Membangun Kepercayaan Diri Anak

Pendidikan dalam keluarga merupakan tanggungjawab orang tua. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

Wahai orang-orang yang beriman, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka (Q.S. Attahrim: 6)

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, maka orang tua perlu menyadari bahwa setiap anak terlahir dengan fitrahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كلُّ مولودٍ يُولدُ على الفطرة، فأبواه يهودانه، أو ينصرانه، أو يمجسانه

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya yang menjadikannya yahudi, menjadikannya nasrani, atau menjadikannya majusi (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadits di atas, maka terlihat bahwa setiap anak membawa potensi kebaikan mereka masing-masing. Potensi yang ada pada diri anak tersebut brgantung kepada bagaimana orangtua mereka mengasuh & mendidik mereka.

Jika orgtua tidak tahu atau bahkan kurang perhatian dalam mengarahkan potensi yang sebenarnya sudah mereka miliki, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang minder, penakut dan merasa tidak percaya diri.

Disadari atau tidak rasa percaya diri yang rendah pada anak akan membuat anak kesulitan dalam bergaul dan bersosialisasi. Dan apabila hal ini terus dibiarkan maka akan menimbulkan dampak yang negatif pada anak.

Maka sebagai orang tua, kita memiliki peranan utama penting dalam membangun dan mendukung rasa percaya diri anak. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para pendidik di rumah maupun di sekolah

Pertama, mendo’akan anak. Orang tua perlu memahami bahwa do’a orang tua merupskan perkara yang tidak akan ditolak oleh Allah. Dengan demikian, orang tua wajib hanya mengeluarkan ucapan yang baik terhadap anaknya. Ia harus banyak berdo’a sesuai dengan firman Allah ta’ala,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاما

Wahai Rabb kami, karuniakan dari pasangan dan anak keturunan kami menjadi penyejuk pandangan, dan jadikan kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa (Q.S. Al- Baqarah: 74)

Kedua, Menjadi tauladan yang baik Bagi anak. Ini adalah sebuah perkara yang tidak mudah dan membutuhkan perjuangan. Orangtua hendaknya memberikan contoh yang terbaik untuk anak-anaknya, baik dalam ucapan maupun perilaku.

Ketiga, hindari memarahi anak di depan orang lain /khalayak. Seperti orang dewasa, anak-anak pun tidak suka jika dimarahi di hadapan orang lain.  Baik dihadapan ayah, ibu, adiknya, kakaknya, kakek, nenek dll.

Sekilas terlihat sepele akan tetapi hal ini bisa mengakibatkan anak kehilangan rasa percaya dirinya. Sebaiknya orangtua memberi pengertian atau memarahi anak ketika sedang tidak bersama orang lain. Sampaikan kesalahan anak secara jelas supaya anak bisa belajar membedakan hal yang baik dan buruk.

Keempat, banyak memberikan kesempatan pada anak. Jangan sungkan dan menganggap remeh meminta bantuan kpd anak. Umumnya anak-anak merasa senang apabila orangtua mempercayakan suatu pekerjaan kepadanya.

Anak akan merasa dihargai keberadaanya dan krn orgtua sdh memberikan kesempatan membantu mendorong anak berani untuk melakukan sesuatu. Orangtua bisa meminta bantuan kpd anak untuk hal-hal kecil sejak dini.

Kelima, belajar untuk bisa menghargai kemampuan anak. Setiap anak itu unik dan mereka  memiliki kemampuan yang tidak sama dengan anak yang lainnya. Ketika ada anak TK memiliki kemampuan membaca huruf Hijaiyah masih terbata-bata, maka tidak boleh kita menghinanya atau bahkan menghardiknya. Krn cara tersebut dapat dengan mudah menurunkan rasa percaya diri anak.

Keenam, menjadi orang tua yang memiliki pola asuh yang pengertian. Pola asuh yang diterapkan adalah mendorong anak untuk mandiri, namun masih menempatkan batas dan kendali pada tindakan mereka. Orangtua lebih bersikap hangat dan penyayang.

Selain itu, orangtua juga memberikan kebebasan disertai rasa tanggung jawab, bahwa sang anak bisa melakukan kegiatan dan bersosialisasi dengan yang lainnya. Orangtua tetap tegas dan konsisten dalam menentukan standar, jika perlu menggunakan hukuman sebagai upaya memperlihatkan kepada anak konsekuensi suatu bentuk pelanggaran.

Namun demikian, hukuman yang diberikan dalam bentuk hukuman yang rasional. Tidak menyakiti secara fisik maupun verbal. Misalnya apabila anak kecil tidak mematuhi aturan dirumah, maka sebagai konsekwensinya anak tidak diizinkan bermain diluar. Dsb

Ketujuh, memberikan motivasi pada anak. Hendaknya para pendidik senantiasa memberikan motivasi dan dukungan pada anak. Motivasi dan dukungan yang diberikan orang tua kepada anak akan membuat anak yakin dan percaya pada diri sendiri yang pada akhirnya akan memunculkan rasa percaya diri pada anak dan membuat anak menjadi lebih percaya diri.

Terakhir, tidak ada orang tua, maupun guru yang sempurna di dunia ini terutama dalam mendidik anak. Untuk itu, hendaknya kita senantiasa berusaha untuk menjadi orang tua dan guru yang dapat memahami akan setiap proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal yang menjadi prioritas utama yang harus diperhatikan.

Jika seorang pendidik, baik orang tua maupun guru menyadari kesalahannya, dan melakukan upaya atau mencari alternatif solusi masalah dalam pendidikan anak, maka hal tersebut akan meminimalkan dampak negatif yang akan terjadi dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Pada akhirnya hal ini akan membantu anak mencapai optimalisasi perkembangan yang baik.

Semoga anak-anak kita, tumbuh menjadi anak-anak yang mempunyai kepercayaan diri, dan menggunakan rasa percaya dirinya untuk berjuang di Allah. Aamiin.

 

Malang, 16 Desember 2018

Ummu Afrah

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sejak tahun 2007 berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response