Mencari Pemimpin Ideal

gunung brHampir setiap hari kita disuguhi berita-berita korupsi, kebijakan yang tidak tepat sasaran, bahkan (maaf) skandal dari orang-orang yang seharusnya dijadikan contoh. Mereka adalah beberapa pejabat dan anggota dewan di negeri ini.

Menyaksikan berita tersebut, hati sering terhenyak dan meninggalkan goresan yang amat mendalam. Muncul kemarahan. Namun, ketika memalingkan wajah, maka akan terlihat wajah-wajah sayu kaum miskin yang kelaparan, sakit dan tidak bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Hati pun iba dan menangis. Maka kemarahan dan kesedihan berkecamuk.

Muncul kerinduan dengan sejarah kepemimpinan Islam. Ketika Umar bin Abdul Aziz memerintah, beliau bingung menyerahkan zakat karena masyarakat semuanya hidup makmur.

Kakek beliau, Umar bin Khattab, juga memimpin dengan hati yang sangat lembut dan peka terhadap masyarakat. Tidak hanya berkeliling wilayah kekuasaannya di malam hari untuk mencari warganya yang kelaparan atau sakit, bahkan dengan binatang pun hatinya tersentuh.

Pernah umar menangis tersedu dan merasa sangat bersalah ketika seekor anak keledai mati karena tergelincir di jalan daerah Baghdad, padahal beliau tinggal di Madinah.

Kita merindukan Ali bin Abi Thalib yang begitu cerdas, cepat mengambil keputusan dan hidup sederhana. Seorang Ustman bin Affan yang begitu ringan mengeluarkan harta pribadi untuk kepentingan masyarakat.

Kita juga rindu ketegasan dan komitmen yang kuat seperti yang ditunjukkan Abu Bakar Asshidiq. Beliau memerangi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul, tetapi tetap minta diingatkan oleh masyarakatnya ketika salah.

Khutbah beliau ketika pertama diangkat sebagai khalifah begitu terkenal,

”Saya bukanlah yang terbaik diantara kalian, apabila saya dalam kebenaran maka taatilah saya, tetapi jika saya salah dan tidak lagi sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul, maka ingatkan saya!!”.

Pernyataan yang menunjukkan kesempurnaan jiwa, dan pemahaman yang baik terhadap masalah kepemimpinan sebagai amanah. Keadaan yang begitu jauh dengan kondisi sekarang.

Di masa ini, banyak pemimpin yang hanya sekedar mencari uang dan popularitas semata. Kepemimpinan diperebutkan, bahkan tidak segan-segan mengeluarkan sejumlah uang dalam jumlah sangat besar.

Seorang bapak yang sempat menjadi calon walikota di sebuah daerah bercerita. Waktu debat calon, panelis menanyakan berapa jumlah uang yang beliau siapkan untuk menjadi walikota. Beliau menjawab 2 milyar.

Kemudian panelis menanyakan apakah anda tidak menggunakan uang sponsor. Ketika beliau mengatakan hanya menggunakan uang pribadi, panelis berkomentar, ”Anda mau menjadi walikota atau kepala desa?!!”. Sebuah gambaran bagaimana jabatan di negeri ini bisa begitu mahal tetapi memungkinkan untuk diperjualbelikan.

Jika untuk persiapan menjadi pemimpin saja sudah mengeluarkan sekian banyak uang, maka apa yang bisa kita harapkan dari mereka?. Secara rasional orang-orang ini akan mengembalikan modal pencalonan mereka terlebih dahulu. Anggaran pembangunan tidak sepenuhnya digunakan untuk mensejahterakan rakyat.

Bukan kecurigaan, tetapi penilaian melihat realita bahwa orang berebut menjadi pemimpin. Jika tidak mendapatkan keuntungan, tentu mereka lebih baik menikmati kekayaan mereka saja, tanpa harus menjadi pemimpin.

