Mencari Hati Yang Tenang

Semua orang menginginkan ketenangan dalam hatinya. Hanya saja realitanya akhir-akhir ini, kita melihat seakan harga sebuah ketenangan menjadi begitu “mahal”. Jumlah orang yang mengalami sakit jiwa dari waktu ke waktu semakin meningkat.

Realita lainnya, adalah bahwa banyak orang menghabiskan uang untuk pergi berhura-hura, ke club-club malam, atau bahkan dengan melakukan berbagai kemaksiatan lainnya untuk meraih ketenangan. Biaya yang dikeluarkan bukan hanya materi, tetapi juga keimanan.

Hanya saja, realitanya, justru semakin banyak mereka jatuh kepada “kenikmatan” sesaat itu tadi, semakin jauh ketenangan itu dari hidup mereka. Di dalamnya batin merasa tercabik, lebih-lebih lagi jika kemaksiatan yang dilakukannya diketahui orang lain, maka ia pun harus membayar dengan biaya yang lebih mahal lagi.

Terkadang bukan hanya dirinya yang merasakan malu, tetapi juga keluarga, kelompok, organisasi, dan berbagai tempat lain yang ia dijadikan sebagai bagian dari komunitas tadi. Kita bisa melihat sebagaimana berita-berita yang bisa kita baca akhir-akhir ini. Di akhirat, siksa pun menanti.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sebenarnya meraih ketenangan yang sesungguhnya?. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kami juga akan menggambarkan tentang karakter hati manusia terlebih dahulu.

Jenis hati Manusia

Hati merupakan bagian yang sangat penting dalam tubuh manusia. Dalam hadits disebutkan,

أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka akan baik semua jasadnya, tetapi jika rusak maka akan rusak semua jasadnya, ketauilah bahwa itu adalah hati. (hadits muttafaqun’alaih).

Hadits ini menunjukkan bahwa hati mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan kita, terutama dalam menentukan baik buruknya amal perbuatan. Mereka yang hatinya baik, maka amal perbuatannya pun akan mengikuti dengan hal-hal yang baik. Tidak mungkin hati yang baik, akan bisa menikmati suatu kemaksiatan.

Perbuatan yang baik yang ia lakukan akan mengantarkan seseorang kepada ketenangan yang sesungguhnya. Adapun kejelekan dan perbuatan maksiat, akan membuat kita semakin tidak mengenali siapa diri kita yang sesungguhnya.

Konsekuensi dari pekerjaan hati, ternyata juga bukan hanya urusan kehidupan di dunia ini, tetapi juga menyangkut keselamatan kita di alam akhirat. Allah berfirman,

يوم لا ينفع مال ولابنون الامن اتى الله بقلب سليم

Hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang salim.

Yaitu hari kiamat yang begitu dahsyat, yang tidak seorang pun bisa selamat kecuali dengan pertolongan Allah dengan mempunyai hati yang selamat. Pada hari itu, semua apa yang telah kita lakukan di muka bumi ini akan dimintai pertanggunjawaban oleh Allah sebagaimana firman-Nya.

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan perbuatan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Artinya, bahwa apapun yang kita lakukan tidak akan berlalu begitu saja. Semua akan punya konsekuensi. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan kejelekan akan mendapatkan kejelekan. Karenanya kita perlu memikirkan nilai manfaat dari setiap apa yang akan kita lakukan.

Dalam kitab tazkiyatun nufus, dijelaskan bahwa hati manusia ada 3 macam, yaitu:

a. Hati yang hidup

    Mereka yang mempunyai hati ini adalah mereka yang dijamin mendapatkan keselamatan oleh Allah. Hati ini adalah hati yang selamat dari berbagai jenis syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan rasul, syubhat, selamat dari berhukum selain dengan ajaran rasul.

    Justru yang ada di dalamnya adalah perasaan takut dan cinta kepada Allah, tawakkal, khusu’, penuh harap, ia mencitai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci, intinya apapun yang dilakukan hanya karena Allah semata.

    Kondisi mereka sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Al-hujarat,

    يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله

    Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului kehendak Allah dan rasul,

    Kemudian dilanjutkan ayatnya, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengetahui.

    b. Hati yang mati

      Hati ini adalah lawannya hati yang selamat, ia tidak mengenal Rabb-nya, tidak menyembah Allah sesuai dengan yang diperintahkan, tidak mencintai dan ridho dengan ketentuan Allah, tetapi ia justru mencukupkan dirinya dengan syahwat dan merasa nikmat dengannya, meskipun hal tersebut mengundang kemurkaan Allah.

      Ia hakikatnya tidaklah menyembah Allah, semua kecintaan dan kebencian yang ia miliki hanya berdasarkan hawa nafsu semata, ia bodoh, dan senantiasa terperangkap dengan kehidupan dunia yang melalaikan.

      Mereka adalah orang-orang yang Allah gambarkan dalam ayat-Nya,

      أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ

      Mereka adalah orang-orang yang Allah tidak menghendaki atasnya untuk mensucikan hatinya.

      Makna لَمْ adalah bahwa mereka sebenarnya mempunyai peluang untuk kembali menjadi baik, asal ia dengan sungguh-sungguh membersihkan hatinya. Oleh karena itu, mereka perlu untuk memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diganti dengan hati yang lain.

      c. Hati yang sakit

        Sementara hati ini, padanya kehidupan, ia cinta kepada Allah, ada iman dihatinya, terkadang ia ikhlas dan tawakkal kepada Allah, tetapi pada saat yang sama ia juga mencintai syahwat, ada hasad, kesombongan, ujub. Maka orang-orang ini, perlu bagi mereka untuk mengobati hatinya.

        Mencari Hati yang Bersih?

        Syaikh bin Baz menulis bahwa hati yang keruh dan kotor disebabkan oleh dosa dan kemaksiatan, lalai dari Allah dan banyak bergaul dengan orang-orang yang membuat lalai.

        Sementara hati yang lembut dan tenang akan didapatkan dengan ketaatan kepada Allah, bersahabat dengan orang-orang yang baik, senantiasa menjaga waktu untuk selalu berdzikir kepada Allah, membaca alquran, beristighfar, dan melakukan berbagai kebaikan lainnya.

        Inilah makna ayat,

        أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

        Ketahuilah bahwa hanya dengan berdzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang.

        Dzikir ini oleh para ulama tidak hanya dimaknai dalam artian lisan semata, tetapi juga dzikir dalam hati dan perbuatan. Setiap apapun yang kita lakukan, selalu dalam rangka semakin mendekatkan diri kepada Allah.

        Begitu utamanya orang-orang yang senantiasa berdzikir tadi. Selain mendapatkan ketenangan jiwa, maka mereka yang senantiasa berusaha membersihkan hatinya akan dicintai oleh Allah,

        إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

        Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mereka yang mensucikan diri.

        Salah satu bentuk dzikir yang semua orang pasti bisa melakukannya adalah beristighfar kepada Allah. Perbuatan ini begitu utama, sampai-sampai Allah berfirman,

        وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

        Beristighfarlah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha pengampun dan penyayang.

        وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

        Dan hendaklah memohon ampun kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada-Nya

        Mohon ampun dan bertaubat ini maknanya cukup luas. Kita harus benar-benar menyesali kesalahan yang telah kita lakukan, tidak mengulanginya dan menyibukkan diri dengan berbagai kebaikan. InsyaAllah dengannya kebahagiaan dan ketenangan yang sesungguhnya akan bisa kita dapatkan.

        Semoga kita semua mempunyai hati yang bersih dan diberikan ketenangan dalam hidup ini.

        Delhi, 15 April 2011

        Leave a Response