Menangisi Dosa

Hamzah Al A’ma pernah bercerita bahwa suatu hari ia mendatangi kediaman Hasan Al Bashri, maka saya mendengar ia sedang menangis. Sepertinya beliau sedang sholat. Maka kesempatan lainnya Hamzah pun bertanya, mengapa engkau banyak menangis?. Maka Hasan Al Bashri menjawab,

يا بني، ماذا يصنع المؤمن إذا لم يبكِ؟ يا بني إن البكاء داع إلى الرحمة. فإن استطعت أن تكون عمرك باكيا فافعل، لعله تعالى أن يرحمك

Wahai anakku, apa yang dilakukan (sebagai persiapan) seorang mukmin jika ia tidak menangis? Sesungguhnya tangisan itu mengundang rahmat. Maka jika engkau mampu untuk melakukan urusanmu dengan menangis (dalam ibadah) maka menangislah. Semoga Allah pun merahmatimu.

Demikianlah para ulama terdahulu menjadikan tangisan sebagai ketakutan sekaligus kelapangan  dalam hati mereka. Hasan Al Bashri takut jika berada dalam keadaan lalai kemudian malaikat maut mendatanginya. Ia takut dengan dosa yang telah dilakukannya. Dan dengan tangisan, hatinya pun menjadi lapang karena berharap pengampunan dari Allah ta’ala.

Maka bagaimana dengan kita yang hidup di zaman yang sangat memungkinkan bagi kita untuk melakukan jauh lebih banyak dosa daripada yang diperbuat oleh Hasan Al Bashri rahimahullah?.Mengapa kita tidak menangis dan menyesal?.

Padahal setiap dosa yang kita lakukan hanya akan membuat hati ini menjadi gelap dan menjadi semakin jauh dari Allah ta’ala. Akhirnya kita pun tidak bisa merasakan nikmatnya ibadah dan terus menerus jatuh pada dosa berikutnya.

Apakah kita tidak takut dijemput oleh malaikat maut sementara kita masih lalai dan menikmati berbagai kemasiatan demi kemaksiatan?

Padahal jangankan mati pada saat melakukan kemaksiatan, seorang yang hanya dengan niat melakukan suatu kemaksiatan pun ia akan mendapatkan dosa karenanya.  Dalam suatu hadits dikisahkan bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار” قالوا : هذا القاتل فما بال المقتول؟ قال: ” إنه كان حريصا على قتل صاحبه

Jika dua orang muslim telah mencabut pedangnya, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh keduanya-duanya di dalam neraka. Sahabat bertanya, dengan pembunuh (kami paham), tetapi bagaimana dengan yang terbunuh?. Maka Rasulullah menjawab, karena ia juga punya keinginan untuk membunuh saudaranya. (HR Bukhari)

Bahkan terkadang kita juga masih melihat besar kecil dosa yang kita lakukan. Sementara para ulama, mereka sudah melihat kepada siapa mereka telah melakukan dosa tadi.

Betapa banyak dosa kecil akhirnya menjadi besar di sisi Allah karena ia melakukannya secara terus menerus atau meremehkannya. Bahkan tidak sedikit mereka yang menjadi kafir karena dosa-dosa kecil yang terus menerus ia kerjakan. Mereka para ulama mengatakan المعاصي بريد الكفر (kemaksiatan mengantarkan kepada kekafiran).

Maka ketika jatuh kepada kemaksiatan, mengapa kita tidak segera bertaubat kepada Allah ta’ala?. Ataukah karena hati kita yang telah berkarat dan membatu karena dosa demi dosa yang kita kerjakan?

Sementara Allah ta’ala telah berfirman bahwa di antara karakter dari orang-orang yang beriman adalah menyegerakan taubatnya.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ

Dan orang-orang yang ketika melakukan kemaksiatan atau mendholimi dirinya, maka ia langsung ingat dengan Allah dan memohon ampun (Q.S. Imran:135)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

لايلج النار رجل بكى من خشيه الله حتى يعود اللبن في الضرع

Tidak akan disentuh api neraka seseorang yang takut kepada Allah sampai kembali susu kembali ke tempat diperahnya (HR Tarmidzi)

Ia menangisi dosa masa lalu yang telah dilakukannya. Jika bukan karena rahmat dan kasih sayang dari Allah, maka terasa sempit bumi ini karena dosa yang ia kerjakan.

Ketahuilah bahwa selain begitu besar kasih sayang-Nya terhadap hamba yang mau bertaubat, Allah ta’ala juga mempunyai azab yang pedih. Karena itu jangan pernah meremehkan dosa. Allah ta’ala berfirman,

اعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Ketahuilah bahwa Allah mempunyai azab yang pedih, dan sesungguhnya Allah maha pengampun dan penyayang (Q.S.Al Maidah:98)

Oleh karena itu, hendaknya kita segera menyegerakan taubat. Semua kita pasti pernah melakukan dosa, tetapi sebaik-baik dari kita adalah yang segera bertaubat kepada Allah ta’ala. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

Setiap anak adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik mereka yang bersalah adalah yang bertaubat (HR Tarmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang bertaubat atas dosa-dosa kita sebelum datang kematian. Aamin.

Trento, 7 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response