Kepemimpinan tidak lagi dimaknai sebagai amanah, tapi justru sebagai jabatan untuk mengeruk kekayaan sebanyak mungkin.

Amien Rais sempat menyampaikan bahwa untuk menjadi kaya hanya dengan dua cara saja, pertama menjadi pengusaha, dan kedua menjadi anggota Dewan atau pejabat yang korup. Pernyataan ini merupakan kritik pedas beliau yang terkenal blak-blakan.

Belum termasuk realita yang lain. Islam sebenarnya punya konsep kekhalifahan yang berpaham bahwa dunia itu ada dalam kesatuan ikatan agama. Tidak ada batasan jarak atau wilayah. Semua rakyat diharapkan hidup dalam kesejahteraan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim termasuk Indonesia, sibuk dengan perpecahan elemen masyarakat. Niatan pemerataan pembangunan melalui desentralisasi pemerintahan justru lebih sebagai proyek daripada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Desentralisasi tidak lebih dari transfer kantong-kantong korupsi dari pusat ke daerah.

Bahkan yang lebih mengerikan adalah pemecahbelahan elemen masyarakat dengan sistem pilkada. Bayangkan 385 kabupaten di Indonesia, maka sebanyak itu pula dalam lima tahun masyarakat diarahkan bermusuhan. Jika dirata-ratakan, sekitar 5 hari sekali masyarakat Indonesia diadu dan didorong untuk melepas ukhuwah mereka.

Pelayanan publik juga mengalami masalah serius di negeri ini. Pendidikan dan kesehatan seakan hanya hak orang kaya karena biayanya yang mahal. Wajar jika muncul istilah orang miskin dilarang sekolah dan orang miskin dilarang sakit!!.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh kelompok orientalis untuk menyebarkan kampanye negatif tentang Islam. Menurut mereka, Islam bukanlah solusi, malah merupakan penjara yang mengekang perkembangan masyarakat, Islam tidak menghargai wanita, tidak rasional, dan sederet tuduhan negatif lainnya. Indonesia adalah contoh riil.

Sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim, Indonesia adalah negara kedua terkorup di dunia setelah Brazil, negara miskin, tidak disiplin, kotor, teroris dan kurang berpendidikan.

Penyebab keterbelakangan dalam semua asfek tersebut menurut mereka adalah karena Islam. Dan pemahaman ini berkembang di tengah masyarakat non muslim yang tidak mengenal Islam secara langsung dan utuh.

Seorang tokoh di negeri ini menyampaikan kepada penulis,

”Andaikan Islam membolehkan muslim berputus asa, maka saya adalah orang pertama dan yang paling kecewa dengan kondisi bangsa ini. Persoalan mencuat di semua asfek tidak lagi internal, tetapi juga eksternal. Hati semakin perih melihat pemimpin negeri ini yang tidak tanggap dengan persoalan-persoalan masyarakat. Bahkan masih bernyanyi ketika masyarakat menangis!!”

Oleh karena itu, kita rindu pemimpin yang kuat, seorang yang hatinya lembut seperti umar, cerdas seperti Ali, dan kuat seperti Abu Bakar As Shidiq, serta dermawan untuk menyumbangkan hartanya seperti Ustman bin Affan.

Seorang yang ketika memimpin mengikuti tuntunan Islam dan kuat dengan kebenaran seberat apapun. Juga seorang pemimpin yang senantiasa mendengarkan masukan dan keluhan dari masyarakat untuk melakukan yang terbaik.

Pemimpin yang mampu memberikan teladan untuk masyarakat, bukan hanya pandai bicara.

Pemimpin yang tidak minta disanjung tetapi siap diberikan masukan. Dan pemimpin yang punya integritas serta akhlak yang agung.

Kita meridukan mereka. Pemimpin yang Allah janjikan perlindungan dan naungan di hari akhirat nanti karena keikhlasan mereka dalam berjuang.(Malang, 17 Juli 2008)

Leave a Response