Meyakini Takdir Allah Ta’ala

Dalam perjalanan pulang dari Italy, ada satu kejadian yang membuat kami belajar banyak tentang takdir. Qadarallah, setelah sampai di Surabaya, bagasi kami yang di dalamnya hampir semua barang-barang termasuk oleh-oleh yang dibawa ternyata masih tertinggal di Amsterdam.

Hal ini kami ketahui ketika membuat laporan ke pihak terkait yang menangani masalah kehilangan dan penemuan bagasi. Pada waktu itu, karena masih akan dilakukan penelusuran terlebih dahulu sementara travel sudah menunggu kami cukup lama, maka kami memutuskan untuk segera pulang ke Malang.

Di tengah perjalanan, baru kami mendapatkan berita bahwa barang tersebut ternyata belum sempat dipindahkan oleh pihak berwenang ketika kami pindah pesawat dari Italy ketika di Belanda. Mereka menjanjikan akan segera memberi tahu perkembangan terkini tentang bagasi saya sesegera mungkin.

Akhirnya, pulanglah kami ke Malang nyaris tanpa membawa apapun. Padahal di rumah anak-anak sudah dengan senang langsung menagih, “Mana coklatnya abi?. Mana oleh-olehnya?”.

Bersyukur istri menjelaskan ke anak-anak jika nanti oleh-olehnya segera datang, dan beliau pun menguatkan dengan ucapan “alhamdulillah, yang penting abi selamat sampai rumah dan bagasinya juga sudah ditemukan!”

Beginilah kehidupan yang ternyata tidak selalu sesuai dengan rencana atau apa yang kita harapkan. Terkadang kita mendapatkan apa yang tidak diharapkan, dan tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan bahwa hidup kita ini sebenarnya berada dalam lingkaran takdir yang tidak mungkin kita keluar dari dalamnya.

Bagi seorang muslim, ia hendaknya senantiasa meyakini bahwa semua tersebut merupakan perkara yang terbaik bagi dirinya. InsyaAllah terdapat hikmah dalam setiap kejadian. Allah ta’ala berfirman,

ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن نبرأها إن ذلك على الله يسير

Tidaklah terjadi suatu musibah di muka bumi dan dalam diri kalian, kecuali hal itu telah ada dalam kitab sebelum kejadiannya, dan sungguh yang demikian mudah bagi Allah. (Q.S. Al Hadid:22)

Dalam diri seorang mukmin, ukuran baik atau tidaknya sesuatu bukan dilihat dari urusan dunia yang didapatkannya. Namun baginya kebaikan adalah pada setiap keadaan yang membuatnya dekat dengan Allah a’ala. Adapun jika ia menjadi semakin jauh dari Allah ta’ala, maka yang demikian itu adalah musibah yang besar.

Dalam suatu kisah, Ubadah Ibnu Shomit pernah mengatakan kepada anaknya, wahai anakku, engkau belum sampai pada hakikat iman sampai engkau meyakini makna takdir. Sungguh aku pernah mendengar bahwa rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

إن أول ما خلق الله القلم، فقال: [له] اكتب. قال: رب وماذا أكتب؟ قال: اكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة

Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah ta’ala adalah pena, kemudian dikatakan padanya, tulislah!, maka ia berkata wahai Rabb apa yang harus aku tulis, Allah berfirman, tulislah takdir dari segala sesuatu sampai datang hari kiamat (HR. Abu Daud)

Dari hadits di atas terlihat jelas bahwa takdir Allah ta’ala sudah dituliskan jauh waktu sebelum segala sesuatu diciptakan, termasuk langit dan bumi. Dan apapun yang terjadi dalam kehidupan kita juga merupakan bagian dari takdir Allah ta’ala.

Para ulama mensyarah ucapan dan Ubadah ibnu Shomit tadi dengan mengatakan bahwa hakikat iman itu seperti makanan yang padanya terdapat kelezatan. Dan kelezatan iman tadi sulit dirasakan bagi mereka yang tidak meyakini takdir dari Allah ta’ala.

Biasanya mereka yang hanya mengandalkan rasionalitas semata akan banyak mengalami kekecewaan. Mereka akan merasakan hidup ini melelahkan. Adapun jika mendapatkan apa yang mereka inginkan, jarang yang bisa selamat dari sifat kesombongan.

Di sisi Allah pun, amalan kebaikan bagi mereka yang tidak mempercayai takdir ini tidak akan diterima. Ketika Ibnu Dilami mendatangi Ubay bin Ka’ab dan berbicara tentang takdir, maka pada saat itu, Ubay radiyallahu ‘anhu mengatakan,

لو أنفقت مثل أحد ذهبًا ما قبله الله منك حتى تؤمن بالقدر وتعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك، وما أخطأك لم يكن ليصيبك، ولو مت على غير هذا لكنت من أهل النار.

Jika engkau menginfakkan semisal satu emas, maka tidak akan Allah terima amalan tersebut sampai kamu beriman kepada takdir, dan menyakini bahwa apa yang menimpamu maka tidaklah ia akan bisa engkau hindarkan, dan apa yang dihindarkan darimu maka tidaklah ia akan menimpamu. Jika engkau mati tidak dalam keyakinan ini, maka engkau pasti menjadi di antara ahli neraka.

Ia mengatakan bahwa ucapan serupa juga didapatkannya dari Ibnu Mas’ud, Huzaifah ibnu Yaman, dan Zaid bin Tsabit. (HR Hakim)

Bahkan dalam hadits yang lain, mereka yang tidak beriman kepada takdir maka ia pun dikatakan sebagai orang yang tidak beriman. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dari hadits Jabir radiyallahu ‘anhu bersabda,

لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خيره وشره حتى إن ما أصابه لم يكن ليخطئه، وما أخطأه لم يكن ليصيب

Tidak beriman seorang hamba sampai ia beriman kepada takdir baik dan jelek, sampai (ia meyakini) bahwa apa yang ditetapkan baginya tidak mungkin bisa dielakkan, dan apa yang tidak ditetapkan baginya tidak mungkin akan terjadi (HR. Tarmidzi)

Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita semua termasuk di antara orang-orang yang beriman kepada takdir Allah ta’ala dan kita pun bisa menerima dengan penuh keimanan semua apapun yang ditentukan oleh Allah ta’ala untuk kita.

InsyaAllah dengan karakter ini kita akan termasuk di antara golongan hamba yang sholeh dan dijanjikan kemenangan oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sungguh telah kami tuliskan dalam zabur setelah disebut bahwa dunia ini akan diwariskan bagi hamba-hamba kami yang sholeh (Q.S. Anbiya’:105)

Aamin.

 

Malang, 28 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response