua hal, yaitu hadits nabi,

إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وسلسلت الشياطين

Jika datang bulan ramadhon, maka dibukakan pintu sorga dan ditutup pintu neraka, dan diikat para setan.

Jadi ada kemudahan luar biasa bagi kita untuk melakukan berbagai kebaikan di bulan ini. Jika pun, kita masih berat untuk berbuat baik dan cenderung kepada kejahatan, maksiat, kemalasan, dst, maka kita perlu waspada, jangan-jangan diri kita telah benar-benar dikuasai oleh nafsu. Sehingga ketika saithon diikat pun, kita masih cenderung kepada kejelekan.

Selain itu, rasulullah juga bersabda,

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي

Setiap amalan baik ibnu adam akan dibalas dengan sepuluh sampai 700 kali lipat kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya.

Di bulan ini juga ada malam lailatul qadr yang ia lebih baik dari 83 tahun atau seribu malam. Allah berfirman,

ليلةُ القدرِ خيرٌ من ألفِ شهر

            Malam lailatul qadr itu lebih baik dari seribu bulan

Oleh karena itu, hendaknya kita menjadikan momentum ini untuk memperbanyak amal kebaikan seperti sadokah, membaca alquran, sholat tarawih, dll.

Bahkan kegiatan memberi buka puasa untuk orang lain yang sedang berpuasa, akan mendapatkan pahala setimpal dengan mereka yang berpuasa.

Rasulullah bersabda,

من مرض أو سافر كتب الله له ماكان يعمل وهو صحيح مقيم

Barang siapa yang sakit atau berpergian, maka dicatatkan oleh Allah sebagaimana ketika ia mukim.

Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini bermakna, barang siapa yang memberikan makan orang yang berpuasa, akan mendapatkan pahala semisal orang yang berpuasa

Apalagi jika kita bisa berbagi dengan para fakir dan miskin. Selain pahala dari Allah, maka kita pun akan bisa menemukan hati kita. Hati yang bersih. Hati yang merasa bahagia, melebihan kebahagiaan mereka yang menerima pemberian kita.

Untuk mendapatkan berbagai kemuliaan di bulan ramadhon tersebut, maka tentu saja kita perlu mengetahui ilmu tentang berpuasa. Maka pada kesempatan ini, kami akan menyampaikan secara sekilas tentang fikih puasa.

Pertama, puasa bulan ramadhon hukumnya wajib bagi setiap muslim, yang sudah balikh dan berakal. Allah dalam surat Al-bakarah 183 berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang berimana, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.

Selain kewajiban, sebenarnya puasa justru bermanfaat untuk kita sendiri karena dengannya kita akan bisa menjadi orang yang bertakwa. Bertakwa dalam artian,

Pertama, Kita mempunyai keimanan yang kuat dengan Allah, karena hanya kita dan Allah lah yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Hal ini pula, kenapa Allah berfirman dalam hadits qudsi bahwa puasa itu untuk-ku.

Kedua, Dengan puasa kita akan bisa memunculkan empati sosial. Selain itu, secara ekonomi sebenarnya akan bisa menjadi sarana penghematan yang luar biasa jika dikoordinasikan. Rasulullah bersabda,

الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Mereka yang penyayang akan disayangkan sang Rahman, sayangilah siapa yang dibumi, maka akan disayangi oleh yang dilangit.

Ketiga, Secara fisik sebenarnya dengan puasa kita akan bisa menjadi orang yang sehat. Bahkan juga secara fisik. Ada banyak hasil penelitian terkini yang menunjukan manfaat puasa terhadap kesehatan. Dan masih banyak manfaat lainnya.

Maka apalagi sebenarnya yang kita cari jika sudah mempunyai hubungan yang baik dengan Allah, baik dengan manusia, dan sehat secara pribadi baik fisik maupun mental.

Selain itu, dalam hadits juga disebutkan bahwa puasa merupakan salah satu rukun islam yang tidak sempurna keislaman seseorang tanpa melaksanakan puasa ketikda tidak mempunyai udzur,

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت

Islam dibangun di atas lima perkara, syahadat bahwa tidak ada tuhan yang hak disembah kecuali Allah dan nabi muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan ramadhon dan pergi haji.

Kedua, puasa ramadhon hanya boleh dilakukan ketika sudah masuk waktunya.

Dan cara menilai masuk waktunya sebagaimana hadits rasul,

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين

Berpuasalah dan berbukalah setelah melihat hilal, jika gelap (dan tidak terlihat) maka sempurnakanlah 30 hari.

Ketiga, diwajibkan berniat untuk berpuasa. Selain dari hadits rasulullah tentang,

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul, maka hijrahnya untuk Allah dan rasul, dan barang siapa yang berhijrah karena dunia yang dicarinya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan yang ia inginkan

Para ulama sepakat bahwa untuk puasa, niatnya adalah pada setiap malam harinya. Dan tidak cukup hanya sekali di bulan ramadhon. Adapun niat ini di dalam hati dan tidak perlu dilafadzkan.

