Pentingnya Niat Yang Ikhlas

Niat yang ikhlas merupakan suatu perkara yang sangat besar dalam amalan keseharian kita. Bahkan satu hal yang harus menjadi prinsip dalam hidup kita adalah untuk senantiasa berusaha mengikhlaskan diri sepenuhnya hidup di jalur agama ini.

Allah berfirman,

وما أمروا إلا ليعبدوا ا لله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

Dan tidaklah Aku memerintahkanmu kecuali agar menyembah Allah dan ikhlas di di atas agama ini (karena Allah), dan mendirikan sholat, membayar zakat dan itulah agama yang lurus.

Meskipun keikhlasan merupakan perkara hati, tetapi Allah maha mengetahui  segalanya, sebagaimana firman-Nya,

قل إن تخفوا ما في صدوركم أو تبدوه يعلمه الله

Katakanlah jika engkau menyembunyikan apa yang ada dihatimu atau menampakkannya, maka Allah mengetahuinya.

Saking pentingnya keikhlasan dalam hati, Rasulullah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab, bahwa semua perbuatan tergantung niatnya.

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul, maka hijrahnya untuk Allah dan rasul, dan barang siapa yang berhijrah karena dunia yang dicarinya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan yang ia inginkan.

Dalam hadits yang lain, diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,

إن الله لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk fisik dan tidak pula rupa kalian, akan tetapi Allah melihat hati-hati dan amalan kalian

Dari Abi Musa Abdillah Ibnu Qais Al Atsari diriwayatkan bahwa rasulullah salallahu a’alihi wassalam pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena ingin mencari kekayaan, terkenal atau riya’, apakah ia tetap berperang di jalan Allah. Maka rasulullah menjawab,

من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله

Barang siapa berperang agar tegaknya kalimat Allah (sebagai yang paling tinggi), maka ia di jalan Allah (fi-sabilillah).

Artinya bahwa, tidaklah agar berarti suatu amalan yang baik sekali pun, seperti jihad, yang tidak disertai dengan niat ikhlas dan mengharapkan ridho’ Allah.

Diriwayatkan oleh Abi Bakrah Nufai’ ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah juga bersabda,

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار قلت يا رسول الله هذا القاتل فما بال المقتول قال إنه كان حريصا على قتل صاحبه

Jika bertemu dua orang muslim dengan kedua pedangnya (untuk saling membunuh), maka yang membunuh dan yang terbunuh (keduanya) masuk neraka. Aku bertanya, wahai rasulullah, ini yang membunuh (memang sepantasnya masuk neraka), tetapi bagaimana dengan yang terbunuh. Berkata rasul, sesungguhnya ia juga ingin membunuh sahabatnya itu.

Demikianlah niat ternyata mempengaruhi penilaian Allah terhadap amal perbuatan kita di muka bumi ini.

Dari Abdullah Ibnu Abbas juga diriwayatkan bahwa, niat kebaikan kita sudah akan mendapatkan ganjaran dari Allah, sementara kejelekan baru akan diberikan dosa setelah dilakukan. Sebagaimana sabda Rasulullah,

إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده تبارك وتعالى عنده حسنة كاملة وإن هم بها فعملها كتبها الله عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة وإن هم بها فعملها كتبها الله سيئة واحدة

Sesungguhnya Allah menuliskan kebiakkan dan kejelekan kemudian menjelaskannya. Barang siapa menginginkan (berniat) kebaikan dan belum melakukannya, maka Allah catat baginya satu kebaikan penuh. Kemudian jika ia mengamalkannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat banyaknya. Dan jika mereka meniatkan kejelekan dan tidak melakukannya, maka dicatat baginya kebaikan yang sempurna, tetapi jika mereka melakukannya, maka dicatat satu kejelekan baginya.

Hadits ini selain menggambarkan pentingnya niat, juga menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Dan tidak juga berarti kita diminta meniatkan kejelekan, melainkan menjauhinya dan mengejar pahala yang besar dari berbagai kebaikan.

Oleh karena itu, hendaknya kita semua segera menata niat kita dalam hidup yang singkat ini. Dan memaksimalkan segala potensi yang ada untuk berlari di jalan kebaikan menuju ridho’ Allah.

Delhi, Sore qabla Ashar

Leave a Response