Membangun Realita di Atas Idealita

Terlalu banyak idealisme dalam hidup ini yang jauh dari realita. Kita sudah dapat dengan baik merencanakan kondisi ideal yang ingin dicapai, bahkan dengan segenap langkah – langkahnya, tetapi kemudian tidak dapat optimal, atau malah tidak menghasilkan apa – apa. Demikian kehidupan.

Setiap orang dapat merencanakan apa saja pada level tertentu sesuai dengan keadaan masing – masing, tetapi tidak banyak yang mampu merealisasikan dalam bentuk teknis.

Meski di sisi lain, sering pula kita menemui orang yang mengatakan bahwa dalam hidup ini yang penting mengalir bagai air.

Tidak ada persoalan, hanya tidak dapat dijadikan bahan ilmiah dalam level tertentu. Konsentrasi tetap pada keputusan melakukan yang terbaik.

Mereka yang berprinsip demikian kemudian berhasil, adalah mereka yang mampu melakukan yang terbaik, terlepas dari perencanaan yang “matang“. Yang demikian, tentunya mempunyai resiko yang lebih besar.

Manusia sering kali melupakan esensi proses dari setiap yang diinginkannya selain konsep yang hanya sebatas kesadaran semu. Semua yang berhasil adalah mereka yang menjiwai makna keberhasilan.

Tetapi tidak semua yang mengatakan bahwa ia sudah paham adalah orang yang benar – benar paham. Hal ini sangat berpeluang dan dapat dijadikan bahan analisis terhadap berbagai kejadian meraih impian dalam hidup manusia.

Dalam berbagai kegiatan organisasi, seringkali saya merasakan keadaan seperti ini. Beberapa kali kesadaran yang dibangun adalah sesuatu yang sama sekali tidak bernilai bahkan dianggap kosong.

Tidak jarang teman – teman terutama yang berasal dari ilmu eksak kebingungan jika bukan keheranan tentang proses yang menurut mereka seringkali tidak rasional dan sangat inefisien.

Untuk pembahasan terhadap suatu persoalan sederhana setelah berputar sekian lama, tidak jarang kemudian mendapatkan kesimpulan dasar yang sedari awal sudah menemukan titik temu. Akhirnya banyak program yang diinginkan habis hanya sebatas pembahasan wacana.

Berkenaan dengan kehidupan harian juga demikian. Pernah saya merencanakan untuk kembali ke masa SMU yang saya dengan keadaan sangat “ terdesak “ karena jam belajar yang padat dan tidak membuka peluang membaca pengetahuan umum.

Meskipun demikian, alhamdulillah secara rutin saya mampu melahap minimal satu buku setiap harinya. Dan keadaan tersebut berlangsung tidak kurang dari dua tahun, kecuali pada keadaan – keadaan yang tidak memungkinkan.

Pada saat libur, justru menjadi keasyikan sediri ketika dalam satu bulan misalnya mampu membaca lebih dari seratus buku. Lapang dan puas, demikian yang dapat dirasakan waktu itu.

Muncul keinginan yang begitu kuat, jika saya nanti sudah kuliah, maka tidak boleh sedikit waktu pun yang tersia – siakan. Tentu akan lebih banyak waktu bersama buku.

Tanpa bermaksud menyesali, setelah lebih dari dua tahun setengah menghirup angin di dunia kampus, saya kembali tersadar bahwa harapan tinggal harapan.

Mungkin tidak sampai 100 buku yang mampu saya baca selama ini. Lebih banyak waktu habis untuk kegiatan – kegiatan yang bersifat aplikatif, misalnya tergabung dalam organisasi. Kehidupan disadari tidak hanya sebatas idealisme tetapi kenyataan yang harus dijalani dengan sepenuh kemampuan.

Sering muncul pemikiran tentang mana yang lebih utama bergerak dalam level keilmuan yang konon akan dapat memberikan pemahaman kepada lebih banyak orang, dengan resiko terjadi deviasi pada orang lain. Atau bergerak sendiri sehingga mampu menunjukkan bahwa inilah yang ingin saya sampaikan meski membutuhkan waktu yang lebih lama.

Idealisme ada pada keseimbangan diantara keduanya. Namun itulah yang justru tidak mudah dalam menjalani hidup ini. Banyak orang mencoba kemudian gagal.

Disinilah sepertinya kebenaran pandangan hidup seseorang diuji. Apakah ia mampu melakukan yang terbaik atau tidak. Karena sesungguhnya idealisme tidak selamanya menginginkan aplikasi dalam bentuk yang sama persis.

Justru proses pendewasaan itulah yang diperlukan dan menjadi hadiah terindah…!!!

Yogyakarta, 17 Januari 2006

Leave a Response