Menyegerakan Taubat Sebelum Kematian

Hari ini ibu telepon. Ibu cerita jika teman SMP saya yang dulu terkenal cerdas dan sholehah barusan meninggal. Ia bekerja sebagai seorang guru dan mempunyai tiga anak yang masih kecil.

Innalillahi wa inna ilahi rajiun..berita ini menambah daftar orang-orang yang selama ini saya kenal baik dan sudah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan yang fana ini. Waktu terasa berjalan cepat, karena teringat kebersamaan dengan orang-orang yang saya kenal tadi.

Akbar misalnya, ketika sholat dhuhur kami masih sempat bercerita berdua bersama di serambi masjid, qadarallah setelah ashar mengalami kecelakaan dan meninggal.

Mbak Fitri juga demikian, orang yang mengarahkan saya untuk terlibat di masjid kampus, juga meninggal karena jatuh dari motor setelah mengungjungi desa yang akan dijadikan lokasi bakti sosial. Tepat pada hari seharusnya wisuda beliau menghadap Allah ta’ala.

Saya juga ingat Sagita, teman sekelas waktu SMA yang sering cerita tentang cita-cita dan keluarganya, ternyata juga dipanggil dengan cepat oleh Allah ta’ala ketika kuliah di Jogja.

Saimin, teman waktu di Madrasah Ibtida’iyah juga mengalami nasib yang sama. Terbayang waktu sering main bersama di sekolah yang kami ikuti setelah proses belajar pagi di SD, meninggal dalam usia yang sangat muda.

Masih banyak sahabat-sahabat saya lainnya yang sudah meninggal dalam usia muda. Semua yang saya ceritakan ini baru yang berasal dari daerah yang sama dengan saya, Bengkulu. Belum termasuk teman-teman dari tempat lain.

Merenungi kisah mereka, jiwa ini pun harus mempersiapkan diri. Hakikatnya kita semua sedang menunggu antrian, karena suatu saat kematian pasti akan mendatangi kita. Allah ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور

Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, dan sesungguhnya akan dicukupkan balasan kalian pada hari kiamat. Barang siapa yang selamat dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia mendapatkan kemenangan. Dan tidaklah kehidupan dunia ini kecuali perhiasan yang menipu (Q.S. Al Imran: 185)

Ayat ini jelas menggambarkan bahwa akhirat adalah kehidupan kita yang sesungguhnya. Masuk surga hendaknya menjadi cita-cita setiap mukmin. Adapun dunia, tidak lebih dari permainan singkat yang pasti akan berakhir.

Ketika kematian mendatangi, maka kita akan dipisahkan dengan apa yang kita cintai, dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan ,

أتاني جبريل، فقال: يا محمد عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به

Jibril mendatangiku kemudian berkata, wahai Muhammad, hiduplah sesukamu tetapi engkau pasti akan mati, cintai apa yang engkau cintai tetapi engkau akan dipisahkan dengannya, dan berbuatlah sesukamu tetapi kamu akan dibalas dengan amalanmu (HR. Tabraani)

Dengan jujur kita perlu bertanya pada diri masing-masing, apakah kita sudah siap menghadapi kematian? Bekal apa yang sudah kita siapkan jika saja kematian secara tiba-tiba mendatangi kita?.

Setelah kematian, kita akan masuk pada kehidupan yang sesungguhnya. Ada yang mendapatkan nikmat kubur sampai masuk ke dalam surga, tetapi ada pula yang mengalami penderitaan berkepanjangan tiada henti. Semuanya berakhir sudah kecuali ada bekal yang kita siapkan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Jika mati anak cucu ada, maka terputus amalnya kecuali karena tiga perkara, sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi kita kecuali bersiap, memperbanyak amal kebaikan, dan bertaubat atas dosa yang selama ini kita lakukan. Dan taubat ini harus segera dilakukan karena setelah nyawa di kerongkongan, tidak lagi akan diterima taubat seorang hamba.

Allah ta’ala berfirma,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

Dan tidak ada taubat bagi mereka yang berbuat kejelekan sampai kematian mendatangi mereka, baru ia berkata sekarang aku bertaubat (Q.S. Annisa: 18)

Sebesar apapun dosa dan kelamnya masa lalu kita, taubat harus disegerakan. InsyaAllah pengampunan Allah ta’ala akan diberikan kepada mereka yang bertaubat dengan taubatan nashuha. Allah ta’ala berfirman

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah wahai hambaku yang telah melampaui batas atas diri mereka, jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesunggunya Allah maha pengampun dan maha penyayang (Q.S. Azzumar: 53)

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bertaubat sebelum kematian kita, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah. Aamin.

 

Taichung, 4 Jumadil Akhir 1440

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response