Rahasia Penerbitan Buku Teks Murah di India

Tulisan ini dimuat dalam buletin Atase Pendidikan KBRI New Delhi Edisi VIII, ditampilkan di blog dengan harapan agar bisa berbagi informasi bagi teman-teman yang belum bisa mendapatkan buletin tersebut

Pendidikan India yang berkualitas sebagaimana dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya tidak terlepas dari sistem pendidikan India yang memberikan kesempatan kepada siswa-siswa India untuk mengakses buku-buku teks pelajaran dengan kualitas tinggi dan harga murah.

Khusus untuk buku-buku teks sekolah, harganya jauh lebih murah dibandingkan harga buku-buku pelajaran di Indonesia. Untuk buku teks kelas 1 sampai kelas 8, harga perbukunya dengan kualitas isi dan cetakan cukup baik, buku pelajaran untuk berbagai mata pelajaran hanya dijual seharga 30 rupees saja (atau 6.000 rupiah Indonesia).

Berkenaan dengan hal tersebut, maka buletin Sukriya mengangkat topik ini setelah melakukan kunjungan ke National Council of Educational Research and Training (NCERT) New Delhi, India. Selain itu, Sukriya juga melakukan kunjungan ke percetakan, dan sekolah dasar di New Delhi, India.

Sistem Produksi Buku Teks di India

Penerbitan buku teks untuk siswa primary (kelas 1 sampai 10) dan secondary school (kelas 11 dan 12) di India merupakan otoritas NCERT. NCERT ini merupakan suatu lembaga independen Pemerintah India yang berdiri pada tahun 1961, dengan  tugas menerbitkan buku ajar di India. Semua proses penerbitan dari pembuatan kurikulum, silabus, penulisan sampai kontrol distribusi merupakan tugas NCERT.

Selain itu, NCERT juga mempunyai fungsi untuk menulis beberapa materi lain seperti, menyiapkan alat ajar untuk para guru, buku-buku petunjuk, training material untuk para guru, materi pengayaan, kamus untuk beberapa subjek, dan buku teks untuk program pra pelatihan para calon guru.

Hal ini mampu dilakukan NCERT karena lembaga ini mempunyai berbagai divisi dan digerakkan oleh berbagai pakar dalam berbagai bidang di seluruh India. Dengan kata lain, NCERT tidak hanya sekedar lembaga penerbitan tetapi juga merupakan merupakan lembaga penelitian untuk memproduksi kebutuhan pembelajaran siswa-siswa di India dengan kualitas tinggi.

Menurut NCERT, sebanyak 90% sekolah yang ada di negara India adalah sekolah negeri yang dikelola oleh pemerintah. Seluruh sekolah negeri, baik di New Delhi maupun Negara bagian menggunakan buku terbitan NCERT. Buku-buku yang diterbitkan menggunakan 4 (empat) bahasa: Inggris, Hindi, Urdu, dan Saskrit. Oleh karena produksi buku yang besar tersebut, penjualan pun bisa dilakukan dengan harga murah.

Apalagi, secara biaya produksi sebenarnya tidak terlalu mahal. Dengan mengumpulkan profesor dan pakar dari berbagai kampus untuk menulis buku, NCERT hanya mengeluarkan biaya honor bagi penulisan setiap babnya. Biasanya, seorang penulis akan dibayar berdasarkan jumlah hari mengikuti workshop yang diadakan oleh NCERT.

Secara hitungan kasar, setiap diadakan workshop para penulis tadi biasanya hanya dibayar 1.000 rupees (atau sekitar 200 ribu rupiah perhari). Jika dihitung, total jumlah workshopnya sebanyak 22 hari, sehingga total biaya yang dihabiskan perbukunya untuk 15 orang penulis adalah 15 orang x 22 (2+5+5+10) hari workshop x 1.000 = 330.000 rupees. Selain itu, juga diberikan biaya sebesar masing-masing 15.000 rupees untuk penasehat penulis dan 10.000 untuk koordinator. Jika ditotal biaya yang dikeluarkan untuk menulis satu buku ajar versi bahasa inggris hanya mencapai 355.000 rupees atau sekitar 71 juta rupiah (terkadang bisa mencapai 100 juta atau 120 juta rupiah).

Biaya tambahan lainnya biasanya diberikan kepada penerjemah ke dalam bahasa Hindi dan Urdu yang dibayar 400 rupees (atau 80 ribu) per-seratus kata. Juga diberikan sejumlah dana untuk ilustrator. Akan tetapi, jumlah tersebut tetap kecil dibandingkan dengan besarnya pasar yang akan menggunakan buku terbitan NCERT tersebut.

