Saling Mengunjungi Karena Allah

Sekarang ini kita hidup di era modern. Komunikasi antara satu dengan lainnya dapat dilakukan dengan mudah. Dengan keluarga, saudara atau teman jika punya satu keperluan maka kita bisa tinggal telepon, sms, kirim wa, atau menggunakan berbagai media lainnya.

Namun berbagai fasilitas tadi terkadang tidak berjalan seiring dengan intensitas komunikasi yang kita lakukan secara fisik. Banyak orang yang dengan gampang mengirimkan symbol senyum kepada saudaranya melalui wa, tetapi jarang tersenyum ketika berada di dunia nyata.

Banyak di antara kita yang dengan gampang sharing atau diskusi dengan saudara lainnya melalui berbagai media social, tetapi secara fisik interaksi kita tidak sejalan. Bahkan ada di antara kita yang sudah bertahun-tahun kenal antara satu dengan lainnya, tetapi belum pernah sekali pun berkunjung ke rumah saudaranya yang lain.

Padahal salah satu adab yang dituntunkan oleh Islam dalam membangun persaudaraan adalah dengan saling mengunjungi antara satu dengan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar ikatan persaudaraan tadi menjadi semakin kuat.

Selain itu, dengan saling mengunjungi tadi maka keberkahan dalam hidup kita pun akan bertambah. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا زار رجل رجلا فِي الله إِلَّا ناداه ملك من خَلفه طبت وَطَابَتْ لَك الْجنَّة

Tidaklah seseorang mengunjungi saudaranya karena Allah kecuali malaikat mendoakan dari belakangnya, semoga keberuntungan dan keberuntungan bagimu dengan surga (HR. Ibnu ‘Aadi)

Dalam hadits yang lain dengan makna serupa, Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu juga menceritakan bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَن رجلا زار أَخا لَهُ فِي الله فأرصد الله لَهُ ملكا فَقَالَ: أَيْن تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيد أَن أَزور أخي فلَانا، فَقَالَ: لحَاجَة لَك عِنْده؟ قَالَ: لَا، قَالَ: لقرابة بَيْنك وَبَينه؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فبنعمة لَهُ عنْدك؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَبِمَ؟ قَالَ: أحبه فِي الله قَالَ: فَإِن الله أَرْسلنِي إِلَيْك يُخْبِرك بِأَنَّهُ يحبك لحبك إِيَّاه وَقد أوجب لَك الْجنَّة

Sesungguhnya seseorang mengunjungi saudaranya di jalan Allah, kemudian Allah mengutus malaikat untuk mengikutinya, dan berkata kemana engkau hendak pergi?. Ia mengatakan, aku ingin mengunjungi saudaraku si fulan. Malaikat bertanya, apakah engkau punya hajat padanya?. Ia mengatakan tidak. Malaikat berkata, apakah engkau dan dia punya hubungan kekerabatan?. Ia juga mengatakan tidak. Malaikat bertanya, apakah engkau mendapatkan sesuatu darinya?. Ia juga mengatakan tidak. Maka malaikat bertanya, terus mengapa?. Ia mengjawab, aku mencintainya karena Allah. Malaikat mengatakan, sesungguhnya Allah telah mengutusku kepadamu untuk mengabarkan padamu bahwa sesungguhnya Allah telah mencintaimu karena kecintaanmu pada saudaramu, dan telah disiapkan untukmu surga (HR. Muslim)

Subhanallah, ternyata mengunjungi saudara kita karena Allah mempunyai keutamaan yang sangat banyak. Tentu sebagaimana dalam hadits ini, tujuan kita melakukan kunjungan tadi bukan hanya karena sekedar urusan duniawi.

Demikian juga dengan orang yang kita kunjungi tadi bukan sekedar karena mereka masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan kita sebagaimana yang umum terjadi di tengah masyarakat kita sekarang. Dalam Islam hati-hati orang beriman tadi diikatkan oleh Allah ta’ala dengan ikatan yang kuat karena hati mereka yang sama-sama mencintai Allah ta’ala.

Di antara ulama menyebutkan bahwa sesungguhnya perasaan saling mencintai karena Allah ibarat sebatang pohon yang tumbuh dan menjulang tinggi kelangit. Namun tidaklah persaudaraan ini akan tumbuhnya kecuali pada mereka yang bersih hatinya, punya husnudhon terhadap saudaranya.

Orang-orang yang seperti ini niscaya akan Allah karuniakan keinginan dalam hati mereka untuk saling mengunjungi satu dengan lainnya dalam memberbaiki muamalah dengan saudaranya. Inilah yang digambarkan sebagai cabang dari rasa cinta tadi, yang nantinya insyaAllah akan berbuah surga.

Lebih lanjut digambarkan bahwa mereka yang sudah kuat rasa cintanya kepada saudaranya karena Allah tadi, apalagi sudah mulai dengan saling mengunjungi antara satu dengan lainnya, maka kebahagiaan demi kebahagiaan sebagai bagian dari manisnya iman akan mulai mereka rasakan.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ : أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga golongan yang siapa saya menemukan dalam dirinya akan merasakan manisnya keimanan. Sesorang yang mencintai Allah dan Rasul melebihi kecintaannya pada selain keduanya. Seseorang yang mencintai saudaranya yang tidaklah kecintaan itu kecuali karena Allah. Dan seseorang yang membenci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka (HR.Bukhari Muslim)

Kita berdoa kepada Allah ta’ala semoga dikaruniakan saudara-saudara yang saling mencintai karena Allah dan dimudahkan untuk menjaga salah satu sunnah Rasul, yaitu saling mengunjungi karena Allah ta’ala. Aamin.

 

Malang, 10 Februari 2016

Akhukum Fillah, Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Gonda Yumitro

Pernah belajar di Hubungan Internasional UGM dan Political Science, Jamia Millia Islamia dan International Relations, Annamalai University, India. Belajar agama dari beberapa ustadz ketika sedang studi di Yogyakarta, Malang dan India. Sekarang berprofesi sebagai dosen di prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Leave a Response