Persaudaraan Dalam Islam

Di zaman ini, mendapatkan seorang teman yang saling mencintai karena Allah bukan perkara mudah. Banyak yang mau berteman dengan kita hanya karena alas an duniawi semata. Mungkin karena harta, jabatan, atau perkara dunia lainnya yang kita miliki.

Padahal kita tahu bahwa persaudaraan seperti ini sifatnya tidak kekal. Bahkan sangat sebentar. Ketika seseorang berteman dengan kita hanya karena alasan duniawi, maka biasanya ia pun akan pergi dari kita ketika alasan yang membuat dia mencintai kita sudah tidak ada lagi.

Betapa banyak mereka yang awalnya ketika punya jabatan ia begitu disanjung oleh bawahannya, tetapi dikucilkan ketika jabatan tadi sudah ia tinggalkan. Ketika kaya ia dipuja bak seorang raja, saat jatuh miskin ia pun hanya dilihat dengan mata yang memicing.

Maka bersyukurlah mereka yang Allah ta’ala karuniakan seorang saudara yang sholeh, saudara yang tidak hanya berfikir untuk urusan dunia, tetapi berfikir untuk akhirat. Ketika kita dalam kebenaran ia membantu kita, tetapi ketika kita salah maka ia pun menjadi pengingat yang baik.

Sehingga tepatlah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang menggambarkan banyaknya kebaikan pada mereka yang mendapatkan saudara yang sholeh. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من أَرَادَ الله بِهِ خيرا رزقه أَخا صَالحا إِن نسي ذكره وَإِن ذكر أَعَانَهُ

Barang siapa yang Allah menghendaki kebaiki padanya, maka diberika rezeki berupa saudara yang sholeh. Jika ia lupa, maka ia mengingatkannya, dan jika ia ingat maka ia pun menolongnya (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Makna hadits ini juga tidak seperti beberapa persaudaraan yang sekedar ABS (Asal Bapak Senang). Dalam Islam, persaudaraan berorientasi akhirat dalam upaya untuk membuat saudaranya senantiasa kokoh di atas kebenaran.

Jika ada seorang saudara yang selalu memuji kita, maka patut kiranya kita waspada karena berarti ada yang ia sembunyikan dari diri kita. Bagi seorang mukmin, kritik dan masukan yang disampaikan dengan akhlak mulia oleh saudaranya merupakan hadiah berharga untuk membuat dirinya menjadi semakin lebih baik.

Ia sadar bahkan dalam hidup ini kita terkadang jatuh pada perkara yang salah. Dalam keadaan seperti ini, saudara kita yang mencintai kita karena Allah akan meluruskan kita.

Dengan sangat indah, Salman Al Farisi menggambarkan persaudaraan dua orang mukmin ibarat dua tangan yang saling membersihkan. Beliau radiyallahu ‘anhu berujar,

مثل الْأَخَوَيْنِ إِذا التقيا مثل الْيَدَيْنِ تغسل إِحْدَاهمَا الْأُخْرَى وَمَا التقَى مُؤْمِنَانِ قطّ إِلَّا أَفَادَ الله أَحدهمَا من صَاحبه خيرا

Perumpamaan dua orang yang bersaudara ketika bertemu semisal dua tangan yang salah satunya mensucikan yang lainnya. Tidaklah dua orang mukmin bertemu kecuali Allah menambahkan pada salah satu dari keduanya terhadap saudaranya kebaikan.

Karena itu, dua orang yang bersaudara karena Allah akan punya komitmen untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran. Hati mereka pun dilunakkan oleh Allah ta’ala untuk senantiasa menerima masukan dari saudaranya.

Dari Abi Hurairah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤمن إلْف مألوف وَلَا خير فِيمَن لَا يألف وَلَا يؤلف

Seorang mukmin hatinya jinak dan bisa dijinakkan, dan tidak ada kebaikan pada mereka yang tidak jinak hatinya dan tidak bisa dijinakkan (HR. Ahmad dan Tabrani)

Kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga kita semua dikaruniakan sahabat-sahabat yang bergaul dan mencintai kita hanya karena Allah ta’ala semata. Aamin.

 

Malang, 8 Februari 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response