Merasakan Pengawasan Allah

Jika kita membaca berita di Koran, majalah, atau dari tv dan berbagai sumber lainnya, bahkan dengan menyaksikan realita sehari-hari di sekitar kita, semakin sadarlah bahwa manusia begitu banyak yang tidak mampu merasakan pengawasan Allah. Buktinya jumlah kemaksiatan dan kejahatan dari hari ke hari kian bertambah. Hatta sampai pada persoalan yang tidak bisa diterima akal sehat.

Sulit misalnya melogikakan bagaimana seorang anak tega membunuh ibu atau bapak kandungnya sendiri, saudara membunuh saudaranya, perkosaan terhadap keluarga dekat seperti anak, ponakan dan saudara. Faktanya tidak demikian. Inilah masa ketika kejahatan begitu merajalela.

Bahkan kejadian ini tidak hanya menimpa orang-orang “awam”. Mereka yang oleh masyarakat dikenal sebagai sosok yang paham agama dan diharapkan menjadi panutan, justru bersikap serupa. Mereka bisa berkata, tapi tidak mampu memberikan tauladan. Merekalah orang-orang yang seakan-akan memakan ayat-ayat Allah.

Berdasarkan realita tersebut, maka sudah seharusnya semua orang mulai mengintropeksi diri. Kembali dengan hati memahami makna kehidupan.

Dunia hanya sementara dan semua orang akan mati. Pada waktu itu tidak ada lagi arti kejayaan dalam harta, jabatan, atau berbagai kesenangan semu yang selama ini kita kejar. Justru mereka akan menjadi musuh yang nyata. Mereka lalai dari mengingat Allah.

Alangkah ruginya andai pada waktu itu, tidak ada amal sholeh yang kita bawa. Apalagi kita dipanggil oleh Allah dalam keadaan berlumur dosa sebelum sempat bertaubat. Tentu tidak bisa kita kembali ke dunia untuk berbuat kebaikan. Semua telah berlalu.

Juga sebagai anak, alangkah menyesalnya kita jika tidak bisa membuat bahagia kedua orang tua. Malah kita sering melukai hati mereka. Alangkah celaka. Kemurkaan Allah menanti.

Namun itulah kita. Bahkan mereka yang meniatkan membahagiakan orang tuapun salah memahami. Dalam pandangan mereka orang tua hanya akan bahagia dengan menyodorkan harta yang banyak. Seakan kita mampu menghitung harga perjuangan ibu dan bapak kita yang sudah sedemikian letih membesarkan.

Sahabat, masih banyak hal lain yang menunjukkan begitu jauhnya kita dari Allah. Kita sangat bodoh karena tidak pernah serius memahami ayat-ayat-Nya. Bahkan berislam hanya sebatas identitas diri saja. Padahal tidaklah Allah melihat keislaman seseorang dari KTP melainkan amal sholeh yang kita kerjakan. Tentunya dengan keikhlasan dan kita terhindar dari kesyirikan.

Oleh karena itu, kita wajib memahami ilmu agama ini. Beragama tidak hanya sisa waktu melainkan menjadi tujuan utama. Hidup mati kita semata diserahkan untuk Allah.

Dengan keikhlasan dan hati yang bersih. Maka kebaikan demi kebaikan akan menghampiri kita. Keberkahan dalam hidup selalu menyertai.(Diselesaikan di Malang, 18 Mei 2009)

Leave a Response