Dalam kunjungan ke NCERT, Sukriya disambut oleh Prof. Zindu selaku Director of International Relationship. Beliau dengan antusias menjelaskan rangkaian proses penulisan buku teks pelajaran yang dilakukan oleh NCERT dan menemani Sukriya dan utusan tim Kajian Buku Murah dari Indonesia untuk melihat beberapa divisi proses penerbitan buku teks tersebut.

Secara sederhana, urutan penulisan buku teks di India dimulai dari pembuatan kurikulum dan silabus yang merupakan wewenang NCERT. Dari silabus tersebut, NCERT menunjuk beberapa pakar dalam bidangnya untuk menulis masing-masing satu bab. Biasanya untuk setiap bukunya mereka berjumlah 15 sampai 20 orang disesuaikan dengan kebutuhan silabus.

Setelah itu, para penulis tadi, diundang untuk menghadiri workshop selama 2 hari untuk membicarakan silabus dan filosofi kurikulum. Biasanya pada waktu ini, juga akan dihadirkan guru-guru dari sekolah. Pada saat ini pula bab-bab yang harus diselesaikan oleh para penulis tadi didistribusikan. Mereka juga sebelum 1 atau 1,5 bulan, diminta untuk mengumpulkan bab atau manuskrip yang telah mereka tulis.

Manuskrip yang sudah dikumpulkan ditukarkan dengan penulis-penulis yang lain untuk dikoreksi. Hal ini mengingat bisa jadi seorang penulis lain mempunyai ide untuk merevisi atau memberikan komentar terhadap tulisan rekannya. Kemudian diadakan workshop kembali selama 4 sampai 5 hari  untuk membahas masukan dari para penulis tersebut.

Dengan membawa masukan dari rekan mereka, para penulis tadi kembali ke daerah masing-masing untuk mengedit tulisan mereka. Setelah itu, kembali diadakan workshop selama 5 hari. Dalam pertemuan ini, yang berkumpul adalah para penulis, pihak sekolah, universitas, dan lain-lain. Pertemuan ini merupakan pertemuan untuk melihat cakupan buku teks yang ditulis dari berbagai aspek.

Para guru misalnya akan melihat dan memberikan masukan berdasarkan sisi pengalaman menerapkan kurikulum tersebut. Begitu juga dengan para pakar dari kampus yang akan menilai dari sisi gender, kasta, dan ketepatan penggunaan bahasa. Yang jelas, buku teks tersebut diusahakan bebas gender, mampu merangkul berbagai latar belakang seperti kasta, konsen dengan penerapan teknologi dan menggunakan bahasa yang efektif. Maksudnya jumlah kata yang digunakan dalam kalimat diupayakan sesingkat mungkin dan mudah dipahami oleh siswa primary dan secondary school.

Baru kemudian, kembali diadakan pertemuan atau workshop keempat selama 5 sampai 10 hari. Pada saat ini yang bertemu adalah para penulis dan editor untuk melakukan proof reading, biasanya juga menghadirkan potografer dari institusi lain untuk membuat ilustrasi. Pada pertemuan inilah, naskah tersebut difinalisasi sehingga naskah yang sudah ditulis tersebut bisa segera dikirim ke bagian publikasi.

Di bagian publikasi juga akan ada bagian khusus yang kembali mengedit tulisan tadi dari segi bahasa, margin, jumlah warna yang dipakai, penempatan ilustrasi, jenis kertas, dan cover yang digunakan. Proses editing pada tahap ini tidak berkenaan dengan isi tulisan.

Setelah itu, naskah siap diprint. Dalam proses printing ini, dilakukan tender dari perusahaan printing swasta. Yang diambil adalah yang bisa menawarkan harga paling murah. Tugas mereka hanya untuk mencetak naskah yang sudah siap saja. Adapun kertas untuk printing disiapkan oleh NCERT dengan melakukan tender lagi dari perusahaan lain.

NCERT pun mendapatkan harga yang murah untuk pembelian kertas karena adanya aturan  khusus untuk kertas yang dibeli NCERT yang dipakai sebagai buku teks pelajaran dikenakan pajak hanya 1 % saja (bahkan sebelum tahun 2011 tidak ada pajak sama sekali).  Setelah buku tersebut selesai diprint, maka buku-buku yang sudah siap didistribusikan tersebut dikembalikan ke NCERT.

Jika dikalkulasi, maka proses penerbitan satu buku teks dari pertama mencari penulis sampai selesai membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Biasanya penulis dimulai pada bulan Agustus dan diselesaikan pada bulan Februari tahun berikutnya. Jumlah buku tersebut lebih banyak lagi karena ditulis tidak hanya dalam bahasa inggris, tetapi juga diterjemahkan dalam bahasa urdu, Hindi dan Sanskrit. Ketiga  versi terjemahan tersebut biasanya diselesaikan pada akhir bulan Maret.