Untuk puasa sunnah, maka niat boleh di siang harinya selama belum makan. Hal ini berdasarkan kisah rasulullah,

النبي -صلى الله عليه وسلم- دخل على عائشة ذات يوم فقال:” أعندكم شيء؟” قالوا: لا. قال: “فإني إذاً صائم

 Nabi mendatangi A’isyah suatu hari kemudian berkata, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan. A’isyah mengatakan tidak, maka rasulullah mengatakan, kalau begitu saya akan berpuasa.

Keempat, orang sakit, atau musafir, atau sedang menyusui, atau sedang hamil, atau orang yang sudah tua rentah, atau sakit-sakitan yang tidak ada harapan lagi sembuh, maka dibolehkan bagi mereka untuk tidak berpuasa. Adapun wanita yang sedang haid dan nifas, maka haram hukumnya berpuasa.

Hal ini berdasarkan ayat Allah yang berbunyi,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Dan barang siapa yang sakit atau berpergian maka hendaklah mengganti puasanya pada hari yang lain.

Adapun dari mereka tersebut, maka orang sakit, musafir, menyusui, hamil, haid dan nifas yang mengqoda’ puasanya sebanyak puasa yang ditinggalkan. Termasuk juga di dalamnya mereka yang batal puasanya dikarenakan makan, minum, bekam, infus, dll. Sementara mereka yang sakit menaun, sudah tua rendah, maka mereka hendaklah membayar fidyah (memberi makan fakir miskin).

Fidyah ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu memberikan makan orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan atau mengundang makan orang sebanyak jumlah puasa yang ditinggalkannya.

Kelima, jika orang tadi tidak berpuasa karena berjima’, maka ia diwajibkan untuk puasa selama 2 bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka hendaklah ia memberikan makan 60 orang miskin.

Maka bagaimana jika sudah sekian banyak puasa yang kita tinggalkan?. Allah memerintahkan kita untuk bertaubat, semaksimal mungkin mengqoda’nya dan menjadi orang yang bertakwa sebagaimana firman-Nya,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Bertaubatlah kepada Allah kalian semuanya wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.

Hendaklah kita mengganti puasa yang kita tinggalkan semampu yang kita lakukan, sebagaimana Allah juga berfiman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah tidaklah membebani seseorang di luar kemampuannya.

Dalam ayat yang lain, Allah menyatakan,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu.

Keenam, adapun orang yang lupa kemudian makan atau minum, atau berjima’ dst. Maka hendaklah mereka menyempurnakan puasanya. Rasulullah bersabda,

من نسي – وهو صائم – فأكل أو شرب فليتمّ صومه ، فإنما أطعمه الله وسقاه

Barang siapa yang lupa padahal ia berpuasa kemudian ia makan atau minum, maka sempurnakanlah puasanya. Sesungguhnya ia mendapatkan makan dari Allah.

Ketujuh, hendaklah ia mengakhirkan bersahur dan menyegerakan berbuka. Masalah sahur hendaknya betul-betul kita jaga karena ada keberkahan di dalamnya. Rasulullah bersabda,

تسحروا فإن في السحور بركة

Bersahurlah karena sesungguhnya di dalam sahur terdapat barokah.

Adapun berkaitan dengan berbuka, rasulullah bersabda,

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

Tidaklah hilang kebaikan pada manusia selama ia  menyegerakan berbuka.

Ketika berbuka pun, dianjurkan untuk makan kurma atau minum air. Rasulullah bersabda,

إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر ، فإنه بركة

Jika berbuka salah seorang diantara kalian, maka hendaklah berbuka dengan korma karena padanya ada keberkehan.

Dalam hadits yang lain disebutkan,

 Jika tidak punya maka hendaklah berbuka dengan air, sesungguhnya itu suci.

Kedelapan, hendaklah ketika berpuasa benar-benar menjaga diri agar terhindar dari hal-hal yang jelek dan amalan sia-sia. Rasulullah bersabda,

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Barang siapa yang tidak bisa mencegah dirinya dari ucapakan dan perbuatan yang jelek dan bodoh, maka Allah tidak punya hajat terhadap puasanya.

Kesembilan, hendaklah mengusahakan diri untuk melakukan i’tikaf di 10 hari terakhir bulan ramadhon. Rasulullah bersabda,

وا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

Malam lailatul qadr itu ada pada sepuluh terakhir di bulan ramadhan.

Dalam hadist lain diriwayatkan,

وكان صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر الأخيرة من رمضان شد مئزره وأيقظ أهله

Sesungguhnya nabi salallahu alaihi wassalam ketika memasuki 10 terakhior bulan ramadhon memfokuskan dirinya dan mengkondisikan keluarganya.

Terakhir, hendaklah melaksanakan puasa syawal 6 hari setelah puasa ramadhon. Rasulullah bersabda,

من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر

Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhon, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari di bulan syawal, maka seperti ia telah berpuasa sepanjang masa.

Semoga kita benar-benar bisa melaksanakan puasa di bulan ramadhon ini dengan sebaik-baiknya.

 

Delhi, 1 Agustus 2011/

1 Ramadhon 1432 H

Leave a Response