Perkara Agama dan Akhlak Dalam Pernikahan

Seorang yang akan menikah hendaknya sangat memperhatikan perkara agama dan akhlak dari calon yang akan dinikahinya. Dengan siapapun ia menikah, hal ini akan sangat mempengaruhi kehidupannya ke depan, utamanya dalam perkara agama.

Hal inilah yang membuat Islam sangat perhatian dengan persoalan ini. Jangan sampai di antara umat ini ada yang menikah dengan seseorang hanya karena perkara dunianya semata. Boleh jadi seseorang itu mengagumkan bagi kita, tetapi hakikatnya tidak bernilai di sisi Allah ta’ala jika dia bukan orang yang berislam dengan benar.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

Seorang hamba sahaya yang beriman jauh lebih baik daripada seorang yang musyrik meskipun ia mengagumkanmu (Q.S. Al Baqorah: 221)

Seorang yang bagus perkara agamanya akan menjadikan pernikahan sebagai ibadah, dimana ia harus menjaga amanah keluarga tadi dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan main-main karena menilai bahwa masalah ini juga menyangkut kehidupan dunia akhiratnya.

Ia sadar bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam merupakan contoh terbaik dalam memperlakukan keluarganya. Meskipun beliau shollallahu ‘alaihi wasallam merupakan pemimpin umat, pemimpin bangsa, seorang Rasul dan berbagai keutamaan lainnya, tetapi beliau berlaku dengan sangat santun dan baik terhadap keluarganya.

Merupakan hal biasa bagi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah secara mandiri, seperti menjahit pakaiannya yang robek, menyapu rumah, dst. Dalam memanggil istrinya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam juga menggunakan bahasa yang mesrah dan indah. Sehingga pantas jika beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan keluarganya, dan aku adalah yang terbaik (dalam bersikap) terhadap keluargaku (HR. Ibnu Majah)

Seorang bisa bersikap baik dengan keluarganya dikarenakan ia mempunyai agama dan akhlak yang mulia. Karenanya kriteria agama dan akhlak ini menjadi poin utama bagi mereka yang sedang mencari pasangan hidup.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا أتاكم من ترضون دينه وخُلُقه فزَّوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد عريض

Jika datang kepada kalian siapa yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar (HR. Tarmidzi)

Apalagi bagi seorang wanita, dengan posisinya yang akan sangat banyak terpengaruh oleh suaminya, maka perhatian terhadap perkara agama dan akhlak ini menjadi sangat penting. Betapa banyak mereka yang awalnya sudah mulai mengenal islam akhirnya semakin menjauh setelah pernikahannya karena salah dalam memilih pasangan.

Kami sendiri bahkan menemukan beberapa orang yang dulu juga merupakan seorang dengan penampilan sangat Islami, akhirnya justru berbalik arah karena salah dalam menentukan teman hidup yang akan banyak mempengaruhi perkara agamanya.

Oleh karena itu, wali dari sang wanita jangan pernah rela atau membiarkan anaknya untuk menikah dengan lelaki yang tidak jelas perkara agamanya. Apalagi jika lelaki tadi sudah mulai berani mengajak anaknya atau saudarinya untuk menjalin hubungan yang tidak syar’i. Sang wanita juga harus bisa menyimpulkan bahwa lelaki ini bukanlah seorang yang sholeh.

Sebagai orang yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ta’ala di hari kiamat nanti, maka kita perlu banyak belajar dari kisah pada nabi dan orang-orang sholeh di masa lalu. Lihatlah kisah nabi Syu’aib alaihisallam. Ketika ia bertemu dengan seorang anak muda yang sholeh, bagus agama dan akhlaknya, maka beliau ‘alaihisallam mengatakan,

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ

Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah seorang dari dua anak perempuanku (Al Qasos: 27)

Padahal pada saat itu, jika dilihat dari perkara dunianya, nabi Musa ‘alaihisallam tidak mempunyai apa-apa karena beliau merupakan seorang yang sedang melarikan diri. Namun dengan kesholehan dan bimbingan Allah, nabi Syu’aib ‘alaihisallam tahu betul dengan janji dan perlindungan Allah terhadap orang-orang yang beriman.

Kisah serupa juga terlihat dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, ketika suatu hari ada seorang pemuda yang berjalan melewati Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau shollallahu ‘alaihi wasalla berkata kepada para sahabat yang sedang duduk, ؟ ما رأيك في هذا (bagaimana pandanganmu tentang orang ini?)

Kemudian para sahabat mengatakan, رجلٌ من أشرافِ الناس هذا والله حريٌ إن خطب أن يُنكحَ وإن شفعَ أن يُشفع (ia adalah seorang yang paling mulia di antara manusia. Demia Allah jika ia melamar maka akan diterima, dan jika minta pertolongan tidak akan dibantu)

Kemudian lewat seorang yang lain. Kemudian setelah memberikan pertanyaan yang sama, para sahabat mengatakan, يا رسول الله هذا رجلٌ من فقراء المسلمين هذا حريٌ إن خطب أن لا يُنكح وإن شفع أن لا يُشفع وإن قال لا يُسمع لقوله (Ya Rasulullah, ini adalah seorang yang fakir dari kaum muslimin. Jika ia melamar maka tidak akan dinikahkan, jika ia minta pertolongan tidak akan dibantu, dan jika bicara maka tidak akan didengarkan)

Mendengar ucapan para sahabat tersebut, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengatakan هذا خيرٌ من ملءِ الأرض مثل هذا (orang ini jauh lebih baik dari semua perhiasan yang ada di muka bumi)

Maka wajarlah ketika Hasan Al Bashri pernah ditanya oleh seseorang ketika ada beberapa yang melamar anaknya, maka pada siapa aku harus menikahkannya. Hasan Al Bashri mengatakan,

ممَّن يتقي الله فإن أحبها أكرمها وإن أبغضها لم يظلمها

Nikahkan pada yang paling bertaqwa pada Allah, jika ia mencintainya maka ia akan memuliakannya, dan jika ia marah padanya maka ia tidak akan berlaku dholim.

Maka beberapa hal di atas kiranya cukup menjadi dasar bagi kita untuk memperhatikan agama dan akhlak dari pasangan hidup yang kita pilih. Jika sudah menikah maka hendaknya terus memperbaiki diri. Adapun jika belum menikah maka perlu meningkatkan kualitas diri dan hanya menempuh cara yang syar’i.

Akhirnya kita berdoa semoga Allah ta’ala menjadikan pasangan kita betul-betul di antara pasangan yang baik perkara agama dan akhlaknya. Aamin.

Malang, 28 Agustus 2015
Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response