Dengan program menerbitkan semua buku ajar dari kelas 1 sampai kelas 12 di India, kegiatan penerbitan di NCERT terus berlangsung sepanjang tahun. Hal ini mengingat sistem pendidikan India melakukan evaluasi kurikulum setiap 5 tahun sekali. Belum termasuk kegiatan untuk melakukan evaluasi dari revisi buku yang sudah dicetak setiap tahunnya.

 

Sistem Distribusi

Untuk pendistribusian buku, NCERT melakukan berbagai cara, baik distribusi soft file maupun versi cetak. Untuk cara pertama, para guru atau siswa dapat mengunduh secara bebas buku teks pelajaran di internet dan diperbolehkan mencetak untuk proses belajar mengajar di sekolah. Buku-buku yang diterbitkan NCERT adalah non-komersial.

Untuk pendistribusian versi cetak, NCERT menentukan 4 pusat yang legal, yaitu wilayah barat (Ahmedabat), timur (Kolkata), utara (Guwa Gati), dan selatan (Bungalor). Keempat pusat tersebut mengerahkan pendistribusiannya kepada sebanyak  346 jasa pengiriman yang dikelola oleh swasta (private companies).

Selain itu, masih banyak toko buku lainnya yang bisa ikut mendistribusikan buku tersebut. Hanya saja dari segi harga, NCERT sudah menuliskan harga baku yang tidak boleh lebih tinggi dari harga yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini NCRET akan melakukan kontrol. Jika ada toko-toko buku yang menjual lebih tinggi dari harga tersebut, maka mereka akan di-black list.

Negara bagian juga dapat mencetak, menggandakan dan menjual buku untuk kebutuhan siswa di wilayahnya dengan memberikan royalti kepada NCERT sebesar 2%. Negara bagian dapat menjual harga 10% di atas atau di bawah harga yang ditentukan oleh NCERT. Dasar untuk mencetak buku-buku teks pelajaran yang diterbitkan NCERT adalah hak cipta (copy rights) sudah dilimpahkan sepenuhnya ke negara bagian.

Setelah didistribusikan, biasanya akan diadakan penelitian untuk mengevaluasi tingkat pemahaman siswa terhadap materi buku yang ditulis. Selain itu, juga akan dilakukan perbaikan cetak, berdasarkan laporan kesalahan yang terjadi. Karena hanya beberapa bagian saja yang salah, maka biaya cetak tersebut menjadi gratis. Biasanya hal ini diadakan setiap setahun sekali.

Khusus untuk kelas 1 sampai kelas 8, maka harga buku diberikan subsidi oleh pemerintah. Oleh karena itu, harga perbuku setiap mata pelajarannya tidak boleh lebih dari 30 rupees saja (atau 6 ribu rupiah). Subsidi ini diberikan untuk semua siswa pemerintah. Bahkan untuk siswa dari kalangan miskin, di beberapa sekolah pemerintah seperti Sarudaya Co-Ed-SR-Sec-School yang dikunjungi Sukriya pada tanggal 14 Desember 2011, buku-buku terbitan NCERT diberikan secara gratis.

Semua siswa di sekolah ini menggunakan buku yang dicetak dan diterbitkan oleh NCERT. Para siswa secara keseluruhan tidak dikenakan biaya pendidikan, termasuk buku ditanggung pemerintah. Buku-buku teks pelajaran gratis tersebut diperoleh melalui DBTB Cluster (Delhi Bureau for the Textbook). Dalam pembagian buku yang diperoleh dari DBTB Cluster, sekolah memperoleh sejumlah buku ditambah 10 % dari sejumlah siswa.

Kondisi ini berbeda dengan beberapa sekolah swasta, sebagian besar dari mereka menggunakan buku yang diterbitkan sendiri, sehingga dari segi harga jauh lebih mahal dibandingkan harga buku yang dibuat oleh NCERT. Kondisi ini misalnya ditemui Sukriya ketika melakukan kunjungan ke Taghor International public School.

Di sekolah tersebut, para siswa tidak menggunakan buku terbitan NCERT untuk siswa tingkat primary school. Hanya saja mereka menggunakan buku terbitan NCERT pada saat para siswa duduk di tingkat secondary school, sebagai bahan persiapan mengikuti mengikuti ujian nasional yang diadakan pada kelas 12. Soal dalam ujian ini didasarkan pada kurikulum, silabus dan buku teks yang dibuat oleh NCERT.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, kita bisa melihat bahwa India mempunyai sistem yang cukup terorganisir dan patut ditiru Indonesia dalam proses penerbitan dan pendistribusian buku murah dan berkualitas. Dengannya diharapkan kualitas pendidikan Indonesia bisa semakin lebih baik. (red)

 

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Meraih Sarjana dari Ilmu Hubungan Internasional UGM dan M.A Political Science, Jamia Millia Islamia dan M.A International Relations, Annamalai University, India. Sedang menempuh PhD Political Science di Internasional Islamic University of Malaysia. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response