Menyimpan Rasa Cinta

Sungguh manusia harus menjadi pribadi kuat. Tidak pantas ia berkeluh kesah dengan persoalan yang terjadi. Apalagi menyangkut masalah rasa.

Tidakkah ia jujur pada nurani bahwa telah begitu banyak korban rasa. Sementara itu pula tidak seorang pun kekal dalam hidupnya. Bagaimana mungkin mereka yang hidup dalam ketidakpastian.

Jiwa mungkin sulit menerima. Keberatan yang hebat. Telah terlalu banyak orang yang terjatuh. Mereka kuat dalam beberapa persoalan tetapi lemah ketika bicara tentang rasa. Teramat lemah.

Diri biarkan hidup dalam perjuangan berat. Kesunyian karena cinta yang tidak terucap. Allah maha tahu apa yang seharusnya terjadi  pada kita. Bagaimana mungkin menggantungkan harap pada kekasih selain Allah. Karena sungguh, engkau benar – benar akan menjadi sangat lemah.

Jangan pernah bermain dengan rasa. Kata yang teramat sering terdengar. Lebih berbahaya lagi ketika keadaan sudah didramatisir. Ia tidak  lagi mempunyai konsistensi dalam kekuatan. Sebesar apapun rasa yang ada dalam jiwa. Biarkan hati terbakar. Biarkan remuk dan hancur.

Bukan persoalan ketika diri tetap berada dalam kebenaran. Karena sungguh tidak ada keindahan dalam dosa. Kenikmatan hanya sementara. Selanjutnya diri akan dihantui perasaan berdosa dan lemah.

Kalau saja mau mengenang masa. Merasakan segala dalam bagian jiwa. Tidak kuat lagi untuk  berdiri. Hanya tangis yang tersisa. Biarkan jiwa menjadi bebas.

Ia menangis mencari apa sebenarnya yang paling berarti. Tidak perlu banyak bicara agar orang lain tahu. Waktu akan menjadi pemecah persoalan yang engkau hadapi.

Keagungan yang ada dalam jiwa kekasih hati telah membakar jiwa. Kalau kebaikan yang engkau inginkan, mengapa tidak yakin bahwa kebaikan akan bertemu kebaikan.

Tidaklah bisa hidup hanya dengan membiarkan diri berlari dari kenyataan. Perasaan akan semakin tersayat dibalik sikap yang kehilangan tanggung jawab.

Hendaklah diri mulai dan selalu menguji kesabaran. Jangan bakar jiwa dengan ketakutan. Tidak perlu memikirkan apa yang bukan menjadi bagianmu.

Jadilah sebaik – baik orang. Dengan sepenuh ketakwaan akan dapat engkau nampakkan kekuatan diri. Bukan dengan meminta dan mengharap dari orang yang tidak pasti.

Berat dan bukan hal mudah untuk melakukaan semua. Diri hendak berkata apa. Manusia telah dilahirkan dalam bagian paling tepat sebagai manusia. Tulisan cukup menjadi sejarah bahwa kehidupan ini pernah berlalu.

Meski kekasih hati tak harus dimiliki. Biarlah. Engkau hendaknya dapat hidup di alam bebas. Dengan sepenuh kekuatan dari dunia yang jauh dari harap.

Tutuplah hatimu dari permainan rasa. Tidak pantas sedikit pun racun melekat. Kekuatan ada pada diam.

Pada hening malam hendaklah engkau bersujud. Renungilah kelemahan jiwa. Atas dasar apa kemuliaan akan engkau dapat. Jangan berharap.

Sadari bahwa engkau cukup kuat. Tidak tergantung dan butuh apapun kecuali apa yang menjadi kehendak hati. Dalam kesunyian. Dalam bimbingan pemilik jagat.

Berkatalah untuk kekasih hati. Tiada kekuatan. Tiada harapan. Apapun yang menjadi harap tidak menjadikan diri mati. Biarkan diri terbang.

Engkau mungkin terlalu indah. Diri cukup kuat, meski tangis mungkin sulit tuk dihindari. Oh….yang merasuk hati. Tak kan kusampaikan rasa dihati kecuali untuk sebuah ikatan suci.

Yogyakarta, 16 Mei 2005

1 Comment

  1. Setiap insan harus belajar untuk bersikap keras terhadap dirinya.Ia akan menjadi benteng pertahanan yang kuat untuk tidak mudah menurutkan apa yang dirasa.nice posting Ami!!

Leave a Response