Penangkapan Teroris dan Transparansi Publik

Bebera media memberitakan bahwa seorang terduga teroris tewas mendadak setelah ditangkap Densus 88 Mabes Polri. Menurut polisi, Untung Budi Santoso alias Khaidir (48) warga Kampung Sukarame RT 1/9 Desa Cingcin Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung meninggal dikarenakan sakit jantung.

Di sisi lain, keluarga masih meragukan penyebab kematian Untung dikarenakan selama ini ia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung dan di bagian dagu dan dada jenazah terdapat jahitan. Selain itu keluarga melihat adanya darah yang mengucur dari bagian belakang kepala Untung.

Yang menarik juga, ternyata Untung yang selama ini dikenal mempunyai hubungan baik dengan tetangga, tidak pernah bergabung dalam organisasi Islam apapun dan rajin beribadah ditangkap dengan cara yang kurang etis, tanpa surat penangkapan.

Transparansi dan Simpati Publik

Penangkapan teroris secara mendadak bisa diterima secara akal seperti halnya penangkapan terhadap pelaku kriminal lainnya. Jika tidak, bisa jadi teroris sudah akan lari terlebih dahulu. Akan tetapi polisi seharusnya tetap memberikan surat penangkapan.

Selain itu, proses setelah penangkapan seperti persidangan terhadap teroris   hendaknya dilakukan secara transparan. Harapannya, berita terorisme tidak selalu diakhiri dengan kematian “orang yang dituduh teroris” tadi yang terkadang meninggalkan tanda tanya di sebagian masyarakat.

Bisa jadi mereka memang teroris. Akan tetapi, masyarakat yang sedang gamang dan mulai kehilangan kepercayaan terhadap lembaga dan elitee pemerintahan memerlukan penawar.

Masyarakat sering bingung dengan berbagai peristiwa kehidupan berbangsa yang akhir-akhir ini sering dipolitisir bak sinetron. Sulit membedakan mana yang jujur dan mana yang bohong. Oleh karena itu, mereka sangat menginginkan adanya sikap transparansi para elite dan aparatur pemerintah. Mereka merindukan kejujuran.

Dengan adanya transparansi dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap saling percaya akan bisa dibangun.

Pada akhirnya jika semua elemen masyarakat saling membahu atas dasar saling percaya dan misi yang sama untuk membangun bangsa, maka Indonesia akan bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini menderah.

Selain hal di atas, transparansi proses penanganan teroris pasca penangkapan, akan menjadi media pendidikan terhadap masyarakat agar anggota keluarga mereka tidak menjadi bagian gerakan teroris.

Lebih dari itu, peluang kesalahan sasaran dalam memerangi teroris akan bisa diminimalisir. Jika pun ia memang teroris tetapi mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat, polisi akan bisa menjelaskan persoalan secara lebih gamblang.

Jangan sampai ada kecurigaan dari masyarakat terhadap polisi sebagaimana dalam kasus penangkapan Untung. Hal ini justru melemahkan simpati masyarakat terhadap kinerja polisi.

Bahkan yang muncul adalah sikap antipati terhadap upaya memerangi terorisme. Ada perasaan dendam terutama dari keluarga terdekat, yang justru akan semakin menyuburkan perkembangan terorisme ke depan.

Akan tetapi, hal ini memang sulit dilakukan tanpa adanya komitmen dari pemerintah untuk benar-benar membangun system yang bisa menjamin kehidupan rakyat yang lebih baik.

Pemerintah juga harus menerapkan kebijakan yang mampu meminimalisir kesenjangan sosial dan membasmi korupsi di semua level.

Jika perasaan kecewa masyarakat tidak diminimalisir karena berbagai kebijakan pemerintah yang kurang memperhatikan nasib mereka, maka perang terhadap teroris akan selalu menemui jalan buntu.

Leave a Response