Pentingnya Memahami Bahasa Arab

Bahasa arab merupakan bahasa yang sangat penting bagi seorang muslim. Dengan bahasa inilah Alquran dan Hadits ditulis. Demikian juga dengan berbagai kitab para ulama dari berbagai zaman. Sulit rasanya untuk memahami agama ini secara utuh tanpa memahami bahasa arab.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

إن نفس اللغة العربية من الدين، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

Sesungguhnya bahasa arab merupakan bagian dari agama, dan mengetahuinya hukumnya wajib. Dan sesungguhnya memahami alquran dan sunnah hukumnya wajib, dan tidak mungkin bisa memahaminya tanpa memahami bahasa arab. Tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Maka dari sini, Ibnu Taimiyah rahimahullah menempatkan belajar bahasa arab sebagai suatu kewajiban bagi seorang muslim. Apalagi mereka yang masih muda dan mempunyai kesempatan untuk melakukannya.

Sehingga wajar Al Asma’i rahimahullah juga pernah mengatakan,

إن أخوف ما أخاف على طالب العلم إذا لم يعرف النحو أن يدخل في جملة قوله صلى الله عليه وسلم: “من كذب عليَّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

Sesungguhnya yang paling aku takuti dari penuntut ilmu adalah jika ia tidak memahami nahwu sehingga ia masuk dalam kalimat dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, siapa yang berbohong atas nama saya dengan sengaja maka lihatlah tempat duduknya dari api neraka. (dalam kitab Al wasith fi ‘ulum wa mustalahul hadits, juz 1 hal 150)

Maksudnya bahwa mereka yang belajar islam, tetapi tidak memahami bahasa arab dan hanya sekedar membaca dari terjemahan saja, maka akan sangat mungkin mengatakan sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam alquran dan sunnah. Mereka akan beragama hanya dengan semangat dan perasaannya semata.

Padahal orang-orang seperti ini bisa membahayakan Islam jika ia merasa sedang berjuang untuk Islam tetapi sebenarnya sedang menghancurkan agama ini karena berbagai kebodohan yang disebarkannya. Mereka sulit untuk diingatkan, tidak seperti halnya orang yang melakukan kemaksiatan.

Dengan ucapan yang lain, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mengatakan

لأن الدين فيه فقه أقوال وأعمال، ففقه العربية هو الطريق إلى فقه الأقوال وفقه الشريعة هو الطريق إلى فقه الأعمال

Sesungguhnya dalam agama ini ada pemahaman ucapan dan amal. Memahami bahasa arab merupakan jalan menuju pemahaman ucapan, dan pemahaman syariat merupakan jalan menuju pemahaman amal.

Bahkan imam Syatibi menyatakan bahwa pemahaman terhadap bahasa arab menentukan kepahaman agama seseorang. Ia berkata,

وإذا فرضنا مبتدئاً في فهم العربية فهو مبتدئ في فهم الشريعة، أو متوسطاً فهو متوسط في فهم الشريعة، والمتوسط لم يبلغ درجة النهاية، فإذا انتهى إلى الغاية في العربية كان كذلك في الشريعة

Jika kita sampaikan, maka mereka yang baru belajar bahasa arab, maka ia baru juga dalam memahami syariat, jika ia sudah pertengahan maka pertengahan pula pemahamannya terhadap syariat, dan yang pertengahan tidak sampai kepada derajat yang terakhir. Jika ia selesai sampai puncak dalam belajar bahasa arab, maka demikian juga keadaannya dalam perkara syariat.

Maka berdasarkan hal ini, bisa terlihat bagaimana mungkin seorang yang tidak paham bahasa arab kemudian ia berfatwa tentang berbagai persoalan agama. Bagaimana mungkin ia bisa tuntas membaca berbagai pendapat yang telah dibahas oleh para ulama terdahulu meskipun gelar duniawi yang ia dapatkan sudah mentereng.

Sementara mereka para salafus sholeh begitu semangat belajar bahasa arab. Bagi mereka bahasa arab merupakan kehormatan bagi seorang muslim. Makanya mereka mengatakan,

تعلموا العربية فإنها تزيد في المروءة

Belajarlah bahasa arab karena bahasa arab menambah kemuliaan.

Abu Bakr Asshidiq radiyallahu ‘anhu juga berujar,

لأن أعرب آية أحب إليّ من أن أحفظ آية

Sesungguhnya mengi’rab ayat lebih aku cintai daripada menghafalkannya.

Dengan kemampuan mengi’rab ayat maka orang tersebut faham dengan makna ayat yang dibaca, adapun mereka yang baru sekedar menghafal belum tentu memahaminya. Dan alquran diturunkan bukan sekedar untuk dibaca dan dihafalkan, melainkan juga untuk dipahami dan diamalkan.

Dan Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu juga telah memerintah Abi Musa Al Asy’ari pada masanya untuk belajar bahasa arab. Karena dengannya maka Abu Musa akan bisa memahami sunnah dan alqur’an. Sampai-sampai Umar bin Khattab mengatakan,

عليكم بالتفقه في الدين والتفهم بالعربية وحسن العبارة

Hendaklah kalian memahami agama ini dan bahasa arab dan sebaik-baik perumpamaan.

Atau dalam kesempatan lain, Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata,

تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم

Belajarlah bahasa arab karena ia adalah bagian dari agamamu, dan belajarlah fara’id karena ia adalah bagian dari agamamu.

Hasan Al Bashri rahimahullah, ketika ditanya tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab, maka ia berkomentar bahwa mereka adalah orang-orang baik yang sedang belajar bahasa nabi mereka.

Assya’bi berkata bahwa nahwu ibarat garam dalam makanan, dengan ketiadaannya maka makanan pun terasa hambar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu juga mengatakan bahwa bahasa arab merupakan syiar kaum muslimin. Dan bahasa merupakan sebesar-besar syiar yang dengannya suatu kaum akan dikenali.

Lagi pula belajar bahasa bukan hanya sekedar urusan tata bahasa, melainkan juga cara berfikir dan adab. Seorang yang fokus dalam belajar bahasa arab demi memahami Islam, maka ia pun akan mulai belajar untuk berakhlak dengan akhlaknya Alquran dan sunnah.

Kita berdoa kepada Allah ta’ala, semoga kita semua diberikan kemudahan untuk memahami bahasa arab sehingga dengannya akan bisa memahami dan menjalankan ajaran agama ini sesuai dengan dalil dalam alquran dan sunnah. Aamin.

 

Milan Linate Airport dalam perjalanan menuju Amsterdam, 25 Februari 2015

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response