Menjaga Amanah Lisan

Lisan adalah satu nikmat besar yang dikaruniakan Allah ta’ala kepada kita. Dengan lisan maka kita bisa mengungkapkan segala apa yang ada dalam hati dan pikiran kita sehingga dengan mudah orang akan memahami apa yang kita inginkan.

Bahkan dengan lisan pula keimanan kita dibuktikan, karena tidaklah keimanan kecuali harus dengan kesesuaian dari apa yang ada di dalam hati, lisan dan amal perbuatan kita. Tanpa mengucapkan syahadat, maka meskipun telah melakukan banyak kebaikan, tidaklah seseorang itu dikatakan sebagai orang beriman.

Namun sayangnya, tidak semua orang menjaga amanat lisan ini. Terkadang lisan yang seharusnya digunakan untuk banyak berdzikir kepada Allah, bersyukur atas semua nikmat yang telah kita terima, atau beristighfar dari dosa-dosa yang kita lakukan, justru malah digunakan untuk hal-hal yang bisa mengundang kemurkaan Allah.

Betapa banyak mereka, bahkan di antara kalangan muslimin, yang tertipu dengan lisannya. Tidaklah hari mereka lalui kecuali ia melakukan kedustaan, menggunjing, mengumpat, atau dosa-dosa lisan lainnya. Terasa ada yang kurang jika dalam satu hari saja tidak memberikan stigma negatif terhadap orang lain, bahkan terhadap saudaranya sesama muslim.

Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

المسلم من سَلِم المسلمون من لسانه ويده

Seorang muslim adalah siapa yang selamat muslim lainnya dari ucapan dan tangannya (HR.Muslim)

Maka di sini terlihat jelas bahwa seorang muslim tidak hanya sekedar menjaga amalan batinnya, tetapi juga amalan dhohirnya. Dan salah satu amalan dhohir tersebut dengan menjaga ucapannya agar tidak mengundang dosa.

Setiap kali ingin berucap seharusnya ia terlebih dahulu menimbang akibat yang akan ditimbulkan. Jika ucapan tersebut akan berdampak baik dan mengundang keridhoan Allah, maka ia akan melakukannya. Namun jika sebaliknya maka ia akan memilih untuk diam.

Orang seperti inilah yang digambarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka katakanlah yang baik atau diam (HR. Bukhari Muslim).

Dengan keimanannya, seorang muslim akan menjadikan hatinya yang bersih sebagai pemimpin bagi perbuatannya. Jika hatinya mengatakan bahwa apa yang akan diucapkan tidak baik, maka ia pun akan meninggalkannya. Ia tahu betul bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Di antara tanda kebaikan kesialam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya (HR.Tarmidzi dan Ibnu Majah)

Seorang muslim yang baik akan tahu bahwa setiap ucapannya suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ta’ala. Bahkan tidak ada satu ucapan dan amal pun yang terlewat karena semuanya dicatat oleh  malaikat ‘Atid dan Roqib. Allah ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada satu ucapan yang keluar dari lisan kecuali padanya ada Roqib dan ‘Atid (Q.S. Qoff:18)

Ia takut jika waktu hidupnya yang hanya sebentar di dunia ini digunakan untuk kemaksiatan kepada Allah. Ia membayangkan seakan kematian itu sudah ada di depan mata, atau bisa datang kapan saja. Sehingga dirinya pun hanya sibuk dengan hal-hal yang bermanfaat.

Tujuan hidupnya adalah akhirat, dan ia tahu bahwa iman adalah kunci bagi keselamatan tersebut, sementara lisan akan sangat menentukan keimanannya. Dari Anas radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه

Tidak akan istiqomah keimanan seorang hamba sampai hatinya kukuh, tetapi tidak akan lurus hatinya sampai lisannya juga selamat. (HR. Ahmad)

Makanya jika pun pernah selip dan salah dalam menggunakan lisannya, seorang muslim yang beriman akan langsung bertaubat kepada Allah ta’ala. Ia akan menjauhi segala yang merusak lisannya, menyesal atas perbuatannya, dan tidak kembali mengulangi hal tersebut, melainkan sibuk dengan kebaikan.

Allah ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Maka bertaubatlah kalian semua wahai orang­­-orang yang beriman akar kalian mendapatkan kemenangan (Q.S.Annur:3)

Demikianlah posisi lisan yang seperti pedang. Jika ia bisa menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah, maka betapa banyak kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Namun sebaliknya, kemurkaan Allah pun akan diperoleh oleh mereka yang salah dalam menggunakan lisannya.

Bahkan dalam suatu hadits diceritakan, pernah seseorang langsung menghakimi kafir orang lain dengan lisannya tanpa bukti yang jelas, maka hanya dengan satu ucapan ini, Allah pun menghapuskan semua amalnya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله عز وجل: من ذا الذي يتألَّى عليَّ أني لا أغفر لفلان؟ قد غفرت له وأحبطت عملك

Seseorang mengatakan, demi Allah, maka Allah tidak akan mengampuni si fulan. Maka Allah ta’ala berfirman, siapa yang telah mendahului-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Maka sungguh Aku telah mengampuninya dan Aku telah menghapuskan semua amalmu (HR.Muslim)

Dalam hadits yang lain, Rasulullahu shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين ما فيها يزل بها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب

Seorang hamba berucap dengan kalimat yang tidak jelas kebenaran padanya, maka akan dilemparkan ia ke dalam neraka yang jaraknya sejauh timur dan barat (HR.Muslim)

Demikianlah keadaan lisan manusia dan kita memohon kepada Allah akan kita diselamatkan dari lisan yang jelek, dan diberikan kemudahan dan kekuatan oleh Allah ta’ala untuk bisa menjaga amanah lisan ini hanya untuk ketaatan semata.

—- Di sadur dari kitab  (30-معجم المناهي اللفظية (ص: 26)

 

Trento, 17 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sejak tahun 2007 berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Leave a Response