Nonton Film Porno Bukan Dosa Besar?

Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan oleh berita tentang adanya orang yang ditokohkan kedapatan oleh wartawan sedang menonton video porno di tengah kegiatan dinasnya. Masalah secara hukum sudah diselesaikan dengan pengunduran diri yang bersangkutan dari posisinya.

Secara pribadi kami berharap sebenarnya berita tentang masalah ini diakhiri karena bisa jadi memunculkan pengaruh negatif yang banyak dalam berbagai bidang kehidupan.

Namun kemudian “api yang sudah mau padam” tadi ternyata kembali berkobar ketika muncul beberapa pernyataan yang menurut kami kurang tepat dari orang-orang yang seharusnya juga dijadikan panutan. Misalnya pernyataan bahwa dengan berita ini justru akan menambah dukungan masyarakat karena kelompok tersebut menjadi lebih populer. Ada juga “tantangan” dari pimpinan kelompok tersebut agar para ulama kembali membuka kitab untuk membuktikan bahwa menonton video porno bukanlah dosa besar.

Sebagai orang yang sedang belajar islam tentu kami terperangah dengan pernyataan tersebut. apalagi disampaikan oleh seorang yang selama ini sangat getol untuk menutup situs-situs porno di Indonesia. Meskipun sebagai orang yang sedang belajar ilmu politik, kami memahami dengan baik pernyataan tersebut sebagai suatu metode menjaga dukungan publik.

Akan tetapi persoalannya sekarang adalah, apakah pantas ucapan seperti itu (jika memang benar sebagaimana diberitakan oleh wartawan) disampaikan secara publik oleh mereka yang selama ini dikenal sebagai bagian dari”pejuang moral”.

Untuk itu, kami mencoba melihat bagaimana sebagaimana islam mengkaji persoalan menjaga pandangan.

Menjaga Pandangan Dalam Islam?

Menjaga pandangan merupakan hal yang sangat penting dalam islam. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa meringankan perkara mengumbar pandangan adalah suatau kesalahan. Apalagi disampaikan oleh seorang tokoh publik.

Dalam hal pernyataan tokoh tadi, ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa hal tersebut tidak tepat.

Pertama, Allah memerintahkan orang mukmin untuk menjaga pandangannya,

قلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki agar menjaga pandangan mereka, menjaga kemaluannya, demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah mengetahui apa yang mereka perbuat. dan katakanlah kepada orang-orang beriman perempuan agar mereka menjaga pandangan dan menjaga kemaluan mereka.

Kedua, dampak negatif akibat mengumbar pandangan.

Memang tidak ada secara langsung dari dalil yang menunjukkan bahwa menonton video porno adalah dosa besar. Akan tetapi pengaruh setelah mengumbar pandangan tersebut ternyata mempunyai pengaruh negatif yang sangat banyak.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa pandangan melahirkan betikan hati kemudian berlanjut menjadi pemikiran lalu menimbulkan syahwat. Syahwat tadi akan melahirkan keinginan yang kemudian akan menjadi tekad, dan terakhir menjadi tindakan.

Hal ini pula kenapa salah satu cara untuk menghindari kemaksiatan harus dimulai dari menjaga pikiran agar senantiasa berada dalam suasana kebaikan. Masalahnya pikiran ini sangat terpengaruh oleh informasi yang didapatkannya, termasuk dari sumber pandangan.

Melalui kondisi ini pula, kita bisa memahami bahwa mengapa jumlah pelecehan seksual dan berbagai kemaksiatan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penyebaran video porno sebagaimana terjadi akhir-akhir ini.

Ketiga, keutamaan mereka yang menjaga pandangan.

Mereka yang menjaga pandangannya akan mendapatkan kemuliaan dan balasan yang besar dari Allah berupa sorga, sebagaimana rasulullah bersabda,

كْفُلُوا لِي بِسِتٍ أَكْفُلْ لَكُمْ بِالْجَنَّةِ, إِذَا حَدَّثَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَكْذِبْ, وَ إِذَا اؤْتُمِنَ فَلاَ  يَخُنْ, وَ إِذَا وَعَدَ فَلاَ يُخْلِفْ, غُضُّوْا أَبْصَارَكُمْ, وَكُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ, وَاحْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ

Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika kalian berkata  janganlah berbohong, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah mengingkari, dan jagalah pandangan kalian (dari yang tidak dibolehkan), cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.

Generasi awal umat ini begitu perhatian dengan hadits ini sehingga begitu banyak kita bisa membaca bagaimana kuatnya azzam mereka untuk menjaga pandangan.

Keempat, mengumbar pandangan menyelisihi sunnah nabi salallahu ‘alaihi wassalam, dimana beliau begitu ketat dalam mendidik para sahabat agar benar-benar menjaga pandangan.

Dalam kisah Ali, rasulullah bersabda,

يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ

Wahai Ali, jangan ikuti pandangan dengan pandangan berikutnya, untukmu pandangan pertama, dan bukan yang selanjutnya.

Kelima, ada kaidah,

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإصْرَار

Tidak ada dosa kecil, jika dilakukan berulang.

Dalam hal ini, seorang muslim seharusnya tidak melihat besar kecilnya dosa yang ia lakukan, tetapi lebih menekankan kepada siapa ia telah berbuat dosa.

Bagi seorang yang beriman, tentu ia akan lebih banyak mengkoreksi dirinya agar senantiasa memperbaiki diri. Abdullah bin Mas’oed berkata,

نَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعٍِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

Sesungguhnya orang beriman melihat dosanya seakan gunung yang ia berdiri di bawahnya dan takut akan menimpa dirinya. Tetapi orang yang fajir melihat dosanya seperti lalat yang terbang melewati hidungnya dan berkata “ah ini” (mengusirnya)

Masih banyak sebenarnya dalil-dalil lainnya yang menunjukkan bagaimana pentingnya menjaga pandangan dalam islam agar kita bisa merasakan manisnya iman. Hanya untuk sementara kami mencukupkan dengan lima point di atas.

Semoga kita semua termasuk dari hamba Allah yang menjaga pandangannya dan tidak meremehkan dosa sekecil apapun.

Delhi, 16 April 2011

1 Comment

Leave a Response